sungaibersih2020

Sungaiku Bersih Sungaiku Jernih

2003 – Aksi

leave a comment »

JUNI 2003

DAS Cisadane Akan Ditanami Pohon

26 – 6- 2003

Tangerang – Dinas Lingkungan Hidup Pemkab Tangerang akan menanam 189 ribu pohon multi guna di lahan kritis sepanjang tepi Daerah Aliran Sungai (DAS) Cisadane yang rusak karena pencemaran lingkungan.

Menurut Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabinet Tangerang Admat Kosim, Rabu (25/6), penghijauan itu selain akan mengurangi erosi juga akan mengembalikan kondisi sepanjang tepi sungai Cisadane menjadi hijau. Pihaknya akan melibatkan warga setempat guna merawat dan memetik hasil tanaman itu untuk kepentingan mereka sendiri agar tercipta rasa memiliki.

Program ini, lanjutnya, sebagai bagian dari Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL) yang dicanangkan pemerintah pusat. Sesuai rencana lahan yang akan ditanam seluas 300 hektar yang berada di tiga kecamatan, Cisauk, Pagedangan dan Serpong.

”Hari ini (kemarin/Red) sudah ada tim yang survei untuk mengetahui jenis pohon apa saja yang diperlukan masyarakat setempat. Penanamannya nanti akan melibatkan mereka supaya ada rasa memiliki,”katanya.

Namun jenis tanaman yang akan ditanam adalah jenis multi guna yang menghasilkan buah. Seperti rambutan, melinjo, kelapa, mangga, alpukat dan sebagainya. Nantinya akan dibentuk kelompok masyarakat untuk mengelola tanaman ini. Departemen Kehutanan telah menyediakan anggaran Rp 1,075 miliar. Menurut rencana penanaman baru akan dilakukan sepanjang November hingga Desember mendatang.

Selama ini sungai Cisadane yang mengalir sepanjang wilayah Bogor hingga Tangerang kerap menjadi tempat pembuangan aneka limbah dari sejumlah pabrik yang berada di sepanjang tepi sungai itu. Sungai itu juga mengalir melalui kawasan pemukiman penduduk, hingga tengah kota. Karena itu selain pabrik, limbah rumah tangga seperti sampah selalu terlihat di sungai ini dan menjadi tampak keruh.

Banyaknya lumpur di sungai ini juga menjadi penyebab sungai Cisadane menjadi dangkal dan petani mulai kesulitan mendapatkan air bagi sawah mereka. Bahkan salah satu anak sungai Cisadane, yakni Sungai Mookervart airnya sudah berwarna coklat kehitaman sehingga tidak dapat lagi dimanfaatkan.

Dinas lingkungan hidup Kota dan Kabupaten Tangerang cukup kesulitan dalam menindak para pelaku pencemaran itu akibat terbatasnya jumlah petugas. Selain itu, para pelaku pencemaran lingkungan yang tertangkap dan berhasil diajukan ke meja hijau belum ada. (Republika)

Sumber:http://www.inawater.com/news/wmprint.php?ArtID=706

Halimun-Salak Juga untuk Kepentingan Jakarta

Sejak tahun 2003 masyarakat Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Bantensebetulnya boleh merasa lega. Ini karena terbitnya Keputusan MenteriKehutanan Nomor 175/Kpts-II/2003 tentang Perluasan Taman NasionalGunung Halimun Salak atau TNGHS. Dengan surat keputusan tersebut, TNGHSbertambah luas hampir tiga kali, dari 40.000 hektar menjadi 113.357hektar.

Artinya, pemerintah pusat akhirnya ”sadar” jugapentingnya menjaga ekologi di kawasan tersebut. Kawasan hutan diPegunungan Halimun dan Gunung Salak itu adalah ”benteng terakhir” hutanhujan pegunungan di Pulau Jawa, yang masih menyisakan sekitar 99 persenkeaslian sebuah hutan pegunungan.

TNGHS secara administratifberada di wilayah Kabupaten Sukabumi, Bogor, dan Lebak. Kawasan inimerupakan kawasan tangkapan air sekaligus gudang air untuk memenuhikebutuhan air bagi sebagian besar masyarakat Jawa Barat, DKI Jakarta,dan Banten. Perusahaan air leding Jakarta dan Bogor jelas-jelasmenyedot air bersih dari ”gudang-gudang” air di kawasan itu, untukbarang dagangannya ke masyarakat.

Begitu juga dua perusahaan airminum kemasan terkemuka, yang salah satunya menyedot air bersih 3 jutameter kubik per tahun, atau 44,99 persen dari kapasitas gudang airDaerah Aliran Sungai (DAS) Cibaregbeg, salah satu daerah aliran sungaiyang berhulu di TNGHS.

Pada kawasan TNGHS terdapat 117 hulusungai ataupun anak sungai yang bermuara ke Laut Jawa di bagian utaradan Samudra Hindia di bagian selatan. Sungai dan anak sungai itumembentuk 12 daerah aliran sungai, yang mengatur tata air diwilayah-wilayah pelintasannya.

Aliran air sungai dari setiap DASitu digunakan masyarakat umum secara langsung untuk mengairi lahanpertanian dan perikanan, kegiatan rumah tangga, pembangkit listrikmikrohidro, industri, serta wisata seperti arung jeram, air terjun, danpemancingan. Salah satu DAS-nya yang sangat populer adalah DASCisadane. Agar DAS berfungsi baik, airnya mengalir dengan baik, ekologihulunya haruslah berupa hutan asli (primer).

Berbarengan denganperluasan TNGHS, terkuak pula kerusakan yang terjadi di kawasan hutanhujan pegunungan tersebut. Data yang dikeluarkan Balai TNGHSmenyebutkan, degradasi kawasan itu, berupa fragmentasi dan deforestasi.mencapai 19,4 persen atau sekitar 22.000 hektar. Fragmentasi, yaituhutan asli berubah struktur tegakannya (pohon kayu) menjadi hutansekunder, hutan produksi, dan hutan tanaman.

Adapun deforestasiadalah hutan berubah menjadi semak belukar dan padang lalang.Deforestasi ini yang paling mengkhawatirkan karena luasnya mencapai8.323,5 hektar. Hutan jadi mudah terbakar.

Kepala Balai TNGHSBambang Supriyanto mengatakan, degradasi yang mencapai 22 hektar ituterjadi dalam kurun waktu 15 tahun, yakni dari tahun 1989 sampai 2004.”Laju kerusakannya rata-rata 1,3 persen per tahun. Sejak tahun 2004hingga sekarang relatif belum ada kegiatan restorasi yang memadai danpenelitian yang menyeluruh. Jadi, bisa diasumsikan, degradasi kawasanHalimun Salak semakin besar saja,” kata Bambang.

Asumsi itu adabenarnya mengingat titik-titik kerusakan itu berada di perbatasandengan lahan permukiman atau pertanian milik masyarakat. Belum lagi, didalam kawasan atau di lahan ”tetangga” TNGHS ada aktivitas perkebunan,pertambangan geotermal dan emas, serta tertancap sebelas menarapenyangga kabel tegangan listrik ultratinggi. Apalagi, tenaga pengawas(polisi hutan) hanya 52 orang.

Permadani Paku Andam

Mengikutiaktivitas delapan peneliti ekologi hutan dari LIPI dan IPB pekan laludi Koridor Halimun, terbukti nyata terjadi deforestasi di TNGHS. Hutandi kawasan tersebut menjadi hutan semak belukar, yang banyak dikuasaipohon eksotis, seperti kaliandra, yang mengakibatkan ketidakseimbanganpertumbuhan populasi tanaman asli di koridor tersebut.

KoridorHalimun merupakan areal memanjang dari barat ke timur yangmenghubungkan dua ekosistem Gunung Halimun dan Gunung Salak. Hal itupenting bagi terjadinya aliran genetik dalam upaya pelestariankeanekaragaman hayati ataupun sebagai sistem penyangga kehidupanekologi kawasan. Ini menjadi kawasan yang paling mendesak untuk segeradihutankan kembali.

Menurut Bambang, berdasarkan data citrasatelit yang dimilikinya, koridor tersebut pada tahun 1990 masihsepanjang 1,4 kilometer dengan lebar sekitar 4 kilometer. Pada tahun2001 lebar koridor itu tinggal 0,7 kilometer, atau terdegradasi 347,5hektar.

”Kondisi koridor yang tersisa itu berupa hutan semakbelukar. Di sana pun masih banyak pohon kayu bukan asli kawasan,misalnya, agatis dan mahoni, yang sengaja ditanam di sana sebagaiaktivitas pengolahan hutan produksi. Untuk kembali sebagai hutansekunder, memerlukan waktu puluhan tahun. Perlu ratusan tahun lagiuntuk menjadi hutan hujan pegunungan utuh atau hutan primer,” kataPurwaningsih, salah seorang peneliti itu.

Purwaningsih dan parakoleganya merasa khawatir, koridor itu makin rusak. Saat melakukanpenelitian di tiga zona koridor itu, mereka tetap menemukan penambanganliar. ”Kami malah melihat penebangnya, yang langsung lari begitudidekati. Di lokasi itu ada belasan pohon yang sudah ditebang. Jalan kearah sungai untuk membawa kayu itu sudah ada,” kata Suparno, penelitilain.

”Pengecekan lapangan yang kami lakukan tahun 2006menunjukkan ladang-ladang yang dulu sudah menjadi semak belukar karenaditinggalkan penggarapnya kini menjadi ladang-ladang pertanian kembali.Urusannya untuk segera menanam pohon keras di situ jadi sulit karenakini harus berhadapan dengan manusia lagi,” kata Dones Rinaldi, jugapeneliti.

Selain kaliandra, koridor juga dijajah belukar pakuandam (Dicranopteris linearis). Bahkan sebuah permukaan bukit di sanasudah menjadi ”permadani” hijau belukar, yang tingginya 1-2 meter dansulit untuk diterobos. ”Keberadaan paku andam sebenarnya dapat memenuhipenutupan lahan, dan menjalankan fungsi menahan erosi. Tapi,kekuatannya untuk menyimpan air tentu tak sekuat pohon-pohon besar,”lanjut Dones.

Butuh pencari 4 juta bibit

Selainbelukar, terlihat juga lahan terbuka cukup luas di koridor itu akibattanah longsor. Dari jarak beberapa kilometer, warna merah kecoklatantanah itu terlihat kontras di tengah warna hijau hutan. Penanaman pohonkeras dan restorasi hutan belukar di kawasan itu menjadi suatukeharusan.

Untungnya, tim peneliti dari LIPI dan IPB itu juga mengatakan, bibit pohon kayu asli kawasan itu, seperti puspa, rasamala,saninten, dan berbagai jenis huru, berlimpah di hutan primernya. Jadikebutuhan akan bibit bisa didapat dari sana. Yang jadi soal, bibit yangdibutuhkan untuk merestorasi 8.323,5 hektar adalah sekitar empat jutabibit. Jelas, 52 polisi hutan dan 57 karyawan TNGHS lainnya tidak mampumelakukan hal itu, tanpa dukungan banyak pihak.

Sekarang, apakahkita sebagai pemanfaat sumber daya alam TNGHS, baik secara langsungmaupun tidak langsung, tergerak untuk membantu mencari bibitnya?

Sumber : Kompas, Penulis : Ratih P Sudarsono dan Samuel Oktora.

Sumber: http://www.dishut.jabarprov.go.id/?mod=detilBerita&idMenuKiri=334&idBerita=284

JULI 2003

Warga Mengeluh, Proyek Sulit Menjawab

Written by Redaksi , Friday, 25 July 2003

Setelah 2 hari melakukan liputan ke kawasan Teluk Naga, Suara Publik mengadakan Diskusi Terbatas tentang Dampak dan Manfaat Pengerukan Muara Cisadane, di LP3ES Jakarta, 10 Juli 2003. Hadir dalam acara tersebut, perwakilan proyek pengerukan Ir. Pudji Sutarto, dua pakar hidrologi, Ir. Marsanto dan Ir. Djoko Sasongko, Kepala Desa dan BPD dari desa Tanjung Burung dan desa Kohod, wakil dari Dinas Pengairan Kabupaten Tangerang, dan para aktivis ornop dari Tangerang dan Jakarta. Moderator diskusi ini Erfan Maryono dari LP3ES.

Meskipun agak molor dari waktu yang ditentukan, diskusi tentang pengerukan muara Cisadane berlangsung menarik. Kehadiran dua pakar hidrologi, ditambah antusiasme warga dan aktivis ornop siang itu, memberikan bobot tersendiri pada diskusi. Boleh jadi ini yang menyebabkan wakil pimpinan proyek tampak grogi.

Ada tiga isu pokok yang mencuat dalam diskusi tersebut. Pertama, kurangnya informasi tentang detil proyek pengerukan. Kedua, keinginan kuat warga sekitar muara agar proyek pengerukan Cisadane tidak sampai gagal. Ketiga, ketidakyakinan sebagian warga bahwa proyek pengerukan ini cukup efektif mengatasi masalah banjir di wilayah Teluk Naga, dan Tangerang secara umum.

Keluhan minimnya informasi mengenai detil proyek disampaikan oleh Kepala Desa Kohod, Rohaman. Menurut Rohaman, saat ini banyak warga Kohod yang bertanya-tanya jadi tidaknya proyek ini? Kalau jadi nantinya kayak apa? Apakah pengerukan ini akan menghilangkan banjir di wilayahnya? Hal serupa disampaikan oleh Ahmad, warga desa Tanjung Burung, “Ini proyek bikin puyeng. Soal keruk itu pasti, tapi apa ada dampak lainnya? Misal banjir hilang, tapi kami hanyut terbawa derasnya arus”.

Juru bicara pimpinan proyek pengerukan muara Cisadane, Ir. Pudji Sutarto menjawab, “Sungai Cisadane ini sangat penting, untuk air irigasi maupun untuk pengendalian banjir. Program di sungai ini terdiri dari 3 bagian, jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Pengerukan muara Cisadane termasuk program jangka pendek”. Pudji menambahkan, tahun 2000 kawasan Tanjung Burung terendam karena pendangkalan di muara dan mengganggu transportasi. “Saat ini kedalamam muara hanya 0,5 meter dalam radius 1 km persegi”. Pudji menilai pendangkalan terjadi akibat endapan sungai Cisadane dan pengaruh angin Barat.

Berapa banyak endapan di muara Cisadane dan bagaimana cara mengangkatnya?

Volume endapan ini kurang lebih 150.000 meter kubik, itulah jumlah yang akan dikeruk. Pekerjaan pengerukan terdiri dari dua titik, yakni mengeruk dan membuat tanggul. Tujuannya, memperlancar aliran sungai dan memperbaiki tebing. Pembuatan tanggul ini dibagi dalam 2 tahap, tahap pertama 100 meter dan tahap kedua 200 meter. Untuk jangka menengah akan dibangun pengarah aliran, serta tanggul dibawahnya.

Kemudian ahli hidrologi Ir. Djoko Sasongko bertanya, “Seberapa efektif pengerukan Cisadane mampu mengurangi banjir? Bagaimana kedudukan pengerukan muara terhadap master plan?”. Pertanyaan hampir mirip diajukan Ir. Marsanto, “Proyek ini master plannya seperti apa? Apa dasar pengambilan prioritas pengerukan muara Cisadane. Bagaimana kalau tidak dikeruk. Kenapa sedalam itu. Hasil pengerukan itu bisa bertahan berapa lama?”. Menjawab pertanyaan berbau teknis, Ir. Pudji Sutarto menjawab, “Kegiatan ini sudah termasuk dalam proyek Cilcis, dananya dari APBN. Secara teknis yang namanya pengerukan memang dari hilir. Kenapa dalamnya sekian, karena endapan yang menyumbat aliran memang 2 meter. Pengerukan ini memang perlu kajian, tapi kami mencoba sepotong-sepotong”.

Giliran Suwardi dari dinas pengairan Pemkab Tangerang bertanya soal debit banjir. “Apakah sudah ada penelitian angkutan sedimen dan bagaimana dengan bangunan-bangunan di pinggir sungai, karena jika sudah dikeruk akan mempercepat aliran?” Dijawab oleh Pudji, “Sebenarnya tanggul di muara itu rencana ke depan, soal penurunan muka air akibat pengerukan memang belum ada penelitian”.

Pakar hidrologi, Ir. Marsanto, merasa belum puas. Dia kembali bertanya soal masterplan. “Jika tidak dikeruk apa akibatnya? Susah untuk mengejar akuntabilitas pada pengerukan ini, lalu impaknya apa? Apa untungnya bagi masyarakat? Jika tidak begitu bermanfaat kenapa dikeruk? Lebih baik dananya untuk masyarakat membuat rumah panggung”.

Pertanyaan Ir. Marsanto dijawab oleh warga Teluk Naga. Rohadi dari BPD Kohod mengatakan, “Jika tidak dikeruk, desa Kohod akan kebanjiran 7 kali setahun. Jadi pengerukan ini banyak manfaatnya”. Mamat dari desa Tanjung Burung menimpali, “Setuju dengan pengerukan. Tapi apakah proyek sudah melakukan pengkajian utuh? Jangan sampai hasil pengerukan ini negatif.” Pakar hidrologi, Ir. Djoko Sasongko angkat suara. “Bicara soal manfaat, tergantung pada sedimen, arus laut dan pasang surut air laut. Di Cina pengerukan hanya dilakukan oleh kapal kecil oleh satu keluarga saja. Mereka menggunakan perahu kecil berisi 3-4 orang, yang di belakangnya diberi penggaruk. Kerjanya bolak balik saja di sepanjang sungai yang dikeruk. Saya kuatir, pengerukan ini hanya pengalihan saja. Jadi mohon proyek melakukan musyawarah”.

Ir. Marsanto, belum merasa puas. Dia kembali bertanya, “Saya belum bisa memberikan penilaian karena kurangnya data. Pertanyaan saya, apakah sudah dilakukan uji laboratorium sedimen ini? Tolong saya diberikan hitunggan-hitungannya.

Disambung oleh Ir.Djoko Sasongko, “Tahun 1972 ada masterplan dan diperbaharui pada 1996, yang intinya Cilcis itu dalam satu sistem. Pada prinsipnya, debit air di hilir 1600 m3/detik. Apakah untuk ini dibuat plan? Saya tidak yakin pengerukan ini bagian dari masterplan, tapi hanya berupa pemeliharaan rutin saja.

Bisa tolong dijelaskan?

Juru bicara proyek Ir. Pudji Sutarto menjawab, “Pengerukan ini tidak ada kaitannya dengan proyek Cilcis. Tapi rencana normalisasi sungai.Cisadane sudah ada. Kami ini menggunakan rencana tersebut sepotong-sepotong karena keterbatasan sumber dana.

Haji Husen dari dari Forum Lintas Pelaku (FLP) menyela, “Bagaimana jika ada dampak pengerukan misalnya material hasil pengerukan dikaitkan dengan aspek lingkungannya. Apakah sosialisasi sudah dilakukan”. Dilanjutkan, pertanyaan dari dinas pengairan Pemkab Tangerang, “Bagaimana dengan nelayan kecil? Jika ada pengerukan, debit air akan bertambah besar. Kemudian soal erosi, siapa yang bertanggungjawab”.

Ir. Pudji Sutarto menjawab, “Kami sudah melakukan sosialisasi di desa Tanjung Burung pada 4 Juni 2003. Tapi desa Kohod memang belum, karena kami menilai desa ini tidak langsung terkena dampaknya, dan tidak akan dilewati alat berat.”

Tak terasa diskusi sudah berlangsung lebih dari 3 jam. Moderator, Erfan Maryono kemudian menyimpulkan beberapa poin. Pertama, warga Tangerang harus mendesak agar normalisasi Sungai Cisadane segera dilakukan. Karena jika hanya pengerukan muara Cisadane, manfaatnya hanya sedikit. Kedua, pengerukan ini harus mengikutsertakan warga setempat, disertai perbaikan tanggul dan tebing sungai untuk mencegah erosi. Ketiga, Penanganan banjir sebaiknya sekaligus dengan penanganan bantaran kali dan harus jelas siapa yang bertanggung jawab. Yang terakhir dan terpenting, secara terbuka proyek menyampaikan rencananya, agar informasi tentang detil proyek dapat dipahami seluruh warga (*/EM)

Sumber: http://www.suarapublik.org/index.php?option=com_content&task=view&id=40&Itemid=26

Written by airsungaikelassatu2020

November 16, 2008 at 8:19 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: