sungaibersih2020

Sungaiku Bersih Sungaiku Jernih

2006 – Aksi

leave a comment »

MARET 2006

PROGRAM SUNGAI BERSIH

Kali Ciliwung Dibeningkan Setiap Tiga Bulan


Senin, 20 Maret 2006

Sekretaris Satuan Koordinator Pelaksana Penanggulangan Bencana Provinsi (Satkorlak PBP) DKI Jakarta Hariyanto Badjoeri menyatakan program pembersihan aliran sungai Ciliwung untuk mengurangi volume sampah akan dilakukan rutin tiga bulan sekali.

“Minimal tiga bulan sekali akan ada kegiatan rutin seperti ini. Pelaksananya akan berasal dari unsur Satkorlak yang terdiri dari beberapa dinas terkait seperti Dinas Kebersihan, Pekerjaan Umum, Trantib dan BPLHD. Dengan melakukan pembeningan sungai atau penyucian terhadap Kali Ciliwung, kami berharap sungai itu bisa memberi manfaat banyak bagi warga kota,” kata Hariyanto yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Ketentraman, Ketertiban, dan Perlindungan Masyarakat DKI Jakarta di sela acara pelaksanaan Program Sungai Bersih Ciliwung, di Jakarta, Minggu.

Program sungai bersih itu dilakukan dengan cara menyusuri Ciliwung menggunakan perahu karet. Peserta program itu kemudian memungut sampah di sungai tersebut. Ini merupakan salah satu cara untuk mengajak masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran Ciliwung untuk tidak membuang sampah di pinggir sungai.

“Kita nantinya juga akan meminta kepada para lurah untuk memberikan pengertian kepada masyarakatnya dan secara bersama-sama menjaga kebersihan sungai. Kalau sungai di Jakarta semua bersih, manfaatnya banyak, antara lain bisa dijadikan sarana lalu lintas seperti di kota-kota besar di Eropa,” ujarnya.

Untuk itu, Hariyanto Badjoeri mengharapkan ke depan masyarakat ikut terlibat dalam program itu. Dengan demikian rasa kepedulian terhadap kebersihan di sekitar lingkungan mereka dapat terwujud.

“Target jangka panjang adalah masyarakat. Tadi waktu kita susuri aliran sungai dari kawasan Tanjung Barat hingga Kalibata, terlihat banyak lokasi di pinggir sungai menjadi tempat pembuangan sampah,” ujar Hariyanto.

Kegiatan Program Sungai Bersih Ciliwung yang diselenggarakan pada Minggu (19/3) kemarin sejak pukul 08.00 WIB itu merupakan salah satu rangkaian kegiatan peringatan HUT ke-56 Satuan Polisi Pamong Praja DKI Jakarta ke-56 dan HUT ke-44 Linmas.

Pelepasan rombongan yang menyusuri Sungai Ciliwung dari jembatan TB Simatupang, Tanjung Barat, hingga jembatan Kalibata dilakukan oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.

Acara ini melibatkan 20 perahu dengan jumlah relawan mencapai 750 orang terdiri dari unsur petugas Trantib dan Linmas, relawan dari Sampoerna Rescue dan komunitas Ciliwung bersih yang beranggotakan unsur pecinta alam dari berbagai organisasi.

Salah seorang aktivis Komunitas Ciliwung Bersih, Budi Cahyono, mengatakan sebelumnya komunitas tersebut telah melakukan kegiatan serupa, memungut sampah yang ditemui ketika menyusuri sungai di DKI Jakarta dan juga di Jabar. “Sebagian besar sampah itu berasal dari rumah tangga . Kerap juga ditemui di sepanjang Sungai Ciliwung antara Tanjung Barat hingga Kalibata beberapa tempat pembuangan sampah di tanah milik pribadi yang kemudian limpahan sampahnya meluber hingga masuk ke sungai,” katanya.

Budi menambahkan, kecuali kegiatan pada Minggu (19/3) kemarin yang melibatkan 20 perahu itu, biasanya kegiatan komunitasnya melibatkan 9 perahu karet. “Di setiap perahu karet biasanya kita membawa sekitar 10 hingga 20 karung untuk tempat sampah yang kita pungut. Setelah itu sampahnya kita buang di TPS Pancoran,” ujarnya.

Komunitas Ciliwung Bersih, menurut Budi beranggotakan aktivis pecinta alam dari sejumlah perguruan tinggi seperti IISIP, Atmajaya, Perbanas, Universitas Bung Karno dan juga pecinta alam TRAMP yang memiliki sekretariat di GOR Bulungan.

“Di masa yang akan datang kami mengharapkan masyarakat dapat ikut serta dengan berperahu dan kemudian memungut sampah di sungai. Dari survei kami, nanti akan diusulkan pembangunan sembilan tempat pembuangan sampah (TPS) sementara, mudah-mudahan ada dukungan dari swasta untuk hal itu,” katanya.

Pembangunan TPS sementara itu, menurut Budi, perlu dilakukan agar masyarakat tidak lagi membuang sampah di sungai. Sebab, sampah di sungai itu akan membuat air sungai meluap saat hujan deras karena terjadi pendangkalan dan alirannya terhambat. (Ant/Herman)

Sumber: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=138666

MEI 2006

Menjadikan Ciliwung Bersih dan Menawan

Sabtu, 20 Mei 2006

Oleh: Norman Meoko

JAKARTA-Keinginan Pemerintah Daerah (Pemda) Jakarta mengubah Sungai Ciliwung menjadi sebuah sungai yang “jernih” dan menawan serta bisa dilayari secara sederhana seperti sering dilakukan warga Kota Batavia di masa lalu agaknya masih menjadi impian.

Kualitas air Sungai Ciliwung kini dalam kondisi tercemar berat mulai dari hulunya di Puncak, Kabupaten Bogor, hingga hilirnya di Jakarta. Di samping beban pencemaran yang makin tinggi, kawasan konservasi di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) pun makin berkurang.

Buruknya kualitas air Sungai Ciliwung terlihat dalam pembagian lima segmen dari hulu hingga hilir sungai. Kementerian Negara Lingkungan Hidup menyebutkan, tidak ada satu pun dari bagian lima segmen itu yang kualitas airnya kelas I. Kualitas air kelas I artinya airnya dapat digunakan untuk air baku air minum, sedangkan kualitas air kelas II artinya airnya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air dan perikanan. Kualitas air kelas III artinya airnya dapat digunakan untuk usaha pertanian dan budidaya ikan air tawar, sedangkan kualitas kelas IV artinya air dapat digunakan untuk mengairi pertamanan.

Sumber pencemaran Sungai Ciliwung berasal dari limbah domestik, limbah industri, limbah pertanian, dan limbah peternakan. Diakui atau tidak kondisi itu menggambarkan bagaimana rendahnya kepedulian dan kesadaran warga untuk tidak membuang limbah ke sungai. Jujur saja tanpa kesadaran akan pentingnya sungai bagi kehidupan agaknya sulit untuk dibayangkan berapa banyak sampah yang akan terbuang ke sungai-sungai di Jakarta.

Setiap hari warga Jakarta menghasilkan sedikitnya 25.000 meter kubik sampah. Sebagian besar sampah dibuang ke Sungai Ciliwung. Tragisnya lagi sebagian besar sampah yang dibuang itu kebanyakan adalah sampah plastik yang sulit didaur ulang, seperti botol plastik bekas air mineral atau plastik kresek pembungkus. Plastik yang terbuang ke sungai akan meninggalkan zat beracun di dalam air dan meresap ke dalam air tanah. Pencemaran racun dari plastik ditambah bahan kimia lainnya terutama dari limbah industri yang berada di sepanjang DAS Ciliwung menambah deretan persoalan Ciliwung.

Program Kali Bersih (Prokasih) untuk membersihkan Sungai Ciliwung yang dicanangkan Menteri Negara KLH Emil Salim tahun 1989 lalu pun tidak membuahkan hasil.

Penertiban bangunan liar di sepanjang DAS Ciliwung pun kini tinggal kenangan. Kondisi itu berbeda dengan saat Wiyogo Atmodarminto menjabat Gubernur DKI Jakarta. Waktu itu, Pemda Jakarta membabat habis bangunan liar yang berada di sepanjang DAS Ciliwung, termasuk WC helikopter yang banyak bertebaran di sepanjang sungai. Kebijakan ini pun berlanjut di masa Gubernur Surjadi Soedirdja.

Agaknya tidak salah jika Pemda Jakarta kini kembali menggiatkan penertiban bangunan liar di sepanjang DAS Ciliwung. Bahkan, jika mungkin pembangunan semua bangunan di sepanjang tepi Sungai Ciliwung diharuskan menghadap Sungai Ciliwung dan membuat jalan yang memisahkan antara bangunan dengan tepi sungai. Bahkan, jika perlu sepanjang sungai dipagari. Dengan demikian daerah tepi sungai akan selalu terjaga keindahannya.

Penghuni permukiman pada alur-alur bantaran Sungai Ciliwung diperkirakan telah mencapai lebih dari 71.000 jiwa yang menempati lebih dari 14.000 bangunan liar.

Di samping langkah itu, patut juga dipikirkan upaya restorasi ekologis untuk memulihkan kondisi lingkungan bantaran Sungai Ciliwung. Upaya tersebut perlu dikonservasi sebagai sempadan sungai untuk memulihkan komunitas bantaran sungai secara alamiah melalui rehabilitasi habitat, pengayaan jenis, serta sosialisasi untuk menumbuhkan kesadaran warga terhadap pentingnya arti Sungai Ciliwung untuk kehidupan mereka sehari-hari.

Dengan langkah itu setidaknya impian menjadikan Sungai Ciliwung yang jernih dan menawan dapat terwujud.

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0605/20/jab02.html

AGUSTUS 2006

Kualitas Air Sungai di Indonesia Terus Menurun, Rencana Induk Pemulihan Sungai Ciliwung

Jakarta, CyberNews. Kualitas air sungai di Indonesia terus menurun akibat pencemaran sehingga penyediaan air terbatas. Limbah domestik, industri, pertanian dan peternakan mempengaruhi kualitas air sungai di Indonesia yang berjumlah lebih 400 jenis.

Asisten Deputi Urusan Pengendalian Kerusakan Sungai dan Danau di Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Antung Dedy R mengungkapkan hal itu di Jakarta sehubungan dengan laporan Status Lingkungan Hidup 2005 yang dikeluarkan KLH.

Pemantauan kualitas air bersih di 32 sungai tahun 2004 dan 30 sungai tahun 2005 di Indonesia oleh KLH dengan frekuensi pengambilan dua kali dalam setahun menunjukkan lebih dari 50 persen parameter DO (dissolved oxygen), BOD (biochemical oxygen demand), COD (chemical oxygen demand), fecal coli dan total coliform yang dipantau sudah tidak memenuhi kriteria mutu air kelas I sesuai dengan PP Nomor 82 Tahun 2001.

Untuk parameter BOD tahun 2005 misalnya turun dari 26 persen tahun 2004 jadi 19 persen (2005) dan COD naik dari 29 persen tahun 2004 jadi 37 persen (2005) dari keseluruhan sampel yang diambil yang memenuhi kriteria mutu air kelas I. “Untuk memulihkan kualitas sungai-sungai itu, semua sektor termasuk departemen kehutanan, pertanian dan pekerjaan umum harus punya aksi dan mengeroyoknya,” kata Antung.

Dari sejumlah sungai yang tercemar itu, KLH telah membuat rencana induk untuk pemulihan Sungai Ciliwung mulai tahun ini hingga 2026 dengan melibatkan pemerintah pusat, provinsi DKI Jakarta, provinsi Jawa Barat, kabupaten Bogor dan pemerintahan kota administratif Depok.

Ditargetkan tiap lima tahun, kualitas air di sungai ini naik dan langkah serupa juga akan dilakukan di provinsi lain yang kualitas air sungainya seperti Sungai Ciliwung. Sebagai perbandingan, Singapura yang merupakan negara kota dan tetangga Indonesia memerlukan waktu 18 tahun untuk memulihkan kualitas air sungai-sungainya. “Sungai Ciliwung sebagian besar dicemari oleh limbah domestik dan sungai ini tak punya kelas,” ujar Antung.

KLH mengkategorikan air menjadi kelas I dan II. Kelas I yaitu air yang dapat digunakan untuk air baku air minum dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut; kelas II yaitu air yang dapat digunakan untuk prasarana dan sarana rekreasi air, budi daya ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

Ia juga mengatakan dibutuhkan dana besar untuk menurunkan beban pencemaran. “Sebagai contoh kasus di Bogor, perusahaan air minum setempat memerlukan Rp535 miliar per tahun untuk menurunkan BOD hingga sebesar 6,95 mg/liter,” ujarnya.

Karena kualitas air sungai yang terus menurun, Antung menambahkan bahwa Jakarta, Yogyakarta, dan Jawa Timur mengalami krisis ketersediaan air baku. “Pemerintah tidak tinggal diam dan telah melancarkan gerakan nasional kemitraan penyelamatan air yang melibatkan KLH, Departemen Kehutanan dan Pekerjaan Umum tahun lalu. Walau tidak siginifikan, kini kualitas air Sungai Ciliwung mengalami peningkatan,” katanya.

Sumber:  http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0608/16/nas8.htm

DPR MINTA DANA TAMBAHAN DIALOKASIKAN UNTUK PENANGGANAN PENCEMARAN LINGKUNGAN

Sumber : dpr.go.id

dpr.go.id, Komisi VII DPR minta Kementerian Lingkungan Hidup untuk mengalokasikan dana tambahan 100 miliar hasil dari sinkronisasi Panitia Anggaran untuk pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup dengan program-program pilot project tertentu.

“Kalau bisa dibuat seperti Daerah Aliran Sungai (DAS) di Sungai Ciliwung, di Sungai Musi dan di Sungai Siak dijadikan proyek percontohan, “ kata Ketua Komisi VII DPR RI Agusman Effendi yang didampingi Wakil Ketua Komisi VII DPR A. Sonny Keraf dan Sutan Bhatoegana saat membacakan kesimpulan rapat.

Dalam Raker yang berlangsung di Gedung Nusantara I, Senin (08/10) tersebut, kalangan anggota Komisi VII DPR mengkritisi program-program yang diajukan KLH.

Bahkan Ketua Komisi VII DPR Agusman Effendi dan Wakil Ketua Komisi VII DPR A. Sonny Keraf menilai KLH lebih mengutamakan program-program yang berupa kajian. Karena itu Komisi VII mendesak agar Meneg LH lebih pada program pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup.

“Betul memang perlu ada kajian, tapi kita bukan universitas, jadi harus lebih banyak program yang nyata untuk menanggani dan mengendalikan pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup, “ kritik A. Sonny Keraf yang pernah menjadi Menteri Lingkungan Hidup.

Sementara untuk program pembangunan gedung LH yang dinilai tidak representatif, kata Agusman, Komisi VII DPR menyarankan agar dilakukan dengan sistem multi years.

Dengan adanya tambahan anggaran 100 Miliar tersebut, maka total anggaran untuk KLH pada tahun 2006 Rp. 527 Miliar.

Kabut Asap

Pada Raker yang dipimpin Ketua Komisi VII DPR RI Agusman Effendi (FPG) tersebut, sejumlah anggota Komisi VII juga mengkritisi penangganan kebakaran hutan yang berujung pada kabut asap yang tak kunjung reda. Bahkan, kabut asap tersebut telah menyebabkan lumpuhnya sejumlah kota, termasuk Kuala Lumpur.

“Kejadian ini terus berulang. Apa kerjanya pemerintah ? Jika LH kesulitan, Kami siap untuk menambah anggaran untuk pencegahan kebakaran ini, “ cetus Ramson Siagian (FPDI Perjuangan).

Senada dengan Ramson, A. Sonnyn Keraf menyatakan mendukung adanya anggaran untuk penangganan kabut asap. Karena kabut asap tahun 2006 ini merupakan puncak ke-2 setelah kabut asap pada tahun 1997.

“Saya sudah takut, tapi kayaknya Pak Menteri tidak takut, “ cetus A. Sonny Keraf.

Sementara itu anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Royani Haminullah berpendapat masalag kabut asap memerlukan koordinasi lintas departemen antara Departemen KLH, Departemen Kehutanan dan Departemen Pertanian yang membidangi perkebunan.

Menanggapi berbagai pernyataan tersebut, Meneg LH Rachmat Witoelar mengakui bahwa KLH selalu disalahkan jika ada masalah kabut asap.

“Saya mau curhat Pak, memang KLH selalu disalahkan pers baik luar maupun dalam negeri. Padahal masalah kabut asap tidak sepenuhnya tanggungjawab KLH. Karena itu perlu ada restrukturisasi penangganan kebakaran hutan, “ kata Rachmat.

Lebih jauh Rachmat mengusulkan agar penangganan kebakaran hutan ke depan diserahkan kepada Departemen Dalam Negeri- karena Pemdanya dibawah koordinasi Depdagri, Departemen Kehutanan dan Departemen Pertanian yang membidangi perkebunan.

“Sementara KLH akan berfungsi sebagai sosialisasi , pengawas dan penegakkan hukumnya, “ tambahnya.

Untuk menanggani kabut asap, jelas Rachmat, saat ini KLH tengah mengupayakan ratifikasi kesepakatan ASEAN tentang Polusi Asap Lintas Batas.

Menanggapi hal tersebut, Agusman menjelaskan saat ini DPR tengah mendalami draft ratifikasi yang diajukan LH. “Mudah-mudahan dalam waktu dekat pandangan umum fraksi-fraksi dapat kita dengarkan, “ tambahnya.

Krisis Air Bersih

Masalah lain yang diminta Komisi VII DPR untuk dikedepankan oleh KLH adalah krisis air bersih yang melanda sejumlah daerah di Indonesia terutama Jawa Timur dan Jawa Tengah.

“Jika masalah ini tidak disikapi secara serius, kami khawatir tahun 2010 di krisis air akan melanda seluruh Indonesia, “ tegas Tjatur.
Anggota Komisi VII dari Fraksi Partai Demokrat Burhanuddin Bur Maras langsung mendukung masukan Tjatur.

“Konstituen saya di Jawa Tengah terpaksa mengkonsumsi air yang tidak layak minum. Karena itu ada baiknya KLH belajar dari Robert Trent Jones yang berhasil menyediakan air bersih di Pondok Indah dan melakukan studi banding ke Oklahoma berhasil merubah kota yang semula kesulitan air menjadi kota yang kaya akan air bersih, “ papar Bur Maras. (ha)

Sumber: http://202.133.9.215/artikel/terkini/artikel.php?aid=1778

Written by airsungaikelassatu2020

November 19, 2008 at 1:34 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: