sungaibersih2020

Sungaiku Bersih Sungaiku Jernih

2008 – Status

leave a comment »

JANUARI 2008

Kondisi Sungai Cisadane Parah

Jum’at, 18 Januari 2008 10:28:46 WIB

Serpong, SerpongKita.com- Kementerian Lingkungan Hidup bersama Pemprov Banten melakukan sidak kondisi sungai Ciasadane, Kamis (17/1). Sidak dimulai dari PT Indah Kiat, Alam Sutera, Serpong.

Kondisi Cisadane memprihatinkan. Kualitas dan pendakalan yang terjadi di Daerah aliran Sungai (DAS) Cisadane semakin parah.

“Sungai Cisadane adalah yang paling parah,” ungkap Atut usai melakukan sidak bersama.

Pencemaran tersebut disebabkan dari limbah industri besar, industri rumah tanggan dan penutupan lahan.

Menteri Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar mengatakan pencemaran tersebut terjadi dari hulu sampai hilir.

Sedimentasi dan pendangkalan serta pencemaran industri telah merusak dan mencemari sungai di kawasan ini.

Proses rehabilitasi untuk memperbaikinya diperlukan waktu yang cukup lama 10-15 tahun. “Perlu waktu yang sangat lama untuk mengembalikan ke kondisi semula,” ujarnya

Sungai Cisadane di aliran hulu masih dalam kondisi masih bisa digunakan untuk perikanan.

Akan tetapi, kualitas air yang ada di DAS Cisadene sudah tergolong kualitas 2 dengan kadar limbah tinggi.

“KLH akan kerjasama dengan Departemen Kehutanan, Pertanian dan Pekerja Umum untuk melakukan perbaikan-perbaikan terhadap sungai di Indonesia,” jelasnya.

Dalam sidak tersebut Rahmat Witoelar yang juga ditemani Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah juga meninjau instalansi pembuangan limbah di PT Indah Kiat.

Rombongan dari KLH dan Pemprov Banten turun langsung ke sungai melakukan tinjauan di sepanjang Sungai Cisadane dengan menggunakan perahu karet.

Rombongan KLH dan Pemprov Banten saat meninjau kondisi sungai Cisadane

Saat melakukan peninjauan tersebut, Rachmat Witoelar mendapati PT Panca Usahatama Paramita, sebuah pabrik tissue sedang melakukan pembuangan limbah secara langsung ke Sungai Cisadane.

Menanggapi pelanggaran yang dilihatnya langsung itu, “Kami akan panggil dan lakukan penyelidikan,” pungkas Rachmat pendek. (dan)

Sumber: http://www.serpongkita.com/index.php?milih=a&ID=926

Cisadane Kian Tercemar

Limbah Industri di Hulu hingga Hilir Menjadi Penyebab Utama

Jumat, 18 Januari 2008

TANGERANG, KOMPAS – Pencemaran di Sungai Cisadane makin mengkhawatirkan. Limbah industri menjadi penyebab utama pencemaran di sungai sepanjang 140 kilometer yang mengalir dari Bogor hingga Tangerang. Selain itu, hutan di sekitar sungai yang berhulu di lima gunung itu tinggal 7,3 persen.

Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar mengungkapkan hal itu di sela-sela kunjungannya ke PT Indah Kiat di Serpong, Tangerang, Banten, Kamis (17/1). Rachmat bersama para deputinya melihat langsung pengolahan limbah pabrik kertas warna terbesar di dunia itu yang dinilai sangat baik.

Hadir, antara lain, Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah dan Komisaris Utama PT Indah Kiat G Sulistyanto.

Rachmat Witoelar bersama rombongan menyusuri Sungai Cisadane. Sedikitnya terdapat 16 industri di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cisadane yang disusuri. Dari inspeksi itu, Rachmat menemukan sebuah pabrik tisu PT PUP yang mencemari sungai. “Industri itu melemparkan limbah langsung ke sungai tanpa melalui pengolahan limbah. Semua parameter lingkungan tidak dipenuhi. Instalasi pengolahan air limbah belum ada. Pelanggaran atas lingkungan hidup akan dikenai sanksi tegas. Penanggung jawabnya adalah direksi,” ujar Rachmat.

Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah menambahkan, dari 140 kilometer panjang Sungai Cisadane, 79,6 km di antaranya masuk wilayah Banten. Atut berharap problem di hulu sungai, di Bogor, Jawa Barat, juga dipecahkan. “Percuma jika hulu sungai ini tidak bersih. Kami yang di hilir tetap kena dampaknya,” katanya.

Penyebab utama pencemaran adalah limbah industri yang berdiri di sepanjang DAS Cisadane mulai dari hulu, tengah, sampai hilir. Selain itu juga limbah domestik dari permukiman.

Sungai Cisadane berhulu di Gunung Gede, Pangrango, Salak, Kendeng, dan Awi Bengkok. Hutan di sekitar sungai ini, berdasarkan citra satelit tahun 2005, tinggal 7,3 persen. “Mungkin tahun ini jumlahnya makin menyusut. Kondisi ini membutuhkan perhatian serius,” kata Asisten Deputi Pengendalian Kerusakan Sungai dan Danau, Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Antung Dedy.

Kondisi air di hilir, di mana bahan bakunya digunakan untuk PAM Kabupaten Tangerang, juga tercemar golongan III. “Padahal, idealnya bahan baku air minum harus pada tingkat pencemaran golongan I. Ini sudah mengkhawatirkan,” ungkapnya.

Namun, Antung mengatakan, dibandingkan dengan Sungai Ciliwung, pencemaran di Sungai Cisadane masih lebih baik. “Pencemaran di Ciliwung sangat parah, apalagi yang masuk wilayah DKI Jakarta,” ungkapnya. (KSP)
Sumber: http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0801/18/metro/4173461.htm

DAS Cisadane Kritis, Menteri menemukan ada pabrik membuang limbah ke sungai tanpa diolah.

Thursday, 17 January 2008 – Republika –

TANGERANG — Upaya pemulihan daerah aliran sungai (DAS) Cisadane setidaknya memerlukan waktu 15-20 tahun. Menurut Menteri Negara Lingkungan Hidup, Rahmat Witoelar, kondisi itu terjadi lantaran DAS Cisadane telah mengalami kerusakan sistemik.

Kerusakan itu tidak hanya disebabkan oleh pencemaran lingkungan, namun dipicu pula pendangkalan akibat tidak berfungsinya fungsi tanah di sekitar DAS. ”Cisadane merupakan sungai yang berada dalam kondisi kritis,” kata Rahmat saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke PT Indah Kiat, Serpong, Kabupaten Tangerang sebagai salah satu industri yang berada di DAS Cisadane, Kamus (17/1).

Lamanya waktu pemulihan tersebut oleh buruknya perlakuan masyarakat terhadap sungai. Masyarakat yang memberi perlakuan buruk terhadap sungai terdiri dari, yaitu masyarakat umum dan masyarakat industri.

Dia menuding industri memiliki andil yang cukup tinggi dalam pencemaran Sungai Cisadane. Karena itu, setiap industri yang membuang limbah ke sungai perlu memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Limbah cair perlu diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke sungai.

Disebutkan, sungai kritis yang ada di Indonesia sudah berjumlah 62 sungai, sedangkan sungai dalam kondisi ‘koma’ sebanyak 37 sungai. Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) akan gencar melakukan spot check terhadap industri-industri yang berada di DAS Cisadane. ”Hal itu merupakan bentuk pengawasan agar industri tidak melakukan pelanggaran hukum.”

Pemulihan Sungai Cisadane tidak hanya harus dilakukan di bagian hilir saja, namun harus memperhatikan keadaan di bagian hulu. Sungai Cisadane berhulu di Gunung Gede, Pangrango, Salak, Kendeng, dan Awi Bengkok. ”Hutan yang ada di bagian hulu dalam kondisi yang mengkhawatirkan,” KLH akan bekerjasama dengan Departemen Kehutanan dan Departemen Pertanian untuk melakukan pemulihan Sungai Cisadane. ”Pemulihan tersebut memerlukan kerja sama yang sinergis antara berbagai instansi.”

Gubernur Provinsi Banten, Ratu Atut Chosiyah yang ikut dalam sidak KLH, mengatakan, Sungai Cisadane merupakan sumber daya air yang cukup potensil di Banten bahkan DKI Jakarta. ”Untuk menjaga Sumber daya Air itu, pemprov sudah membuat MoU dengan 16 industri yang ada di DAS Cisadane,” kata Atut. MoU itu mengatur program penilaian kinerja perusahaan dan pengawasan bahan beracun berbahaya (B3).

Sungai Cisadane memiliki panjang 140 kilometer. Sungai ini memanjang melewati empat kota dan kabupaten, yaitu Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kabupaten Tangerang, dan Kota Tangerang. Bagian Sungai Cisadane yang berada di Provinsi Banten sepanjang 79,6 kilometer, sedangkan yang berada di Kota Tangerang sepanjang 13,5 kilometer. Sungai Cisadane memiliki sembilan anak sungai.

Rahmat dan Atut melakukan penelusuran Sungai Cisadane menggunakan perahu karet. Dalam penelusuran tersebut, Rahmat menemukan sebuah pabrik yang membuang limbah cair tanpa diolah terlebih dahulu (direct discharge). Rombongan KLH mendatangi industri yang diketahui sebagai pabrik kertas tissue itu. ”Pemiliknya akan kami panggil untuk dimintai keterangan,” kata Rahmat.

Ditanya langkah konkrit untuk menangani Sungai Cisadane, Rahmat menjelaskan, pihaknya menitikberatkan pada dua masalah utama, yaitu pencemaran dan pendangkalan. Kasus pencemaran akan diatasi dengan penegakan hukum, dan masalah pendangkalan KLH dan pemerintah daerah akan mengupayakan pengerukan untuk mengurangi sedimentasi. ”Biaya pengerukan memang mahal, namun akan lebih mahal lagi jika Sungai Cisadane tidak berfungsi,” tandas Rahmat.

Sumber: http://m.infoanda.com/readnewstech.php

Menteri LH Nyatakan DAS Cisadane Rusak Parah

17/01/08 18:37

Tangerang (ANTARA News) – Menteri Negara Lingkungan Hidup (Meneg LH) Rachmat Witoelar menyatakan, Daerah Aliran Sungai (DAS) Cisadane yang memanjang dari hulu di Kabupaten Bogor, Jawa Barat hingga ke Kabupaten Tangerang, Banten dan Jakarta Barat, kondisinya sudah rusak parah seperti Bengawan Solo.

“Setelah kita menyelusuri Kali Cisadane, maka diketahui DAS telah rusak parah menyamai Bengawan Solo di Jawa Tengah dan dikhawatirkan berdampak terhadap banjir yang merugikan penduduk,” kata Rachmat Witoelar kepada ANTARA di Tangerang, Kamis.

Dia menyebutkan, kerusakan DAS Cisadane di wilayah Kabupaten dan Kota Tangerang karena kandungan limbah dari pabrik dan rumah tangga sudah diambang batas sehingga harus selalu diawasi terhadap sejumlah pabrik.

Meneg LH mengatakan masalah tersebut usai menelusuri secara mendadak ke DAS Cisadane menggunakan perahu karet di wilayah Kota dan Kabupaten Tangerang bersama Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah.

Tujuan penelusuran DAS Cisadane untuk mengetahui sejauhmana titik rawan dan kondisi sebenarnya tentang sungai terbesar di Banten itu serta bukan mencari “penyakit” atau kesalahan pengusaha yang membuang limbah pabrik.

Namun hakekat penelusuran sungai itu untuk mencari solusi yang tepat dalam penanganan sungai, apalagi dalam kondisi musim hujan dan berdampak terhadap banjir sehingga dapat merusak kehidupan serta lingkungan.

Ketika menelusuri sungai itu, Witoelar menemukan perusahaan PT Panca Usahatma Paramita yang berlokasi di Serpong, Kabupaten Tangerang, membuang limbah cair ke Sungai Cisadane tanpa terlebih dahulu memproses menggunakan bak penetral zat kimia berbahaya.

Pimpinan perusahaan pembuat kertas tisu itu sebelumnya telah diperingatkan agar mengoperasikan alat penetral limbah, tetapi mereka tetap membandel.

Selain itu, pada DAS Cisadane telah terjadi kerusakan akibat dihulu sungai terjadi penebangan hutan secara legal maupun ilegal sehingga menyebabkan hamparan air jika musim hujan.

Bila hutan ditebang secara resmi maupun tidak merupakan suatu kesalahan besar karena dapat merusak ekosistim dan berdampak setelah 10 hingga 15 tahun kedepan.

Kerusakan tersebut adalah tanggungjawab pengusaha dan kepala keluarga yang membuang limbah atau sampah ke sungai, bahkan diharapkan jangan saling melempar tanggungjawab atas kerusakan tersebut.

Bagi pihak yang merusak DAS dapat diajukan ke meja hijau sesuai UU No.23 Tahun 1997 tentang lingkungan hidup dan dikenakan sanksi perdana dan pidana.(*)

Sumber: http://www.antara.co.id/arc/2008/1/17/menteri-lh-nyatakan-das-cisadane-rusak-parah/

PENYEBAB BANJIR, Kondisi DAS Cisadane Rusak Parah

Jumat, 18 Januari 2008

TANGERANG (Suara Karya): Menteri Negara Lingkungan Hidup (Menneg LH) Rachmat Witoelar menyebutkan bahwa kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Cisadane rusak parah. Kondisi sungai yang mengalirkan air dari hulu di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, hingga ke muara di Kabupaten Tangerang, Banten, dan Jakarta Barat itu saat ini hampir sama dengan Sungai Bengawan Solo yang rusak parah.

“Setelah kita menyelusuri Kali Cisadane, diketahui bahwa DAS-nya telah rusak parah menyamai Bengawan Solo di Jawa Tengah. Ini dikhawatirkan berdampak terhadap banjir yang merugikan penduduk,” kata Rachmat Witoelar di Tangerang, Kamis.

Dia menyebutkan, kerusakan DAS Cisadane di wilayah Kabupaten dan Kota Tangerang terjadi karena kandungan limbah pabrik dan rumah tangga sudah diambang batas sehingga sejumlah pabrik harus selalu diawasi.

Menneg LH mengatakan masalah tersebut usai menelusuri secara mendadak ke DAS Cisadane menggunakan perahu karet di wilayah Kota dan Kabupaten Tangerang bersama Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah.

Tujuan penelusuran DAS Cisadane adalah untuk mengetahui sejauhmana titik rawan dan kondisi sebenarnya tentang sungai terbesar di Banten itu serta bukan mencari “penyakit” atau kesalahan pengusaha yang membuang limbah pabrik.

Namun, hakikat penelusuran sungai itu ialah untuk mencari solusi yang tepat dalam penanganan sungai, apalagi dalam kondisi musim hujan dan berdampak terhadap banjir, sehingga dapat merusak kehidupan serta lingkungan.

Ketika menelusuri sungai itu Witoelar menemukan perusahaan PT Panca Usahatama Paramita, yang berlokasi di Serpong, Kabupaten Tangerang, membuang limbah cair ke Sungai Cisadane tanpa terlebih dahulu memproses menggunakan bak penetral zat kimia berbahaya.

Pimpinan perusahaan pembuat kertas tisu itu sebelumnya telah diperingatkan agar mengoperasikan alat penetral limbah, tetapi mereka tetap membandel. (Ant/Dwi Putro AA)

Sumber: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=190752

Sejumlah Sungai Besar di Bogor Tercemar Zat Berbahaya
[Hallo Bogor]

Sejumlah Sungai Besar di Bogor Tercemar Zat Berbahaya

Bogor, Pelita

Enam daerah aliran sungai (DAS) di Bogor yang menjadi sumber mata air bagi sebagian masyarakat Bogor kini tercemar limbah. Bahkan beberapa sungai itu kini tidak memiliki mutu yang baik karena mengandung zat-zat berbahaya bagi manusia. Limbah tersebut berasal dari industri dan rumah tangga.

Hal tersebut diakui oleh Kepala Bidang Pengendalian Ruang dan Lingkungan Dinas Tata Ruang Kabupaten Bogor Erlina Permana. Menurutnya industri dan rumah tangga memang menyumbangkan limbah pada sungai-sungai tersebut. Enam sungai tersebut memang sudah tercemar limbah. Limbah yang berasal dari industri dan rumah tangga, terutama dari industri jelasnya, Kamis (7/8).

Padahal, lanjut Erlina, sungai merupakan salah satu sumber daya alam yang memiliki fungsi sebagai penyangga kehidupan, sungai-sungai itu umumnya digunakan selain untuk kebutuhan irigasi pertanian, juga menjadi sumber air baku untuk memenuhi kebutuhan air bersih penduduk perkotaan maupun industri.

Tercemarnya enam das tersebut menyebabkan rendahnya kelas mutu air sungai di Kabupaten Bogor. Perubahan tata guna lahan yang tidak memperhatikan aspek lingkungan serta sungai-sungai dijadikan tempat penerima air limbah kegiatan industri maupun jasa usaha maupun air limbah rumah tangga menjadi faktor utama.

Adapun enam das tersebut berdasarkan data dari Dinas Tata Ruang Kabupaten Bogor diantaranya berdasarkan pada pola aliran sungai dapat dikelompokan ke dalam enam wilayah daerah aliran sungai (DAS) yaitu, Das Cisadane (Sub das Cisadane hulu, Ciapus, Cihideung, Ciaruten, Citempuan ,Cikaniki dan Cianten).

Das Ciliwung (Sub das Ciesek, Ciliwung hulu, Cibogo, Cisarua, Ciseupan dan Cisukabirus). Das Cidurian, Das Cimanceuri, Das Kali Bekasi (Sub das cikeas, Citeureup, Cileungsi, Cikarang) dan Das citarum (sub das cibeet, dan Cipamingkis). Dengan jumlah total anak sungai di kabupaten sebanyak 159 sungai.
Erlina menegaskan limbah yang paling banyak mencemari das tersebut adalah pihak industri. Di Bogor sendiri banyak sekali berdiri industri-industri baik besar maupun kecil. Hal itu memperparah kerusakan enam das tersebut. Industri itu paling merusak sungai. Sedangkan kini masih banyak industri yang tidak memiliki izin pengelolaan air limbah (Ipal), tegas Erlina.

Berdasarkan data dari Dinas Tata Ruang pada tahun 2006 lalu, pihaknya melakukan pemantauan kualitas air sungai melalui kegiatan pengabilan 10 sampel pada musim kemarau yakni pada bulan Juli da Nopember dengan masing-masing dua titik. Sampel tersebut telah dicek oleh laboratorium Seameo Biotrop di Kota Bogor.

Hasilnya, kualitas air di Kabupaten Bogor ini menunjukan kadar BOD, COD dan DO yang telah melampui ambang batas baku mutu air sesuai peraturan pemerintah nomor 82 tahun 2001. Dimana secara berturut-turut untuk kelas I,II,III dan IV baku mutu untuk kandungan BOD 2 mg/l,3 mg/l, 6 mg/l dan 12 mg/l, untuk COD adalah 10 mg/l, 25 mg/l, 50 mg/l, dan 100 mg/l, sedangkan untuk DO 6 mg/l, 3 mg/l, 0 mg/l.

Dari hasil pemantauan kualitas sungai tahun 2006 tersebut pihaknya menentukan nilai kelas mutu sungai berdasarkan indek kualitas air tahun 2006 pada beberapa sungai di Kabupaten Bogor. Yang kemudian dianalisis tahun 2007.

Hasilnya sungai Ciliwung, parameter yang melebihi baku mutu adalah BOD, COD,DO,Total Fosfat, ammonia, nitrit, klorin bebas, seng. Sedangkan Sungai Cisadane parameter yang melebihi baku mutu adalah, BOD,COD,DO,

Total Fosfat, Timbal dan Seng. Cikaniki parameter yang melebihi baku mutu adalah, TSS, BOD,DO, timbal, seng. Kali baru parameter yang melebihi baku mutu yakni BOD,COD,DO, total Fosfat, Nitrit, klhorin bebas, Besi, Mangan, Seng, minyak, lemak dan deterjen.

Bahkan sungai yang berada di wilayah kediaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri pun ikut tercemar. Yakni di sungai Cikeas parameter yang melebihi baku mutu adalah BOD,COD,DO Total Fosfat, Amonia, Nitrit, Besi, seng. Di Sungai Cileungsi parameter yang melebihi baku mutu adalah BOD,COD, DO, Total Fosfat, Nitrit, klhorin bebas, seng,minyak dan lemak.

Dari hasil pemantauan pada enam sungai tersebut ditemukan bahwa kondisi sungai-sungai di Kabupaten Bogor berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Sungai-sungai tersebut memerlukan perhatian dan penanganan yang sungguh-sungguh dan terpadu baik dari pemerintah daerah, masyarakat dan pihak-pihak yang yang terlibat dalam kegiatan dan usaha di Kabupaten Bogor.

Menurut Erlina zat-zat tersebut berbahaya jika terminum oleh manusia bahkan ada zat yang bisa menimbulkan gatal-gatal. Zat nitrit berbahaya jika terminum manusia karena mengandung racun, ujarnya.
Namun, hingga kini Erlina mengakui belum ada upaya pemulihan fungsi sungai yang dilakukan oleh pihaknya. Ia menuturkan harusnya sungai-sungai yang tercemar limbah itu dikelola dengan baik. Tapi pihaknya terkendala dana serta minimnya sumber daya manusia (SDM). Saya akui belum ada upaya pemulihan tersebut karena tenaga kerja kami sedikit dan terbatas, katanya. (ck-58)

Sumber:  http://www.hupelita.com/baca.php?id=54234

FEBRUARI 2008

Meski Tercemar, Sungai Cisadane Akan Jadi Sumber Air Minum

Rabu, 13 Februari 2008 – 15:08 wib

Carolina – Okezone

TANGERANG – Pemerintah provinsi Banten sedang menggodok klasifikasi untuk peningkatan kelas Sungai Cisadane. Peningkatan kelas sungai yang melintasi Kota dan Kabupaten Tangerang ini, untuk meringankan cost produksi air minum.

Peningkatan kelas dilakukan karena, kondisi Sungai Cisadane yang melintasi dua daerah itu masuk dalam kategori kelas III. Dengan tingkat cemar sedang, maka sungai tersebut hanya bisa digunakan untuk budidaya ikan.

“Air itu bisa saja digunakan untuk air minum, tapi memerlukan biaya yang besar,” Kata Kepala Seksi Pencegahan dampak lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang, Sugiharto, di Tangerang, Rabu (13/2/2008).

Pencemaran yang terjadi di Sungai Cisadane itu sebanyak 60 persennya berasal dari limbah domestik, seperti deterjen dan pemutih. Sedangkan sisanya, berasal dari limbah industri yang tidak memiliki instalansi pengolahan limbah (Ipal).

Dikatakannya kembali, dengan adanya peningkatan kelas maka akan mempermudah untuk melakukan pengolahan air minum. “Ya, kami akan terus berusaha untuk meningkatkan mutu air,” ujarnya.

Untuk meningkatkan kelas tersebut, Pemkot Tangerang akan mencari sumber pencemaran yang berada di empat titik yaitu di Jembatan Gading Serpong, Jembatan Cikokol, Jembatan Robinson, dan Pemantauan Sewan Tangga Asam. “Semua akan kami pantau agar kelas Sungai Cisadane bisa ditingkatkan,” ucapnya. (ism)

JUNI 2008

Investigasi Sungai Cisadane Bag (1)
Menelusuri Pembuangan Limbah di Sungai Cisadane Pipa Buangan Limbah ke Sungai Tertutupi Alang-alang

Selasa, 03 Juni 2008

Sebagai daerah penyangga ibukota, Tangerang memang wilayah yang berpotensi sebagai pusat bisnis dan ekonomi yang menggiurkan. Seiring dengan detak jantung pembangunannya, Tangerang menjadi daerah padat penduduk yang diikuti dengan menggeliatnya industri, baik skala kecil, menengah maupun besar. Keberadaan industri benar-benar telah mengubah Tangerang dari berbagai dimensi sosial, ekonomi, pendidikan hingga lingkungan. Tapi sayang, julukan sebagai kota seribu industri ini belum didukung oleh kesadaran para pelaku industri dan tatanan hukum yang kuat. Pasalnya, tidak sedikit industri yang mengabaikan faktor lingkungan yang berujung pada rusaknya tatanan sumber daya alam yang ada. Tidak dipungkiri, industri turut andil dalam perubahan ekologi hayati kekayaan alam di Tangerang. Salah satunya, keberadaan air yang menjadi sumber penghidupan manusia, telah tercemar limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Untuk mengetahui lebih jauh tentang kondisi alam, khususnya pencemaran air sungai di wilayah Tangerang, tim investigasi melakukan penelusuran di Sungai Cisadane Tangerang.

Diketahui, Sungai Cisadane adalah satu-satunya sumber air minum bagi warga Tangerang. Selain itu, sungai yang membentang mulai dari Bogor ini juga menjadi salah satu titik pembuangan limbah cair yang dihasilkan pabrik, perumahan, dan beberapa rumah sakit. Dengan menyewa sebuah perahu kecil yang diperoleh dari salah seorang warga, kami menelusuri pinggiran Sungai Cisadane yang dimulai dari jembatan Unis Kota Tangerang menuju arah Serpong, Kabupaten Tangerang. Awalnya, memang tidak ditemukan adanya perubahan warna pada air sungai. Hanya tumpukan sampah di sekitar sungai yang mengganggu jalannya penelusuran. Sepanjang sungai juga ditemui beberapa aktivitas warga yang tengah mengais rezeki dengan memancing dan menjala ikan, serta mengambil cacing di ke dalaman sungai dengan perahu. Setelah hampir sepuluh menit menyusuri pinggir Sungai Cisadane, tim mulai menemukan lubang-lubang saluran pembuangan limbah dari perusahaan. Jika dilihat sepintas, tidak terlihat tanda-tanda perubahan warna air. Namun setelah didekati, baru terlihat jelas perubahan warna air. Saluran pembuangan limbah yang pertama ditemui tim, yaitu limbah yang dibuang berwarna putih mencolok. Air limbah itu juga berbau tidak sedap menyengat dengan disertai gumpalan busa berwarna putih kecoklatan. Setelah mendokumentasikan gumpalan air membusa dari salah satu saluran pabrik, penelusuran pun dilanjutkan. Dalam rentang jarak hanya beberapa ratus meter dari hasil temuan pertama, tim kembali menemukan saluran air limbah pabrik kedua kalinya. Kali ini, cairan limbah yang ditumpahkan langsung ke sungai berwarna hitam pekat. Lubang saluran pembuangan limbah pabrik, banyak yang sudah tertutupi alang-alang. Sehingga, tidak begitu kentara akan adanya perubahan warna air di sekitar pembuangan. Diduga kuat, air limbah ini berasal dari pabrik tekstil yang cukup besar di Tangerang.

Selanjutnya, saluran limbah yang ditemui letaknya juga sepintas nyaris tak terlihat. Posisinya menjorok ke dalam, sehingga mirip semburan air dari dasar sungai. Ketika tim masih berjarak 20 meter dari saluran pembuangan, bau menyengat langsung menyambut. Ketika air di sekitarnya disentuh juga terasa berminyak. Menurut beberapa pencari ikan, limbah yang dibuang itu memang berasal dari pabrik CPO yang ada di DAS Cisadane.

Pemilik perahu yang ditumpangi tim, sempat bercerita tentang aktivitas pembuangan limbah pabrik-pabrik yang berdiri di sepanjang Sungai Cisadane. Katanya, kalau siang hari pembuangan limbahnya belum seberapa dibanding malam hari. “Kalau malam hari lebih parah. Lebih banyak, dan baunya luar biasa,” cerita si tukang perahu. Ia lantas menuturkan perusahaan-perusahaan yang rutin menggelontorkan limbahnya ke Sungai Cisadane seperti pabrik tekstil, logam, kertas, tahu, pembungkus makanan, dan lain-lain.

Jumlah perusahaan yang berdiri di sepanjang Sungai Cisadane memang lumayan banyak. Proses pembuangan limbah oleh industri di sungai ini, bukannya tidak diketahui oleh pejabat berwenang. Bahkan Menteri Lingkungan Hidup Rahmat Witoelar bersama Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah belum lama ini, juga pernah memergoki perusahaan yang terang-terangan membuang limbah industrinya ke sungai Cisadane. Namun sayang, pemerintah hanya sebatas melakukan pemangilan dan tidak ada tindakan tegas. “PT PUP masih dalam pengawasan kita, sudah ada tindakan perbaikan oleh industri tapi masih belum sempurna dan sesuai dengan harapan. Kita sudah melakukan arahan untuk penyempurnaan dan kami akan ke lapangan lagi untuk mengeceknya,” kata Kepala Bapedalda Banten M Husni melalui short message service (SMS), akhir pekan lalu, menjawab pertanyaan tim perihal tindak lanjut kasus dugaan pencemaran lingkungan oleh PT PUP. Namun hingga kini pihak PT PUP masih tertutup perihal fasilitas pengelolaan limbah di perusahaannya. Saat hendak dikonfirmasi, tim investigasi tertahan di gerbang pabrik PT PUP yang dijaga keamanan pabrik.

Hal serupa juga terjadi di pabrik tekstil di Jalan MH Thamrin Kota Tangerang. Tak ada satu pun pihak keamanan yang memberikan kesempatan kepada tim investigasi untuk masuk pabrik. “Maaf pak bagi yang tidak berkepentingan dilarang masuk,” ujar salah seorang petugas keamanan. Ketika tim berkunjung ke PT Leograha, hanya diterima oleh bidang personalia. “Kalau pertanyaannya apakah IPAL berfungsi baik, bukan kami yang berwenang. Tapi kalau pertanyaannya apakah sudah punya IPAL, kami jawab sudah,” terang Ari, staf personalia tersebut. Merujuk data hasil uji laboratorium yang dilakukan PT Unilab Perdana terhadap kualitas air Sungai Cisadane pada tahun 2004, hasilnya mencengangkan. Dari empat lokasi yang diambil sampelnya, yaitu area Jembatan Gading Serpong, Jembatan Cikokol, Jembatan Robinson dan di Desa Sewan, rata-rata ada tujuh kandungan kimia yang diujikan melebihi baku mutu sesuai dengan yang ditetapkan dalam PP No. 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.

Misalnya di lokasi pengujian Jembatan Gading Serpong. Di lokasi ini parameter kimiawi yang melebihi baku mutu itu adalah kandungan zat padat tersuspensi (TSS) sebanyak 82,6 mg/l dari maksimum 50 mg/l, Dissolved Oxygen (DO) rata-rata 5,86 mg/l dari nilai minimum 6 mg/l, BOD rata-rata 3,97 mg/l dari batas maksimal 2 mg/l. Kemudian COD rata-rata 18,57 mg/l padahal yang seharusnya maksimal 10 mg/l, Anion Surfactan ( MBAS) 0,11 mg/l dari batas maksimal 0,02 mg/l, seng (Zn) 0,13 mg/l padahal batas maksimalnya 0,05 mg/l dan total koliform rata-rata 7,9×10 MPN/100 ml, padahal maksimalnya adalah 1×10 MPN/100 ml. Tim
Diposkan oleh PJI Tangerang di 10:51 0 komentar

Sumber: http://pjitangerang.blogspot.com/2008_06_01_archive.html

JUNI 2008

Sungai Cisadane Semakin Tercemar

by : Ahmad Thonthowi Djauhari; Tangerang |

Senin, 09 Jun 2008

Tingkat pencemaran di Sungai Cisadane, Tangerang semakin memprihatinkan. Sebanyak 40 pabrik di Kota Tangerang dinyatakan membuang limbah secara liar di sungai ini. Adapun di Kabupaten Tangerang, sebanyak 83 pusat industri tidak memiliki instalasi pengelolaan air limbah (IPAL).

“Kami kesulitan memantau aktivitas industri. Main kucing-kucingan dengan mereka. Para pelaku industri biasa membuang limbah di malam hari,” keluh Kepala Seksi Pemantauan Kualitas Lingkungan Hidup, Kota Tangerang, Rusman Idi, Tangerang Sabtu (7/6).

Para pelaku industri yang sudah memiliki izin, kata Rusman, juga masih tetap membuang limbah sisa ke Sungai Cisadane di atas baku mutu yang ditetapkan. Hal ini semakin memperparah pencemaran di Sungai Cisadane yang menjadi sumber air utama masyarakat Tangerang.

“Padahal kami sudah mempertegas mereka yang melanggar aturan, namun tetap saja diabaikan. Karena penindakan ada di tangan pemerintah daerah setempat. Kami hanya merekomendasikan saja” ujar Rusman panjang lebar.

Hal senada juga dikeluhkan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tangerang. Saking kesalnya, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tangerang merilis 83 pusat industri agar diekspos ke masyarakat luas.

“Biar masyarakat luas tahu hal ini. Membuang limbah ke Sungai Cisadane memang boleh. Tapi harus diolah terlebih dulu supaya tidak mengandung zat kimia berbahaya,” kata Dani Hasan, Kepala Seksi Limbah Cair Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tangerang akhir pekan lalu.

Pihaknya bahkan sudah merekomendasikan 10 perusahaan yang diketahui memiliki volume baku mutu limbah paling besar, untuk selanjutnya dapat diproses secara hukum oleh pemerintah daerah setempat. Kesepuluh industri yang diduga nakal di antaranya adalah pengelola makanan ringan (PT. Indra Perkasa Mandiri), pengelolaan baja (PT. Mega Pratama Perindo) dan komponen elektronik (PT. Iron Hill).

Dani menjelaskan, jumlah perusahaan yang menghasilkan limbah cair di Kabupaten Tangerang sekitar 213 perusahaan. Dari angka itu, sekitar 70 persen di antaranya belum memiliki pengolah limbah.

Dia mengungkapkan, bukan hanya perusahaan yang nyata-nyata belum memiliki pengolah limbah. Perusahaan yang sudah bertahun-tahun memiliki pengolah limbah saja
masih ada yang nakal, dengan, membuang limbah tanpa proses pengolahan. “Tapi langsung dibuang ke sungai,” ujarnya.

Sebelumnya, Bupati Tangerang Ismet Iskandar meminta penanganan limbah cair di Sungai Cisadane ditangani pemerintah wilayahnya yang dilalui sungai ini, yakni Bogor dan Tangerang.

Sumber: http://jurnalnasional.com/?med=Koran%20Harian&sec=Jakarta%20dan%20Sekitarnya&rbrk=&id=52605&postdate=2008-06-09&detail=Jakarta%20dan%20Sekitarnya

JULI 2008

Pintu Air Cisadane Kering

Senin, 14 Juli 2008

Fotografer : Hafiz

Kemarau yang melanda wilayah Tangerang menyebabkan sungai Cisadane kering sehingga debit air berkurang dan berdampak kepada pintu air yang dilintasinya. Salah satu yang mengalami kekeringan parah adalah pintu air II di kota Tangerang.

Sumber:  http://www.serpongkita.com/index.php?milih=brf&gmb=07_15_08_487c16de33723.jpg&ID=829&resto=Pintu%20Air%20Cisadane%20Kering

Coretan : Sungai Cisadane Dan Saya

cisadane5

30 Juli ’08 6:52 AM

Hari Jumat minggu lalu, saya dengan beberapa kolega menyusuri sungai Cisadane. Kami berjalan hampir 10 km, panah putih di foto satelit di samping kanan ini menunjukkan kurang lebih jalan yang kami lalui. Kami berangkat cukup pagi, udara masih sangat sejuk dan matahari pun tidak terlalu terik. Walaupun matahari sering tertutup oleh rimbunnya dedaunan dan pohon, kami ternyata tidak kehilangan matahari. Apalagi setelah 20 menit kami berjalan, di hadapan kami tidak lagi hijau tetapi coklat dan berdebu, ada sesak mencubit di hati saya melihat ini.

dsc00988

dsc00976

Tampak beberapa excavator dan truk-truk sedang sibuk menggali, mengikis, mengeruk dan mengangkut. Saya terkesima beberapa menit, sekeliling saya habis semua terkikis dan terkeruk. Di tengah kerukan terlihat danau dengan air berwarna hijau. Setahun yang lalu saya masih jalan-jalan ke sini, lubangnya ketika itu walaupun sudah cukup dalam tapi belum selebar ini.

Pandangan saya tertumbuk pada tebing curam setinggi 15 meteran, tanpa penahan, saya bergumam sendiri :” Tinggal menunggu waktu, tebing ini pun mungkin tidak akan berumur panjang dan longsor, tapi saya masih berharap tanah dengan kandungan kapur ini mudah-mudahan masih bisa menahan longsor sehingga ia masih bisa bertahan dan tegak berdiri agar gedung yang berada kurang lebih 5 meter tidak jauh dari tebing itu tidak roboh.

Galian pasir, demikian penduduk setempat menyebutnya adalah pekerjaan yang kelihatannya tidak dianggap asing oleh penduduk asli daerah itu. Ini tanah mereka, jadi mereka dapat melakukan apa yang mereka mau, demikian saya dengar kilah pendek diantara obrolan sesak kami. Aaaahhh … bila semua berpikir seperti ini, entah seperti apa pinggiran Cisadane, pulau Jawa atau Indonesia kelak ?? Menurut kolega yang memang penduduk setempat, banyak tempat di sana dulunya juga galian.

Sekarang memang tidak terlihat lagi kapur dan gerusan excavator di tempat yang ia sebutkan dulunya juga galian pasir, alam kembali menghijaukan kerukan itu dan menyisakan danau-danau kecil buatan. Saya berpikir keras, bagaimana dengan keseimbangan alam?? Pernahkah ada yang memikirkannya ??

dsc00937

Kami berjalan terus, menembus galian yang telah merubah rute perjalanan, menuju sungai Cisadane. Sebelum menyebrang dengan getek (sebuah perahu dari bambu yang dijajarkan cukup lebar) kami masih sempat berhenti dan melihat-lihat pemilahan kerikil dari tanah yang terkeruk. Saya melihat lapangan kerja di sana, pemuda-pemuda umur produktif daerah itu, tampak berkeliaran hilir mudik, menyisakan gumam lain di hati saya.

Deras air sungai Cisadane untungnya kembali mendinginkan gumam-gumam saya. Menyebrangi sungai Cisadane dengan getek ini betul-betul pengalaman yang mengasyikkan dan menegangkan. Saya tidak mau berpikir tentang ular atau buaya, saya sambut saja apa yang akan saya hadapi.

Turun dari getek, kami sesekali melalui wc darurat yang dibangun di atas kolam kecil. Gemericik air dari atas bukit, menggugah saya untuk mendekati sumber. Di sana ternyata ada bak penampungan kecil yang menangkap air yang keluar dari corong bambu. Airnya terlihat jernih, seorang ibu tampak sedang mencuci pakaian dan alat-alat makannya. Saya menegurnya dengan mengatakan „airnya bersih ya bu“, si ibu pun mengangguk.

Kami lanjutkan lagi jalan-jalan di pinggir sungai Cisadane itu. Kali ini kami berjalan melalui saung-saung kecil, di bawah pohon bambu yang luarbiasa tinggi. Sepoi-sepoi angin membawa kesejukan yang nyaman di sana. Kami berhenti sejenak untuk duduk di sebuah saung bambu yang beratapkan daun kirai. Pemandangan di hadapan kami sungai Cisadane, yang walaupun keruh tapi tidak kotor. Sebelum kami terlena, kami pun lanjutkan lagi perjalanan menembus kampung sederhana penduduk. Letak rumah yang terlihat tidak keruan, ada yang menghadap Utara, Selatan, Timur dan Barat, cukup membuat saya berpikir, apa yang dipikirkan para penduduk ini ketika membangun rumah.

Tentulah mereka tidak memikirkan membangun sesuai dengan hukum efisiensi bangunan, tapi letak yang semrawut ini, membuat kami sempat bingung, jalan mana yang harus kami ambil, karena semua terlihat seperti halaman rumah orang … hehehe. Tapi untunglah saya berjalan dengan para pakar sungai Cisadane, jadi walaupun galian pasir merubah kondisi setempat, kolega-kolega saya ini tidak kehilangan arah.

Kami kemudian melalui sebuah pesantren dan galian pasir lebih kecil. Kondisi kampung yang walaupun mungkin pasirnya digunakan untuk membangun apartemen atau real estate elit, tidak mengesankan bersih dan terurus. Jalan-jalannya berbatu dan tidak beraspal, perumahan penduduknya tidak terawat, membuat saya bergumam sendiri lagi.

Untuk kedua kalinya kami beristirahat, kali ini di sebuah warung minuman. Pemiliknya seorang bapak tua, yang bercerita tentang pengangkutan pasir dan harga pasir dari tumpukan-tumpukan pasir yang teronggok di hadapan warungnya. Yaaa … warung bapak ini persis terletak di pinggiran sungai Cisadane yang gersang tanpa kehijauan, menurutnya tumpukan pasir-pasir yang ada di depan warungnya itu baru dijual beberapa bulan kemudian.

Pandangan mata saya tertumbuk pada jembatan baru melintang di atas sungai Cisadane. Pfiuuuhh … panjang juga saya pikir, maklumlah … saat itu matahari tidak lagi bersahabat dan tidak ada kehijauan di sekitar jembatan, padahal kami harus melalui jembatan ini …aaaahhh hati saya sudah kegerahan hanya dengan membayangkannya saja.

Setelah satu botol teh saya tenggak habis dan kolega saya lain juga sudah cukup mengaso, kami pun melanjutkan perjalanan. Saya diperbolehkan memilih jalan setelah melewati jembatan panas panjang tadi, menyusuri jalan besar atau melalui persawahan. Tentu saja saya memilih persawahan. Berjalan di pinggir jalan besar tak bertrotoar yang ramai dilalui truk-truk besar pembawa pasir hanyalah sebuah penderitaan dan tantangan terhadap bahaya.

Pilihan saya tidak salah, tapi pemandangan yang saya lihat kemudian juga tidak membuat gumam saya berhenti. “Walaupun sudah kerja keras dan tetap susah” itulah yang saya lihat di sana. Sawah-sawah di pinggiran sungai Cisadane walaupun mungkin hanya beberapa meter saja jaraknya dari air di sungai Cisadane, ternyata kekeringan. Seorang ibu tani yang sedang memukulkan gabahnya berujar kencang, panennya gagal, serunya. Putik gabah memang tampak hanya beberapa bulir saja di atas batang padi sawah kering itu. Hati saya kembali berdenyut, tapi ibu tani itu tampak tidak berhenti bekerja … saya mulai berhitung keras dengan nyeri, entah berapa banyak beras yang ia dapat.

Pemandangan selanjutnya sebetulnya sangat memukau, 6 orang bapak-bapak muda dengan otot berisi dan kulit terbakar, tampak memegang bambu sepanjang 6 meteran. Di ujung bambu ada serok seng yang dibolong-bolongi dasarnya. Mereka berdiri masing-masing di atas perahu kecil lalu memasukkan bambu mereka ke dasar sungai. Mereka mengeruk pasir di dasar sungai. Saya perhatikan berapa dalam sungai itu, kurang lebih 4 – 5 meter mereka ternyata harus mengeruk. Luar biasa… di zaman teknologi serba canggih ini, mereka bekerja secara manual, tidak heran bila mereka berotot.

Saya mungkin menahan keseimbangan di atas perahu saja butuh waktu, apalagi masih harus mengeruk dan kemudian mengangkat pasir ke atas. Mereka bekerja sambil berbincang-bincang dan sesekali saya dengar tawa mereka, tidak terpancar kesulitan hidup di wajah mereka. Saya menghela nafas, mudah-mudahan pasir dasar sungai Cisadane itu laku dan berharga mahal, sehingga usaha itu memberikan mereka kenyamanan dan keringanan hidup.

Yang saya sesalkan, saya tidak membawa kamera, (jadi foto-foto yang terpasang selain foto satelit dari google earth juga foto-foto tahun lalu) padahal pagi itu saya banyak melihat kehidupan. Kehidupan nyata penuh tantangan, yang mana mungkin tidak terlalu diharapkan oleh orang-orang ini. Bila saja mereka tahu, nun jauh di Amerika sana, kehidupan penuh tantangan ini malah dirindukan oleh seorang Christopher McCandless sampai merenggut nyawanya. Sebuah keputusan berani dari seorang muda berumur 21 tahun, sehingga menginspirasi Jon Krakauer dan Sean Penn untuk membukukan dan memfilmkan keberanian dan keinginannya untuk merasakan hidup penuh tantangan dalam film Into The Wild.

Ps:

Sungai Cisadane ini mengalir menembus propinsi Jawa Barat dan Banten, panjangnya sekitar 80 km. Sumber asalnya dari gunung Salak dan Pangrango. Sungai ini dimanfaatkan untuk irigasi, industri, mandi, cuci, kakus, minum dan transportasi.

Fluktuasi aliran Sungai Cisadane sangat bergantung pada curah hujan di daerah tangkapannya. Aliran yang tinggi terjadi saat musim hujan dan menurun saat musim kemarau. Antara tahun 1971 dan 1997, berdasarkan pemantauan di Stasiun Pengamat Serpong, aliran sungai terendah yang pernah terjadi tercatat sebesar 2,93 m³/detik di tahun 1991 dan tertinggi 973,35 m3/detik pada tahun 1997.

Berdasarkan catatan bulanan antara tahun 1981 dan 1997, aliran minimum terjadi antara bulan Juli dan September, dengan rata-rata aliran di bawah 25 m³/detik.

Namun demikian peningkatan pencemaran akibat kegiatan industri dan domestik termasuk pembuangan limbah cair secara ilegal, mengakibatkan pengolahan air menjadi semakin mahal dan sulit untuk dilakukan.

sumber : http://www.tkcmindonesia.com/bahasa/river.html

Sumber: http://cahayahati.multiply.com/journal/item/407/Coretan_Sungai_Cisadane_Dan_Saya

OKTOBER 2008

Cemari Sungai Cisadane, PT Yuasa Battery Didemo
Selasa, 7 Oktober 2008 – 11:02 wib

Carolina – Okezone

TANGERANG – Puluhan orang yang tergabung dalam Yayasan Peduli Lingkungan Hidup melakukan aksi demonstrasi di depan PT Yuasa Battery di Jalan MH Thamrin, Kebon Nanas, Tangerang.

Dalam aksinya mereka menuntut penutupan industri tersebut karena dianggap melakukan pencemaran lingkungan. Terlihat, para pendemo mengusung sejumlah spanduk, salah satunya bertuliskan “Boikot PT Yuasa Battery”.

Koordinator aksi Uyus Setiabakti mengatakan, PT Yuasa telah mencemari lingkungan terutama sungai Cisadane. Pasalnya, hasil penelitian yang dilakukan pada 2007 ditemukan kadar air raksa di atas baku muatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

“Dengan kondisi ini ditakutkan akan seperti pada kasus Buyat,” katanya.

Dia juga mengaku menyesalkan sikap Pemerintah Kota Tangerang yang masih membiarkan industri tersebut beroperasi. Padahal sudah diketahui adanya pencemaran lingkungan dan kondisi ini juga sangat meresahkan industri air mineral.

“(Kami) meminta agar itu diboikot saja jika masih mencemari Sungai Cisadane,” tegasnya.

Aksi ini berlangsung tidak lama yakni sekira 1-2 jam dan tidak sampai menyebabkan kericuhan. (lsi)

Sumber: http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/10/07/1/151485/cemari-sungai-cisadane-pt-yuasa-battery-didemo

Written by airsungaikelassatu2020

November 16, 2008 at 8:10 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: