sungaibersih2020

Sungaiku Bersih Sungaiku Jernih

PDAM Tirta Kerta Raharja

leave a comment »

MEI 2008

Soal Air, DKI dan Tangerang Bersikukuh, Dirjen Memberi Batas Waktu Sebulan Harus Capai Kesepakatan

Sabtu, 27 Mei 2006, 06:08

Soal harga air, sejak 4 Mei 2006 PDAM DKI Jakarta dan PDAM Kabupaten Tangerang bersikukuh dengan pendirian masing-masing. PDAM DKI menghendaki harga air curah dari Tangerang Rp 1.550 per meter kubik, sedangkan PDAM Tangerang tetap meminta Rp 1.650 per meter kubik.

“Kedua-duanya sampai sekarang masih tetap bertahan. Badan Regulator akan meminta Gubernur DKI Jakarta supaya bisa menaikkan harga belinya,” kata Ketua Badan Regulator Pelayanan Air Minum DKI Achmad Lanti, Jumat (26/5).

Pada Rabu lalu, lanjut Lanti, Menteri Pekerjaan Umum melalui Direktur Jenderal (Dirjen) Cipta Karya berinisiatif mempertemukan kedua pihak, antara PDAM DKI dan Tangerang, untuk mencapai kesepakatan harga air curah tersebut. Pertemuan itu juga harus dihadiri dua operator air bersih DKI, yaitu PT Pam Lyonnaise Jaya (Palyja) dan PT Thames Pam Jaya (TPJ).

Palyja bertanggung jawab menyalurkan air bersih ke Jakarta di sebelah barat Sungai Ciliwung, sedangkan TPJ bertanggung jawab dalam penyaluran air bersih di wilayah timur Sungai Ciliwung. “Dirjen memberi batas waktu sampai sebulan supaya PDAM DKI dan Tangerang menyepakati harga,” ungkap Lanti.

Akibat ketidaksepakatan harga air curah dari Tangerang, penyaluran air bersih terganggu di wilayah penyaluran Palyja, yaitu di sebagian Jakarta Selatan dan Jakarta Barat.

Hampir tiga minggu lebih suplai air bersih dari Tangerang mengalami pengurangan 28 persen atau sekitar 750 liter per detik. Pengurangan air itu berkait belum adanya kecocokan harga.

Direktur Utama PDAM DKI Haryadi Priyohutomo menyampaikan kenaikan penawaran harga dari Rp 1.345 menjadi Rp 1.550 per meter kubik. Namun, PDAM Tangerang meminta harga Rp 1.650 per meter kubik.

“Alasan PDAM Tangerang adalah batas harga penjualan untuk balik modal mencapai Rp 1.650 per meter kubik. Penjualan di Tangerang sendiri sekarang Rp 1.850 per meter kubik, sedangkan penjualan di wilayah Bumi Serpong Damai mencapai Rp 2.250 per meter kubik,” kata Lanti.

Menurut Manajer Relasi Publik Palyja Ratna Indrayani, sehari setelah pertemuan yang difasilitasi Dirjen Cipta Karya itu, PDAM Tangerang memulihkan penyaluran kapasitas air curah ke DKI. “Sejak Kamis sekitar pukul 07.00 PDAM memulihkan penyaluran air curah 2.800 liter per detik,” kata Ratna. (NAW)

Sumber: http://www2.kompas.com/metro/news/0605/27/060820.htm

Tangerang terbuka untuk privatisasi perusahaan air minum

Tangerang, 28 Mei, 2008 – Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang membolehkan para investor swasta untuk memasok air minum/air ledeng di beberapa daerah karena perusahaan air minum daerah Tirta Kerta Raharja (TKR) tidak sanggup memenuhi permintaan keseluruhan masyarakat. Multa Fidrus melaporkan di harian The Jakarta Post (05/28/2008).

Sekretaris Pemda Kabupaten Nanang Komara menyatakan para investor swasta dapat memasok air bersih ke beberapa daerah kecamatan dibagian Barat dari Kabupaten Tangerang seperti Cikupa, Pasar Kemis, Sepatan, Jayanti dan Balaraja.

“Operator-operator swasta tidak akan mengganggu pasar TKR sama sekali,” kata Nanang pada hari Senin.

TKR pada saat ini memasok 950 liter air bersih per detik kepada 90,000 pelanggan, 60,000 diantaranya tinggal di Kotamadya Tangerang.

Sebanyak 30,000 pelanggan lainnya tinggal di Kabupaten.

Kepala Dinas Pengaturan Tata Lingkungan Kabupaten Didin Syamsudin menyatakan Tangerang, sebagai kabupaten besar dengan 36 kecamatan, memerlukan investor-investor swasta dalam mengatur pembagian air bersih.

“Dengan keterbatasan produksi dan pelayanannya, TKR belum mencakup semua kecamatan-kecamatan di kabupaten ini,” katanya.

Dikatakannya investor-investor swasta yang tertarik dalam mengelola bisnis air bersih di kabupaten, tidak akan mengalami kesulitan dalam mendapatkan sumber-sumber air karena mereka dapat memanfaatkan Sungai Cisadane dan banyak situ-situ (danau-danau) kecil.

Juru bicara TKR Anda Suhanda mangatakan perusahaannya menyetujui rencana pemda karena perusahaan belum mampu melayani kebutuhan warga-warga kabupaten.

“Kami mempunyai 60,000 penduduk yang masuk dalam daftar tunggu untuk menjadi pelanggan air bersih kami. Kami tidak mampu memenuhi permintaan mereka karena kami juga mempunyai beberapa kendala dalam hal fasilitas, anggaran dan ketersediaan air dari sungai Cisadane,” katanya.

Anda mengatakan investor-investor swasta dapat membantu kabupaten memenuhi target pemerintah pusat untuk memberikan air bersih kepada 80 persen dari jumlah populasi di setiap kabupaten/kotamadya pada tahun 2015.

Wakil Jurubicara Dewan Kabupaten Tangerang Arief Wahyudi mangatakan dewan mendukung rencana tersebut tetapi masih membutuhkan beberapa waktu untuk merealisasikannya.

“Kami masih harus membahasnya dengan ahli-ahli hukum dan mengadakan dialog dengan Departemen Keuangan untuk memperkirakan rencana investasinya. Kami juga membutuhkan masukan dari masyarakat,” katanya.

Sumber: http://www.bkpm.go.id/id/node/2138

Sejarah Instalasi

Tahap pertama dengan kapasitas 500 l/dtk dirancang oleh James M. Montgomery Consulting Engineers, Inc. USA serta dibangun oleh PT Multi Structure (pekerjaan sipil) dan Biwater dari Inggris (Mekanikal & Elektrikal) yang berasosiasi dengan PT Mitra Napa.

Instalasi selesai dibangun pada tahun 1984. Proyek ini didanai oleh World Bank.

Pada tahun 1996 sebuah instalasi paket baja berkapasitas 80 l/dtk dibangun dan dikerjakan oleh PT Maswandi, dibiayai oleh Departemen Pekerjaan Umum.

Pembangunan tahap kedua dari instalasi – kapasitas 500 l/dtk – dirancang oleh PT. Ceria Konsulindo, dibangun oleh PT. Nindya Karya dan PT. Cahaya Murni Dirganusa untuk pekerjaan sipil, adapun peralatan mekanikal dan elektrikal di supply oleh Metax Engineering PTE Ltd dari Singapore. Proyek ini didanai oleh Asian Development Bank, selesai tahun 1998.

Sejarah PDAM Tirta Kerta Raharja, Kabupaten Tangerang

Pada tahun 1923, pemerintah Hindia Belanda membangun sistem penyediaan air minum di Kota Tangerang dengan kapasitas 6 liter/detik. Sistem ini dikelola oleh sebuah badan yang bernama “Water Leiding Bedrijf”.

Pada tahun 1943, saat pembentukan Kabupaten Tangerang, pengelolaan sistem penyediaan air minum dialihkan ke Bupati Tangerang dan badan pengelola “Water Leiding Bedrijf” berada di bawah Dinas Pekerjaan Umum.

Tahun 1945, setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia , nama “Water Leiding Bedrijf” diubah menjadi “Perusahaan Air Minum Kabupaten Tangerang”.

30 tahun kemudian, pengelolaan penyediaan air minum menjadi tanggung jawab dari Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Daerah Tingkat II Tangerang (“PDAM”), sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Daaerah Tingkat II Tangerang No. 10/HUK/1976 tanggal 13 April 1976 . Perda ini dilegalisasi oleh Gubernur Propinsi Jawa Barat sesuai dengan Keputusan Gubernur No. 347/HK.011/SK/1976 tanggal 1 Agustus 1976.

Tahun 1999, melalui Keputusan No. 001.690/SK.108-HUK/1999 tanggal 27 Mei 1999, yang dikeluarkan oleh Bupati Tangerang, nama dan logo PDAM dilegalisasi. Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Daerah Tingkat II Tangerang menjadi Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Kerta Raharja Kabupaten Tangerang.

Saat ini, kapasitas produksi air minum PDAM adalah sekitar 5.000 l/dtk, melayani sekitar 100.000 pelanggan domestik dan bisnis di wilayah Tangerang dan juga menjual air curah sekitar 2.800 l/dtk ke kota Jakarta . Karyawan PDAM berjumlah sekitar 500 orang.

Written by airsungaikelassatu2020

November 16, 2008 at 12:43 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: