sungaibersih2020

Sungaiku Bersih Sungaiku Jernih

Serba – Serbi

leave a comment »

1951

Pemandangan Sampan dijemur di Sungai Cisadane 1951

Pemandangan di Sungai Cisadane Serpong, tampak sampan-sampan sedang dijemur, 1951.

Pemandangan di Sungai Cisadane Serpong, tampak sampan-sampan sedang dijemur, 1951.

APRIL 2005

DEWAN KESENIAN TANGERANG: ANUGRAH CISADANE; LOMBA MENULIS PUISI TENTANG SUNGAI

07 April 2005 – 23:12 (Diposting oleh: Rumah Dunia)

Untuk menyongsong Festival Cisadane 2005 yang akan diselenggarakan di Sungai Cisadane, Kota Tangerang, Banten 11 Juni 2005, Komite Sastra Dewan Kesenian Tangerang (DKT) menyelenggarakan SAYEMBARA MENULIS PUISI TENTANG SUNGAI.

Ini merupakan satu bentuk kepedulian Komite Sastra DKT terhadap pentingnya lingkungan hidup, khususnya sungai, sekaligus ajakan kepada para penulis puisi di mana saja, terutama Indonesia, untuk menularkan kesadaran dan kepedulian untuk menjaga, memelihara, dan melestarikan lingkungan hidup yang sehat, khususnya sungai. Kesadaran dan kepedulian tersebut penting karena salah satu sungai besar di Pulai Jawa, yakni Sungai Cisadane.

Sayangnya sekarang kekayaan itu tak mendapat perlakukan yang semestinya. Banyak sungai di negeri ini sekarang cenderung hanya berfungsi sebagai tempat pembuangan kotoran, baik kotoran industri maupun kotoran rumah tangga, termasuk individu manusianya. Banyak sungai telah kehilangan fungsi sosiolois, ekonomis, atau bahkan filosofisnya.

PERSYARATAN

  1. Sayembara ini terbuka untuk umum di mana saja secara perorangan
  2. Tema: sungai, terutama Sungai Cisadane
  3. Puisi yang ikut disayembarakan benar karya sendiri
  4. Puisi ditulis dalam bahasa Indonesia dengan tidak menutup kemungkinan pemanfaatan bahasa daerah atau bahasa asing selama diberi penjelasan dibagian bawah puisi
  5. Panjang setiap puisi maksimal tiga halaman kuarto (A4)
  6. Puisi diketik dengan menggunakan komputer dengan jenis huruf Time New Roman ukuran 12, dan spasi 1,5 atau dengan menggunakan mesin tik manual dengan spasi 1,5
  7. Setiap peserta paling banyak mengirimkan dua puisi
  8. Setiap puisi dikirim dalam rangkap empat ke Panitia Sayembara menulis puisi Anugerah Cisadane , di Jalan Sekneg 46 Kebon Nanas, Tangerang Banten15 143, dengan dilampiri data diri dan judul puisi yang ikut disayembarakan
  9. Puisi paling telat diterima panitia pada 15 Mei 2005 (bukan stempel pos)

KETENTUAN LAIN

  1. Sayembara ini akan dijuurii oleh Ahmadun Yosi Herfanda, Iwan Gunadi, dan Zen hae dan keputusan dewan juri tak dapat diganggu gugat
  2. Sayembara ini akan memilih tiga pemenang dan tujuh nominator
    Pemenang I menerima uang tunai Rp 2 juta dan Anugerah Cisadane
    Pemenang II menerima uang tunai Rp 1 juta dan sertifikat
    Pemenang III menerima uang tunai Rp500.000,- dan sertifikat
    Tujuh nominator akan menerima transportasi dan sertifikat
  3. Hadiah yang diterima pemenang dan nominator sudah termasuk royalti untuk kemungjinan penerbitannya oleh panitia atau DKT
  4. Sepuluh nama nominator akan diumumkan melalui media cetak atau disurati ke alamat masing-masing.sedangkan tiga nama pemenang akan diumumkan sebelum acara pembacaan puisi-puisi pemenang dan nominator pada Festival Cisadane 2005 di Tangerang
  5. Pemengang dan nominator akan diundang untuk membacakan puisi yang jadi pemenang atau nominator pada Festival Cisadane 2005
  6. Akomodarsi pemenang dan nominator selama mengikuti Festival Cisadane 2005 menjadi tanggungan panitia, sedangkan biaya transpotasi menuju tempat penyelenggaraan Festival Cisadane 2005 menjadi tanggungan pemenang atau nominator

PANITIA SAYEMBARA MENULIS PUISI ANUGERAH CISADANE

KETUA KOMITE SASTRA DEWAN KESENIAN TANGERANG:
IWAN GUNADI (08128502976)

KETUA DKT:
WOWOK HESTI PRABOWO, (0817723192).

Sumber: http://www.rumahdunia.net/wmview.php?ArtID=318

JULI 2007

Andi Surya Tebar 900.999 Benih Ikan di Ciliwung dan Cisadane

Jumat, 27 Juli 2007

…..Ketika kita berbicara tentang pelestarian lingkungan hidup, maka saat ini tidak bisa lagi dilakukan secara top-down, tetapi harus diawali dari masyarakat atau bottm-up. Kalau tidak ada keterlibatan dan kesadaran masyarakat, upaya pelestarian lingkungan yang belakangan ini ramai digemborkan berbafai pihak, hanya akan menjadi slogan semata. Demikian dikatakan Andi Surya Wijaya kepada BN pada saat lelaki yang mempunyai andil besar di dunia pendidikan ini ternyata memiliki kepedulian yang cukup tinggi terhadap kelestarian lingkungan dengan menebar benih ikan di sungai Cisadane dan Ciliwung Jumat (29/7)

Menurut Andi Surya, aksi penebaran benih ikan tersebut merupakan salah satu upaya untuk melestarikan dan memperkaya habitat ikan di perairan bebas, “Coba kita lihat, betapa kotornya sungai Cisadane dan Ciliwung, ini menandakan kalau pencemaran dikedua sungai itu sudah cukup tinggi. Kalau sudah sudah begini siapa yang bertanggung jawab?” kata andi sambil menunjuk kearah air sungai yang pagi itu memang tampak kotor.

Andi Surya memandang, penyebab utama pencemaran dikedua sungai tersebut masih berasal dari limbah rumah tangga dan pabrik. Oleh karena itu ia menghibau kepada masyarakat kota Bogor terutama masyarakat yang tingggal disekitar sungai supaya tidak membuang sampah ke sungai.”melihat kondisi air yang sangat kotor…jangan-jangan benih ikan yang saya tebar ini langsung mati” keluh Andi

dalam Aksinya tersebut Andi surya didampingi oleh PC-GPK, GP Ansor, Kosgoro, TNI, HMI cabang Kota Bogor, Pancas dan Kirana. Sedangkan ikan yang ditebar oleh Andi sebanyak 900.999 sembilan ratus ribu sembilan ratus sembilan ekor, semuanya jenis ikan mas

Yang menarik ketika BN bertanya kenapa benih ikan yang di tebar itu berjumlah ganjil?. Maka andi menjawab “seharusnya genap 1 juta ekor, sementara sisanya yang satu adalah rasa kepedulian kita terhadap kelestarian lingkungan.” Katanya serius (End’s)

Sumber: http://www.kotabogor.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=3552 

AGUSTUS 2007

Belajar Arung Jeram Cisadane-part 2
Posted by handri on August 15th, 2007

Sungai Surut Bukan Berarti Semangat Ikut Surut

Tahap 1 BKP 07 sudah berakhir ditandai dengan pengumuman kelulusan 71 calon anggota mapala UI. Tapi tahap 2 masih menanti di depan mata setiap caang, dimulai dengan peminatan untuk masuk ke divisi yang mereka sukai. Setelah semua caang telah masuk ke divisi yang ada, perjalanan tiap divisi pun dimulai. Kali ini, divisi arung jeram melakukan perjalanan ke sungai Cisadane, Jawa Barat. Dari jumlah 22 caang divisi arung jeram, hanya 20 orang yang mengikuti perjalanan kali ini.

Persiapan untuk perjalanan ini sudah dilakukan kurang lebih dua minggu sebelumnya, termasuk latihan di danau UI yang berisi beberapa materi seperti materi dayung, berenang, dan juga materi rescue. Setelah persiapan dilakukan, tepatnya tanggal 24-27 Juli 2007, para caang dengan ditemani enam mentor kemudian berangkat ke sungai Cisadane untuk melakukan pengarungan pertama kalinya di tahap 2 BKP 07 ini.

Ternyata sesampainya di basecamp, para caang disambut oleh keadaan sungai yang sangat surut. Sebelumnya memang telah diketahui bahwa debit air sungai Cisadane sedang mengalami penurunan, namun ternyata penurunan debit air yang terjadi lebih signifikan dari yang dibayangkan. Akan tetapi, pembelajaran tidak mengenal surutnya air sungai. Pengarungan pun tetap dilakukan di sungai Cisadane.

Pengarungan dilakukan selama dua hari dengan menggunakan tiga perahu. Dalam satu hari dilakukan dua kali pengarungan yaitu trip pagi dan siang. Keadaan sungai yang surut menyebabkan setiap perahu hanya diisi dua sampai tiga caang dengan didampingi satu hingga dua mentor.

Pengarungan di sungai yang surut terkadang dirasa kurang nyaman dan kurang mengasyikkan, karena sedikit saja kita salah memilih jalur maka perahu akan tersangkut di batu dan menyebabkan harus turun dari perahu lalu melakukan sedikit portaging agar perahu bisa berjalan kembali.

Walau keadaan yang kurang mengenakkan tersebut harus dialami, tapi hal tersebut tidak menutup para caang untuk belajar lebih banyak tentang arung jeram. Materi-materi yang menjadi target dari perjalanan latihan kali ini, tetap bisa disampaikan dan semuanya tetap berjalan dengan baik. Memang, sungai yang surut tidak berarti membuat semangat belajar menjadi ikut surut.

Sumber: http://www.mapalaui.info/2007/08/15/belajar-arung-jeram-cisadane-part-2/.

NOVEMBER 2007

TRADISI BUDDHIST-TIONGHOA: Upacara Fang Sheng di Tengah Sungai Cisadane

Kompas, Rabu, 7 November 2007, halaman 39

Menyelamatkan hewan dengan melepaskan mereka ke alam bebas diyakini masyarakat Buddhis- Tionghoa mendatangkan karma baik sekaligus melakukan konservasi atau menjaga keseimbangan lingkungan hidup.

Kepercayaan itu diwujudkan dalam upacara Fang Sheng dengan melepaskan ribuan jenis makhluk hidup, seperti burung, kura-kura, bulus, belut, remis, ikan lele, dan ikan emas, yang dilakukan Sabtu (3/11) di Kelenteng Boen San Bio (Mandarin: Wen Shan Miao) di tengah Sungai Cisadane di Kota Tangerang, Provinsi Banten.

Perlahan-lahan, para biku yang menaiki sampan di tengah Sungai Cisadane membaca doa seraya mengangkat belasan kura-kura dari dalam ember untuk dilepas ke sungai. Demikian juga ratusan belut, ikan lele, bulus, dan terakhir ember berisi delapan ikan emas.

Semua dilakukan dengan cepat, tetapi penuh kehati-hatian agar hewan yang dilepas tidak terluka atau mati, agar hewan itu dapat hidup bebas di alam berdampingan dengan manusia serta makhluk lain sebagai bagian kehidupan serta keseimbangan semesta alam.

Umat peserta upacara juga turut melepaskan makhluk hidup dari atas sampan-sampan sewaan yang dikayuh para tukang dayung orang Betawi yang hidup berdampingan dengan warga Tionghoa Tangerang.

Sebelumnya, ratusan burung pipit dilepaskan di pelataran Kelenteng Boen San Bio. Upacara melepaskan makhluk hidup memang biasa dilakukan di darat dan air.

“Kita berusaha memberikan cinta kasih kepada makhluk yang hidupnya terancam. Buddha mengajarkan memelihara alam dan lingkungan. Kita juga tidak boleh membuang kotoran atau buang air, bahkan meludah. Upacara ini dilakukan bersamaan dengan upacara Kathina di mana umat menyampaikan rasa terima kasih kepada Sangha Biku,” kata Biku Cittanando yang memimpin upacara di tengah Sungai Cisadane.

Bahkan, semut, cacing, dan nyamuk pun tidak boleh dibunuh demi menunjukkan cinta kasih kepada sesama makhluk. Cinta dan kasih sayang tidak hanya diekspresikan kepada sesama manusia.

Sekretaris Bun San Bio Rika Lenawaty (22) menambahkan, cinta kasih kepada sesama sekaligus menjaga lingkungan hidup adalah inti dari upacara Fang Sheng. “Umat yang melakukan Fang Sheng memiliki sejumlah motif, yakni melepaskan diri dari sengsara saat reinkarnasi, untuk membebaskan makhluk lain dari kesengsaraan, dan semakin melapangkan jalan ke nirwana. Kita tidak boleh merekayasa dengan membeli hewan yang akan dilepas sejak jauh hari. Menjelang upacara baru kita mencari atau membeli hewan untuk dilepaskan ke alam agar mereka tidak berlama-lama dikurung manusia,” kata Rika.

Para pedagang pun memanfaatkan peluang dari adanya tradisi melepas makhluk hidup. Tidak hanya di Tangerang, di sekitar kuil, seperti di Petak Sembilan, Jakarta, dan Pasar Bogor di Kota Bogor, terdapat penjual burung pipit yang kerap dibeli oleh umat yang beribadah di kelenteng untuk dilepaskan.

Budiman, aktivis Buddhis, mengatakan, pihaknya menyayangkan adanya pihak yang sengaja menangkap hewan yang telah dilepas. “Apalagi kalau motifnya untuk dijual kembali. Perbuatan itu menodai upacara Fang Sheng,” katanya.

Berawal dari Tiongkok

Upacara Fang Sheng diyakini sudah berlangsung ribuan tahun dimulai di Tiongkok sebagai bagian tradisi Tionghoa yang diterima umat Buddha karena seiring dengan ajaran cinta kasih kepada sesama. Tradisi Fang Sheng unik karena tidak ditemukan pada masyarakat penganut Buddha di Thailand, Myanmar, Laos, dan Kamboja.

“Ini tradisi unik dari masyarakat Buddhis Tionghoa,” kata Romo Soewarto, pembimbing agama Buddha di Boen San Bio. Tradisi itu selaras dengan kepercayaan agar semua makhluk di alam semesta hidup berbahagia (om mani padme hum).

Melepaskan makhluk hidup dipercaya dapat dilakukan sepanjang waktu oleh seorang Buddhis sebagai bentuk kebajikan. Pada kesempatan tertentu, seperti upacara Kathina, Fang Sheng melengkapi ibadah yang sederhana tetapi penuh makna, yakni menjaga keseimbangan alam di tengah kerusakan lingkungan yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya. (Iwan Santosa/ Indira Permanasari)

AGUSTUS 2008

Semarak Festival Cisadane 2008

Jumat, 1 Agustus 2008 15:2:12 WIB

Kota Tangerang, SerpongKita.com- Festival Cisadane, ajang budaya tahunan di Kota Tangerang dibuka Wakil Walikota Tangerang Dedy Syafei pada hari Kamis (31/7) kemarin sore. Dedy mengatakan tahun depan acara itu digarap lebih lengkap dan berskala Nasional. “Mungkin bisa menjadi Festival Cisadane Visit Year seperti di Palembang,” kata Dedy. Ia berharap ajang budaya itu akan menarik wisatawan dari luar daerah. Festival Cisadane sendiri telah diadakan sejak tahun 1993.

Seperti tahun-tahun sebelumnya pagelaran pesta rakyat itu dilakukan di tepian Sungai Cisadane, jalan Benteng Jaya, Kota Tangerang. Kegiatan ini berlangsung sampai 3 Agustus mendatang.

Sebagaimana tradisi tahun-tahun sebelumnya, dalam festival budaya ini diadakan perlombaan Perahu Naga dan Perahu Kole-Kole yang diikuti pedayung-pedayung se-Jabodetabek dan dari sejumlah kota besar di Indonesia. Perlombaan perahu naga adalah acara yang paling meriah. Kegiatan ini selalu dinanti para warga yang berjajar di tepian Sungai Cisadane. Acara lainnya adalah karnaval dan pameran budaya.(che)

Ratusan Warga Tangerang Keramas Bareng di Sungai Cisadane

Minggu, 31 Agustus 2008 20:22

Kapanlagi.com – Sebanyak 500 orang warga Kelurahan Babakan Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang, Banten melakukan keramas bersama di bantaran Sungai Cisadane, sebagai tanda menyambut bulan Ramadhan 1429 Hijriyah.

“Warga sangat antusias menyambut bulan puasa sehingga banyak yang tertarik untuk keramas bersama,” kata Ketua pelaksana keramas bersama sambut bulan Ramadhan, Nurhasan Idris di Tangerang, Sabtu sore.

Warga yang terlibat kegiatan keramas bersama terdiri dari remaja pria dan wanita, orang dewasa, para warga yang berusia lebih dari 45 tahun.

Sebelum kegiatan keramas bersama dilakukan, panitia membagikan kebutuhan bahan pokok kepada 1.000 kepala keluarga yang termasuk warga tidak mampu.

Setelah pembagian bahan pokok, ratusan warga yang terdiri dari berbagai generasi beranjak menuju bantaran sungai terbesar di Tangerang tersebut.

Warga pun berebut gayung untuk membasahi kepala dan seluruh badannya dengan air yang berasal dari Sungai Cisadane dan mencuci rambutnya dengan shampo yang disediakan panitia pelaksana.

Kemudian ratusan warga itu, berenang di sekitar pinggiran sungai yang ke dalamannya hanya mencapai 30 hingga 50 sentimeter dan membasahi seluruh tubuhnya.

Nurhasan Idris mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan untuk menjaga tradisi orang tua saat menyambut bulan Ramadhan, namun keramas bersama ini tidak ada kaitannya dengan aktifitas yang bersifat klenik.

“Keramas bersama hanya sebagai simbol kemeriahan warga Tangerang dalam menyambut bulan suci Ramadhan,” kata Nurhasan.

Nurhasan menjelaskan, kegiatan keramas bersama warga Tangerang mulai digelar kembali sejak tahun 2004 lalu setelah berhenti selama beberapa tahun.

Dalam kegiatan tersebut, panitia menyiapkan dua unit perahu karet dan 20 petugas yang mengamankan situasi di sekitar Sungai Cisadane agar tidak menelan korban tenggelam. (*/erl)

Sumber: http://www.kapanlagi.com/h/0000248067.html

Written by airsungaikelassatu2020

November 16, 2008 at 12:56 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: