sungaibersih2020

Sungaiku Bersih Sungaiku Jernih

2004 – Status

leave a comment »

JANUARI 2004

Sungai Cisadane Tercemar, PDAM Tangerang Dapat Berhenti Beroperasi

Jumat, 16 Januari 2004

Tangerang, Kompas – Pencemaran air Sungai Cisadane meningkat sehingga kualitas air memburuk. Bila kondisi ini terus terjadi beberapa tahun mendatang, bukan mustahil PDAM Tirta Kerta Raharja Tangerang dapat berhenti beroperasi karena bahan baku air tak layak lagi diolah.

Masalah sumber daya air yang memburuk dapat diamati ketika pada bulan Desember 2003-Januari 2004, PDAM Tangerang kesulitan beroperasi karena bahan mentah berupa air Cisadane menyusut.

Kondisi demikian dipaparkan Deden Sugandhi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tangerang, Kamis (15/1), di Puspitek, Serpong, dalam dialog interaktif “Pers dan Lembaga Swadaya Masyarakat tentang Pengelolaan Air Minum PDAM Tirta Kerta Raharja. Menurut dia, industri yang berada di sepanjang Sungai Cisadane menyebabkan pencemaran. Kini, kondisi Sungai Cisadane masih memungkinkan PDAM Tangerang melakukan pengolahan air minum.

“Pencemaran terhadap Sungai Cisadane tidak hanya dipasok industri-industri tersebut. Pencemaran yang dilakukan industri sesungguhnya mudah diawasi. Namun pencemaran yang harus diwaspadai adalah pencemaran domestik atau pencemaran rumah tangga. Pencemaran ini meningkat karena adanya peningkatan pertumbuhan perumahan di Tangerang, antara lain perkembangan Perumahan Alam Sutera, Bumi Serpong Damai, dan Villa Melati Mas,” kata Deden.

Dalam upaya pencegahan maupun pemberantasan pencemaran di Kabupaten Tangerang, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tangerang melakukan langkah-langkah konkret berupa pemeriksaan industri-industri yang diduga tidak mengolah limbah maupun industri yang membuang limbah yang tak diolah ke sungai.

Masalah yang kini dihadapi, Kabupaten Tangerang tidak memiliki Penyidik Pegawai Negeri Sipil di bidang lingkungan hidup yang memiliki kompetensi menyidik. Menurut Deden, pihak DLH Kabupaten Tangerang meminta lima PPNS lingkungan hidup dari Departemen Lingkungan Hidup Pusat.

Cecep Suhendar, staf DLH Kabupaten Tangerang, mengatakan, instansinya telah melakukan penyidikan atas industri-industri bermasalah yang diduga mencemari .

Namun, Karya Er Sada, Ketua Forum Kajian Lingkungan Perkotaan Tangerang, mengatakan, upaya penyidikan mengalami tidak mulus karena berjalan lambat. Sudah hampir setahun tak kunjung berlanjut ke jenjang pengadilan. (K01)

Sumber: http://64.203.71.11/kompas-cetak/0401/16/metro/805517.htm

MEI 2004

Ketika Sungai Cisadane Tercemar!

Rabu, 19 Mei 2004

PADA tanggal 23 Oktober 2002 PT Unilab Perdana, sebuah perusahaan laboratorium yang membantu Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah Kota Tangerang, melakukan penelitian terhadap limbah cair pada sebuah perusahaan swasta nasional di Kota Tangerang. Hasil uji laboratorium limbah cair yang diproduksi perusahaan pembuat kancing baju, kancing jendela, dan beberapa jenis kancing lainnya ini cukup mencengangkan.

U>small 2small 0< laboratorium itu mengungkapkan bahwa limbah cair yang dikeluarkan perusahaan di Kota Tangerang ini, tujuh di antara sepuluh kandungan kimia yang diujikan melebihi baku mutu yang ditetapkan untuk industri pelapisan logam, seperti yang terdapat dalam Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 51/MENLH/10/1995.

Ketujuh parameter kimiawi yang melebihi baku mutu itu adalah kandungan zat padat tersuspensi (TSS) sebanyak 56 mg/l, sianida (CN) sebanyak 2,982 mg/l, khromium total (Cr) 19,03 mg/l, khromium VI (Cr 6+) 0,27 mg/l, tembaga (Cu) 48,91 mg/l, seng (Zn) 66,67 mg/l, dan nikel (Ni) 310 mg/l.

Padahal, berdasarkan keputusan menteri seperti disebutkan di atas, kandungan zat kimia untuk tujuh parameter tersebut seharusnya adalah TTS 20 mg/l, CN 0,2 mg/l, Cr 0,5 mg/l, Cr 6+ 0,1 mg/l, Cu 0,6 mg/l, Zn 1,0 mg/l, dan Ni 1,0 mg/l.

Yang lebih mengejutkan lagi, limbah cair sebanyak 27 meter kubik (m>sprscript<3>res<>res<) per hari, yang kandungan zat kimianya melebihi baku mutu tersebut, setiap harinya dibuang ke Sungai Cisadane. Seperti diketahui, air Sungai Cisadane merupakan sumber air baku bagi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Kerta Raharja milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang dan PDAM Tirta Dharma milik Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang. Untuk PDAM Tirta Kerta Raharja, sebanyak 2.600 m>sprscript<3>res<>res< per hari dialirkan ke warga DKI Jakarta sebagai bentuk kerja sama.

Berdasarkan temuan itu, pada 16 Januari 2004 Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kota Tangerang melaporkan pelanggaran yang dilakukan perusahaan itu kepada wali kota. Dalam laporan itu disebutkan hanya ada dua parameter, yaitu Cd dan Pb dari 10 parameter yang diujikan yang memenuhi baku mutu lingkungan.

Disebutkan pula bahwa pemilik perusahaan membandel. Terbukti pada inspeksi mendadak yang dilakukan pada awal Januari 2004, didapati bahwa perusahaan tersebut tidak memiliki dokumen pengelolaan lingkungan, tidak memiliki izin pembuangan limbah cair, selain ditemukan adanya saluran pipa pembuangan limbah menuju ke Sungai Cisadane. Celakanya lagi, ketika inspeksi mendadak dilakukan, pihak pengelola didapati baru saja mengosongkan limbah cair atau membuangnya ke Sungai Cisadane.

Atas laporan itu, Wali Kota Tangerang Wahidin Halim menginstruksikan agar perusahaan itu ditutup. Hingga saat ini tidak jelas kelanjutannya.

Satu hal yang mencengangkan, setelah dilakukan teguran berkali-kali dan kembali dilakukan uji laboratorium, masih juga didapati kandungan sejumlah zat kimia yang melebihi baku mutu.

Uji laboratorium bulan Maret 2004 menunjukkan, kandungan zat padat tersuspensi TSS justru meningkat menjadi 900 mg/l, kandungan Cu 28,38 mg/l, Zn 13,67 mg/l, Cr 6+ 0,88 mg/l, Cr 2,00 mg/l, Ni 16,45 mg/l, dan CN 41,553 mg/l.

HINGGA saat ini, ratusan meter kubik limbah industri yang sebagian di antaranya termasuk golongan bahan beracun berbahaya (B3) terus saja dibuang ke Sungai Cisadane. Dengan demikian, air sungai yang menjadi air baku bagi PDAM di Tangerang itu tercemar limbah dan mengandung unsur kimia beracun.

Kepala Dinas LH Pemkab Tangerang Deden Sugandhi menyatakan, diperkirakan setiap hari ratusan meter kubik limbah cair dibuang ke Sungai Cisadane. Ia mencontohkan, limbah cair yang dibuang PT Indah Kiat ke Sungai Cisadane setiap hari mencapai 500 m>sprscript<3>res<>res<. Dari sejumlah zat kimia yang terkandung dalam limbah hasil buangan PT Indah Kiat itu, sebagian lainnya masuk jenis limbah beracun yang melebihi baku mutu.

“Kami telah memberikan peringatan keras kepada PT Indah Kiat dan kami sudah mengusulkan agar ia dimasukkan dalam daftar merah. Sekarang PT Indah Kiat masih terus dalam pengawasan,” kata Deden, Senin (17/5).

Tingkat kandungan zat besi terlarut (Fe) dan mangan (Mn), yang lebih tinggi dari baku mutu, juga terdapat pada air limbah di sejumlah industri yang membuang limbahnya ke Sungai Cisadane. Misalnya limbah dari PT Surya Toto memiliki kandungan Fe 1,21 mg/l dan Mn 0,247 mg/l. PT Tifico: Fe 0,59 mg/l dan Mn 1.162 mg/l. PT Sun Kyong Keris: Fe 0,38 mg/l.

PT Laksana Kurnia Sejati: Fe 1,07 mg/l dan Mn 0,18 mg/l. PT Indah Kiat: Fe 0,56 mg/l dan Mn 0,298 mg/l. Area Gading Serpong: Fe 1,34 mg/l dan Mn 0,333 mg/l. PT CRC: Fe 0,53 mg/l. PT Yuasa: Fe 1,04 mg/l dan Mn 0,312 mg/l. Sedangkan PT Argo Pantes: Fe 0,64 mg/l dan Mn 0,214 mg/l.

Dewan Presidium Aliansi Aktivis Lingkungan Hidup Indonesia, Karya Ersada, menyatakan, banyaknya limbah industri yang dibuang ke Sungai Cisadane yang melebihi baku mutu yang ditentukan merupakan upaya untuk merusak lingkungan. Kondisi ini tidak bisa dibiarkan dan harus ada upaya serius dari Pemkot dan Pemkab Tangerang untuk mengatasinya.

Sementara itu, uji laboratorium yang dilakukan PDAM Tirta Dharma Kota Tangerang menunjukkan, air Sungai Cisadane sudah banyak terkontaminasi, antara lain minyak dan lemak 2,97 mg/l, amoniak 1,44 mg/l, mangan 0,5 mg/l, nitrat 10,5 gm/l, besi 1,16 mg/l, dan mercury 0,001 mg/l.

TERCEMARNYA air Sungai Cisadane, kata Ersada, merupakan bentuk ketidakpedulian kalangan industri dan pemerintah daerah. Ini terbukti dari tidak adanya langkah yang tegas.

Upaya Pemerintah Daerah Tangerang untuk menjaga lingkungan hingga saat ini masih sebatas pada pemenuhan kepemilikan perizinan. Padahal, pada kenyataannya masih banyak industri yang secara administratif memiliki perizinan yang lengkap, tetapi masih saja membuang limbah dengan kandungan zat kimia yang tinggi secara sembarangan.

Menanggapi hal itu, Deden menyatakan, saat ini pemerintah tengah mencoba merencanakan pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) terpadu. Tujuannya, mengurangi pembuangan limbah cair secara sembarangan ke sungai-sungai di Tangerang.

Dari hasil studi kelayakan yang dilakukan Pemkab Tangerang diperkirakan pembangunan IPAL terpadu menelan biaya Rp 50 miliar. Bagi Pemkab Tangerang, biaya tersebut dinilai terlalu tinggi. Penilaian itu tentunya patut dipertanyakan mengingat Tangerang sesungguhnya berpijak pada industri dalam membangun wilayahnya.

Tanpa ada pengorbanan dan kesediaan dari pemerintah membangun IPAL terpadu, sulit rasanya mengurangi dampak pencemaran air di Sungai Cisadane. Menutup industri yang melanggar merupakan pilihan sulit mengingat banyaknya pekerja yang bergantung pada sektor industri. Sementara membiarkan masalah ini berarti merusak kesehatan warga.

Di sisi lain, peningkatan kandungan zat kimia terlarut pada air Sungai Cisadane akan meningkatkan ongkos produksi yang pada ujungnya nanti meningkatkan harga jual. Ujung-ujungnya, rakyat juga yang jadi sengsara. (HERMAS EFENDI PRABOWO)

Sumber: http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0405/19/utama/1035094.htm

JUNI 2004

Sungai Cisadane Tercemar Merkuri dan Limbah B3

Sabtu, 05 Juni 2004

Tangerang, Sinar Harapan. Kondisi Sungai Cisadane yang berada di Kota dan Kabupaten Tangerang semakin memprihatinkan akibat pencemaran limbah bahan berbahaya beracun (B3) industri-industri di sekitarnya. Bahkan dalam temuan Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Kerta Raharja (PDAM TKR) disebutkan bahwa air sungai yang berhulu di kawasan Bogor ini telah mengandung merkuri (Hg) dan cadmium (Cd) dalam kadar tinggi.

Menurut keterangan Kepala Bagian Humas PDAM TKR, Anda Suhanda yang ditemui SH di kantornya, Jumat (4/6) sore, tingginya pencemaran tersebut didapatkan dari hasil riset pada bulan April 2004 lalu.

”Ketika itu kami mengambil contoh air dari instalasi pengolahan air (IPA) Cikokol dan memeriksakannya ke Sucofindo. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa air sungai Cisadane telah tercemari cadmium sebesar 0,05 miligram/ liter dan merkuri sebesar 0,002 miligram/liternya. Padahal, menurut Peraturan Pemerintah No 82 tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran, ambang batas Cadmium hanya sebesar 0,01 miligram/liter dan kandungan merkuri hanya 0,001 miligram/liter,” ungkapnya.

Sementara itu, Anggota Dewan Presidium Aliansi Aktivis Lingkungan Indonesia (Indonesia Environmental Activist Alliance), Karya Ersada secara terpisah kepada SH menyatakan bahwa pada bulan yang sama pihaknya juga menemukan adanya kandungan zat-zat berbahaya di sungai tersebut. ”Dari contoh air yang kami ambil di daerah. (wib)

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0406/05/jab03.html

Sembilan Pabrik Buang Limbah ke Sungai Cisadane

Kamis, 10 Juni 2004 | 21:25 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Wali Kota Tangerang Wahidin Halim mengumumkan sedikitnya 9 pabrik di daerahnya pembuang limbah yang mengandung bahan beracun berbahaya (B3) ke Sungai Cisadane. Wali kota juga mencatat, sebanyak 83 industri tidak melaporkan pengolahan limbahnya.

Wahidin Halim mengancam akan menyeret pemilik perusahaan itu ke pengadilan. Sembilan perusahaan itu adalah, PT Argo Pantes, PT Indometal, PT Surya Renggo, PT Surya Renggo, PT Lengtat Tangerang Leather, Harlipan Batik, Sejahtera Metal dan Vonicc Latyexindo.

Menurut Wali Kota, PT Indometal diketahui membuang sisa proses pelapisan logam ke Sungai Cisadane. Limbah tersebut dibuang Indometal di atas baku mutu
lingkungan yang telah ditetapkan.

“Akibatnya, kondisi Sungai Cisadane sangat memprihatinkan. Bebek-bebek tak lagi bermain air. Kini yang marak ada adalah pemilik pabrik kucing-kucingan membuang limbahnya,” ujar Wahidin kemarin.

Usai mengumumkan pabrik pencemar Ciasadane, Wali Kota
Wahidin didampingi sejumlah pejabat daerah menulusuri
Sungai Cisadane dengan 8 perahu karet dan
perahu dayung.

Sepanjang sungai itu, rombongan wali kota sejumlah pabrik yang membuang limbahnya langsung ke sungai. Di antaranya pabrik minyak di daerah Karawaci dan industri tekstil di Cikokol dan industri.

Ayu Cipta-Tempo News Room

Sumber: http://www.tempo.co.id/hg/jakarta/2004/06/10/brk,20040610-43,id.html

AGUSTUS 2004

Sungai Cisadane Terancam Kritis

Kamis, 26 Agustus 2004

TANGERANG — Memasuki musim kemarau 2004, debit air Sungai Cisadane dan Cidurian terancam kritis. Menurut Koordinator Pelaksana Badan Pengelola Sumber Daya Air (PSDA) Cisadane-Cidurian, Suparno pada 10 Agustus lalu, debit Cisadane pernah mencapai titik kritis sekitar 7,9 meter kubik per detik. Padahal, idealnya debit sungai yang menjadi gantungan jutaan jiwa itu mencapai 40 meter kubik perdetik. ”Meski begitu, sejak tiga hari terakhir ini debit mulai normal karena ada hujan di Bogor,” ujar Suparno kepada Republika.

Menurut dia, sejak 22 Agustus lalu, kiriman air dari Bogor menyebabkan debit Sungai Cisadane kembali mencapai kisaran 42 meter kubik hingga 50 meter kubik per detik. Namun, kondisi itu, papar Suparno, hanya akan bertahan selama lima hari. Jika tak ada hujan di Bogor, maka debit air akan kembali ke posisi kritis. ”Soalnya di sini tak bisa menampung air.” Kondisi serupa juga terjadi di Sungai Cidurian. Menurut dia, debit Sungai Cidurian saat ini mencapai 5 meter kubik perdetik. Padahal idealnya, debit sungai yang memiliki hulu di daerah Jasinga Kabupaten Bogor itu mencapai 18 meter kubik perdetik.

Menurut Suparno, debit Sungai Cidurian bisa dikatakan kritis apabila telah mencapai kisaran 3 meter kubik perhari. Itu berarti, debit sungai itu telah susut sekitar 13 meter kubik. ”Aliran Cidurian harus mengairi, sekitar 12 ribu areal pesawahan,” papar Suparno. Pihaknya menambahkan, air Sungai Cisadane dibagi untuk memenuhi kebutuhan industri serta PDAM dan mengairi areal pesawahan. Ia mengungkapkan, debit air yang dibutuhkan untuk menggerakkan roda industri dan kebutuhan air minum hanya sekitar 3,9 meter kubik per detik.

Sedangkan, untuk mengairi areal pertanian dibutuhkan debit air sekitar 6,87 meter kubik per detik. Ia mengungkapkan, pada saat musim gadu tahun ini, Sungai Cisadane harus mengaliri 12.868 hektare tanaman padi di wilayah Pantura Tangerang. Selain itu, papar dia, luas tanaman palawija yang perlu diairi mencapai 8.752 hektare. Menurut Suparno, ketinggian air Sungai Cisadane saat ini mencapai 12,15 meter. Padahal, idealnya elevasi air sungai tersebut mencapai 12,45 meter. Menurut Suparno, pada posisi kritis ketinggian air akan tetap diupayakan mencapai 11,80 meter.

Ia mengungkapkan, bila hujan di Bogor tidak turun dalam lima hari ini, maka ketinggian air pun akan kembali ke posisi kritis dengan debit mencapai sekitar 7,9 meter kubik. Wilayah yang terancam bisa mengalami kekeringan akibat surutnya debit Sungai Cisadane pada musim kemarau tahun ini, antara lain Kecamatan Kronjo, Kresek, Mauk, Teluk Naga, Kosambi dan beberapa wilayah lainnya.

Sedangkan, wilayah yang bisa mengalami kekeringan akibat turunnya debit Sungai Cidurian antara lain, Kecamatan Balaraja dan wilayah sekitarnya. ”Untuk menghadapi masalah tersebut, kita berupaya untuk melakukan tiga upaya alternatif,” paparnya. Menurut dia, jika kondisi Sungai Cisadane dan Cidurian kembali ke posisi kritis, maka pemerintah akan berupaya untuk melakukan pembatasan areal tanam. Pembatasan wilayah tanam tersebut disesuaikan dengan debit air yang ada. Selain itu, agar bisa mengairi areal pesawahan yang ada pada saat debit kritis, maka pihaknya menerapkan sistem gilir-giring (buka-tutup) air. Selama ini, papar Suparno, hal tersebut telah dilakukan.

Solusi terakhir yang akan dilakukan, papar dia, jika air Sungai Cisadane dan Cidurian krtis adalah memanfaatkan sumber air yang ada di wilayah tersebut dengan menggunakan pompa air. ”Kita berharap agar ada hujan di Bogor.” Di tempat terpisah, Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Cisadane Barat Laut, Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Tangerang, Azhari mengungkapkan, saluran irigasi teknis yang biasa mengairi areal pesawahan di wilayahnya mengandalkan air Sungai Cisadane. Pihaknya mengungkapkan, jika dalam kondisi yang sangat kritis pihaknya akan memanfaatkan pompa air yang telah ada. ”Saat ini kita telah melibatkan masyarakat dalam pengelolaan air dengan dibentuknya perhimpunan petani pemakai air,” ungkapnya. Seperti diberitakan Republika sebelumnya, pada Juli lalu sudah sekitar 900 hektare areal pesawahan yang tersebar di tujuh kecamatan terancam gagal panen akibat kekeringan.

Sumber: http://www.bplhdjabar.go.id/kategori/amdal/kilas_amdal.cfm?doc_id=359

Sumber: Republika online

Written by airsungaikelassatu2020

November 16, 2008 at 12:53 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: