sungaibersih2020

Sungaiku Bersih Sungaiku Jernih

2004 – Fakta / Status

leave a comment »

MARET 2004

Kepadatan Penduduk dan Harga Tanah Tinggi, Penyebab Pencemaran Ciliwung

Jakarta, Pelita, 31 Maret 2004

Kepadatan penduduk yang tinggi serta kian mahalnya harga tanah merupakan latar belakang dari munculnya rumah-rumah pemukiman di kawasan ilegal sepanjang sisi sungai Ciliwung dan anak sungai lainnya. Berdasar penyelidikan peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB), pemukim ilegal ini ialah sumber pencemar aliran sungai Ciliwung yang mengalir sepanjang Jakarta Bogor Puncak Cianjur (Jabopunjur).”Sehingga dibutuhkan strategi jitu untuk melakukan pengendalian pencemaran tersebut,” ujar peneliti ITB, Prayatni Soewondo dalam Lokakarya Nasional ‘Pengelolaan Kawasan Jabopunjur untuk Pemberdayaan Sumber Daya Air’ yang diselnggarakan Lembaga Penelitian Indonesia (LIPI) pada 30-31 Maret 2004.

Menurutnya sungai Ciliwung merupakan bagian terpenting dalam kehidupan di wilayah Jabopunjur. Sungai sepanjang 117 km dan memiliki daerah aliran sungai 322km persegi ini sebagian besar menyebar di Jawa Barat dan menjadi bagian penting ibu kota Jakarta.

Namun adanya pemukim ilegal dengan kepadatan penduduk tinggi, maka jumlah limbah padat dan cair yang berasal dari mereka terus bertambah setiap harinya. Padahal sungai Ciliwung juga merupakan sumber perolehan air mereka dalam menunjang hidup kesehariannya. Hasil penelitian menunjukkan limbah yang dihasilkan 1-4 meter kubik per hari.

Tata guna lahan di bagiuan hulu Ciliwung adalah perkebunan dan pertanian, sementara di bagian tengah maupun hilir didominasi pemukiman padat dan industri. Di sepanjang sungai, terutama di Bogor, banyak terdapat sampah, keramba ikan dan penggunaan air sungai untuk Mandi Cuci Kakus (MCK) oleh penduduk sekitar.

Warna air sungai Ciliwung di bagian hulu bening dan jernih, tetapi memasuki daerah perkotaan seperti Bogor sampai Sugutamu (Depok) warna air agak kuning kecoklatan. “Warna keruh itu akibat langsung limbah domestik dari penduduk sisi sungai Ciliwung,” ujar Prayatni.

Karena itu dibutuhkan beberapa skenario untuk melaksanakan strategi pengendalian pencemaran tersebut. Para peneliti ITB memiliki 7 skenario yang didasarkan pada asumsi bahwa tingginya konsentrasi pencemar di sungai Ciliwung secara dominan diakibatkan oleh limbah domestik dan limbah industri.

Skenario tersebut dilakukan dengan membuat pengurangan kuantitas dan kualitas beban limbah yang masuk dari sisi di sepanjang sungai. Skenario tersebut disusun secara teoritis bahwa pwnanggulangan limbah domestik salah satunya adalah dengan membuat septictank yang dapat mencapai efisiensi 60-70 persen. Sedangkan limbah industri dapat ditangai dengan mengefektifkan penggunaan IPAL (Instalasi Pengolahan Limbah).

Pembangunan IPAL Terpadu merupakan kebutuhan utama, terlebih untuk menangani limbah domestik. Langkah lainnya ialah ditujukan kepada sumber konsentrasi pencemar yaitu pemukim illegal sepanjang sungai dengan sosialisais dan penyuluhan. Serta penegakan peraturan tata guna lahan bahan baku mutu kualitas air baik untuk keperluan domestik maupun industri. (mth)

Sumber: http://www.pelita.or.id/baca.php?id=24838

APRIL 2004

Menabur Sampah, Menuai Pencemaran di Ciliwung

Rabu, 14 April 2004

Jakarta – ’’Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit”. Pepatah tersebut, jika diadukan dengan konteks pencemaran di Ciliwung, bisa jadi bukannya kekayaan yang kita dapat, tetapi malah kehancuran. Maka, berhati-hatilah dengan sampah yang kita buang setiap hari. Karena bukan tak mungkin, sampah yang tampaknya sepele itu bisa meng-ubah wajah sebuah sungai.

Tanpa mengenyampingkan proses alam seperti sedimentasi dan limbah industri, limbah rumah tangga merupakan salah satu polutan yang turut memberikan sumbangan cukup signifikan pada pencemaran sungai. Setidaknya, itulah yang terlihat dari penyusuran SH dari hulu hingga hilir sungai Ciliwung, Sabtu (20/3) hingga Senin (22/3).

Ciliwung bersumber antara lain dari sebuah mata air yang mengalir di perkebunan teh Ciliwung, Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Di tengah perkebunan teh, hulu Ciliwung itu membentuk air terjun kecil setinggi kurang lebih 6 meter. Airnya jernih dan dingin, turun memerciki pakis dan tanaman lain yang tumbuh rapat di sekitar air terjun, kemudian terus turun membentuk sungai kecil yang mengalir membelah perkebunan teh. Belum terlihat sampah mengotori aliran air itu.

Menurut Dudu (60), warga Cibulaok yang ditemui di lokasi, air di hulu Ciliwung itu masih sangat bersih, sehingga bisa langsung digunakan warga sekitar untuk kebutuhan sehari-hari. Biasanya, warga memasang jaringan pipa untuk mengalirkan air Ciliwung itu ke rumah-rumah.

Tak hanya rumah tangga, lanjut Dudu, banyak pula vila di Puncak Pass yang mengambil airnya dari hulu Ciliwung. ’’Ini bersih, kan langsung dari gunung. Biasanya warga bikin jaringan pipa dari sini ke rumah, lalu di rumah dibangun kolam untuk menampung air dari sini. Ada juga vila di Puncak Pass yang mengambil airnya dari sini. Di atas, dia bangun kolam, lalu dialirkan ke vila-nya menggunakan pipa pralon. Entah, berapa ratus meter pralon yang dipasangnya,” tutur Dudu.

Sayangnya, ’’wajah” cantik Ciliwung itu tak bertahan lama. Turun ke pemukiman penduduk pertama setelah mata air kebun teh, yaitu Desa Naringgul, Kelurahan Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kab. Bogor, sungai mulai dikotori oleh sampah-sampah, meski air masih terlihat jernih.

Di bawah jembatan tak jauh dari masjid Atta’Awun, misalnya, pinggiran kali digunakan sebagai tempat pembuangan sampah oleh warga sekitar. Tumpukan sampah rumah tangga berupa daun pisang, kantong plastik berisi sampah, botol plastik, terlihat menumpuk di tepi sungai.

Apong, pemilik warung di RT 001/RW 17 Kel. Tugu Selatan, mengatakan sampah itu sengaja dibuang warga ke sungai agar dihanyutkan air saat hujan turun. Warga Naringgul memang tak lagi mengkonsumsi air kali, karena di desa itu terdapat mata air. ’’Kalau air sungai kan kotor, jadi nggak dipakai. Itu (sungai–red) hanya untuk buangan saja. Kalau air, kita ambil dari mata air,” kata Apong.

Pilihan membuang sampah ke sungai, menurut Bawono, Ketua RT 001/17, terpaksa dilakukan warga karena pada musim penghujan sampah tidak bisa dibakar.

Sementara, truk sampah dari Kecamatan Cisarua hanya mengambil sampah satu minggu sekali. Itupun lebih memprioritaskan sampah dari warung atau sampah yang berceceran di jalan, hasil ’’karya” mobil-mobil wisatawan yang terjebak macet.

’’Kalau akhir minggu, jalanan ini macet sekali. Mobil-mobil yang terjebak macet sering membuang sampah di jalan, sehingga pada hari Senin harus ada petugas khusus yang menyapu jalan untuk membersihkannya. Pada hari itulah biasanya datang mobil sampah dari kecamatan, sekalian mengangkut sampah dari warung-warung,” ucap Bawono.

Tong Sampah

Tak hanya di hulu, di bagian tengah badan Ciliwung, perilaku menganggap sungai sebagai tong sampah juga terlihat. Bahkan, seiring semakin padatnya permukiman, volume sampah yang dibuang ke sungai justru semakin besar. Bahkan tak hanya sampah rumah tangga, pasar dan industri juga membuang sampahnya ke aliran Ciliwung. Karenanya, meski masih bisa ditolerir, pada bagian ini Ciliwung mulai terlihat keruh dan kumuh.

Padahal, tak tertutup kemungkinan bahwa di tempat sama, sungai juga dianggap sebagai sumber air guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di Kelurahan Baranangsiang, Kecamatan Bogor Timur, misalnya, bukan pemandangan aneh jika ada orang yang mencuci pakaian dan mandi, sementara tak jauh dari tempat itu terlihat gundukan sampah yang dibuang ke sungai.

Nunuh, warga RT 001/04 Pulo Geulis, Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, Minggu (21/3), mengatakan bahwa warga sebenarnya sudah diperingatkan agar tak membuang sampah ke sungai. Tetapi secara sembunyi-sembunyi hal itu tetap dilakukan warga. Alasannya, membuang sampah di sungai merupakan pilihan termudah, dibandingkan harus bersusah payah mengangkut sampahnya ke tempat pembuangan sampah (TPS) terdekat.

’’Sebenarnya sudah dilarang (pengurus) RW. Kalau ketahuan pasti dimarahi. Tapi namanya sudah kebiasaan, ya susah dilarang. Tetap saja, kalau lagi sepi, kayaknya nggak ada petugas, warga tetap membuang sampah ke sungai,” kata Nunuh.

Tak hanya di tengah, di hilir pun kebiasaan menganggap Ciliwung sebagai tong sampah masih terus berlangsung. Tak heran, semakin ke hilir (di mana populasi semakin padat dan sedimen terkumpul), kesan kotor Ciliwung semakin terasa. Pengamatan SH di Kelurahan Palsigunung, Depok, Senin (22/3), air Ciliwung tak lagi berwarna bening, tapi sudah berubah menjadi keruh kecoklatan.

Pada bagian ini, selain rumah tangga, juga ditemui sejumlah pabrik tahu yang membuang limbahnya ke sungai. Bahkan, berkaitan dengan ijin lingkungan, pabrik-pabrik tahu itu selalu bertempat di tepian sungai. ’’Kalau di dalam perkampungan nanti kita diprotes warga, karena limbah proses pembuatan tahu ini berbau tak enak. Makanya kita pilih yang dekat dengan kali,” tutur Ewok, salah satu pembuat tahu di Palsigunung.

Limbah dimaksud, selain cairan yang terbuang selama proses pembuatan, juga ampas tahu yang tak laku dijual sebagai makanan ternak. Apapun sumber sampah yang terbuang ke sungai, hasil akhir penumpukan sampah itu terlihat jelas di ujung hilir sungai, yaitu di muara. Di hutan Angke, Kapuk, Jakarta Utara, di mana bermuara sungai Cengkareng Drain—yang merupakan salah satu keluaran aliran Ciliwung—sampah tertumpuk menutupi pantai.

Semua sampah yang tertumpuk di muara sungai itu adalah sampah anorganik, yaitu plastik, styrofoam dan spons. Sampah yang tak bisa terurai secara alami dan tak dibersihkan dengan cara diangkut itu menimbulkan bau tak sedap. Vegetasi pantai seperti pohon bakau, tak terlihat di sekitar tumpukan sampah itu, meski daerah itu termasuk wilayah hutan kota. Begitupun air sungai, sudah berwarna hitam pekat dan berbau menusuk hidung.

Pemandangan menyedihkan yang terhampar di muara sungai itu terasa sangat bertolak belakang dibandingkan dengan wajah Ciliwung yang bisa dilihat di bagian hulu, di mana air mengalir jernih bagaikan sungai yang dipamerkan dalam iklan-iklan air mineral. Tidakkah itu menimbulkan pertanyaan: apa saja yang sudah kita lakukan ketika sungai itu mengalir melalui tempat tinggal kita? (SH/ruth hesti utami/sulung prasetyo)
Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0404/14/sh05.html

MEI 2004

Sungai di Jakarta, WC Terpanjang di Dunia

Rabu, 05 Mei 2004

SUNGAI hanya digunakan sebagai tempat untuk membuang sampah dan kotoran. Itulah kenyataan yang terjadi di Jakarta. Meskipun pemerintah selalu mengklaim Jakarta adalah kota yang modern, cara pemerintah memperlakukan sungai-sungai di Jakarta sungguh memprihatinkan.

Sungai dibiarkan begitu saja tanpa diurus. Warga yang terus berdatangan ke Jakarta juga dibiarkan saja menempati lahan-lahan kosong di sepanjang bantaran sungai, bahkan belakangan, gedung-gedung tinggi dan perumahan mewah. Selain hanya sebagai tempat untuk membuang sampah dan kotoran, sungai sepertinya tidak punya fungsi apa-apa lagi.

Di perkampungan sepanjang bantaran Ciliwung, di daerah Kampung Melayu, misalnya, banyak warga masih menggunakan WC “cemplung” untuk buang air besar. Disebut WC “cemplung” karena kotoran yang keluar langsung masuk ke badan sungai. Kalau tidak membangun WC “cemplung”, warga menyalurkan pembuangan limbah domestiknya langsung ke badan sungai.

Meski sungai banyak digunakan untuk membuang kotoran, termasuk kotoran manusia, ternyata masih banyak warga yang menggunakan sungai sebagai sumber air minum. Hal itu tentu mengancam kesehatan masyarakat karena sungai tercemar bakteri Escherichia coli dari kotoran manusia. Bakteri itu bisa menyebabkan penyakit diare yang parah pada manusia.

Selain itu, sungai juga masih menjadi pilihan utama bagi warga Jakarta untuk membuang sampah. Hal itu bukan hanya terjadi di Sungai Ciliwung dan Pesanggrahan, tetapi juga di sebagian besar sungai lainnya di Jakarta. Semakin ke tengah kota, tumpukan sampah di bantaran sungai makin banyak. Di beberapa bantaran sungai, kondisinya bahkan tampak seperti tempat pembuangan akhir sampah.

Selain bantarannya rusak, kualitas air sungai di Jakarta juga semakin menurun, termasuk kualitas air Sungai Ciliwung yang digunakan sebagai sumber baku air minum. Pemantauan Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) menyebutkan, kualitas biological oxygen demand (BOD) dan chemical oxygen demand (COD) air Sungai Ciliwung yang digunakan PD PAM Jaya telah melampaui baku mutu yang ditetapkan. Ini terjadi akibat banyak limbah domestik yang masuk ke dalam sungai.

Parameter lain yang mencemari Sungai Ciliwung dan sungai lainnya adalah minyak dan lemak, zat organik, surfaktan, dan timbal. Selain Ciliwung, sumber air baku air minum lainnya berasal dari Sungai Krukut dan Kalimalang.

Sementara itu, limbah air kotor lainnya (yang berasal dari kamar mandi, dapur, dan tempat cucian) langsung dibuang masuk ke selokan yang sebenarnya berfungsi mengalirkan air hujan. Dari selokan, limbah air kotor langsung masuk ke sungai tanpa diolah. Hal itu menyebabkan sungai di Jakarta tidak pernah bersih.

Pemantauan Kompas di lapangan, sungai-sungai dan kanal di Jakarta kebanyakan dicemari sampah plastik dan kertas. Selain sampah, air sungai juga tampak hitam dan berbau busuk menyengat. Di pintu air Manggarai, misalnya, sampah tertimbun di sepanjang pintu air itu. Adapun air Kali Grogol berwarna hitam pekat dan berbau busuk menyengat.

Program Kali Bersih (Prokasih) sudah 14 tahun dicanangkan, tetapi hasilnya hampir tidak kelihatan. Sebagai kota dengan penduduk 12 juta lebih, Jakarta memang harus memiliki sistem perpipaan air limbah atau sistem pengolahan air limbah yang memadai. Sekarang ini sistem perpipaan air limbah hanya ada di daerah Setia Budi, Tebet, dan Kuningan. Fasilitas peninggalan Belanda itu pernah dijadikan proyek percontohan oleh Bank Dunia.

Pemerintah Provinsi DKI pernah beberapa kali melempar gagasan akan membangun sistem perpipaan air limbah yang baru, tetapi pelaksanaannya sampai sekarang tersendat-sendat. Untuk membiayai proyek senilai Rp 32 triliun itu, ada dua skenario yang pernah diajukan, yaitu meminjam dari Pemerintah Jepang atau dilaksanakan dengan sistem konsesi.

Sistem pengolahan air limbah domestik juga belum dilakukan di permukiman padat penduduk. Masyarakat tidak pernah dibina untuk membuat septictank bersama guna mengolah limbah kotorannya secara bersama-sama pula. Jangan heran kalau sungai di Jakarta akhirnya menjadi WC terpanjang di dunia. Di mana setiap hari, ratusan ribu orang membuang kotorannya ke dalam badan sungai. (lusiana Indriasari)

Sumber: http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0405/05/metro/1002081.htm

MEI 2004

Dari Gesang ke Sutiyoso Lewat Ciliwung

Selasa, 11 Mei 2004

SUNGAI yang mengalir di tengah-tengah kota bisa jadi hal yang menyenangkan, tetapi bisa pula menyebalkan. Jika difungsikan dengan baik dan benar seperti di kota-kota besar di Eropa, Amerika Serikat, India, Persia, dan China, tentu sungai dapat memberi penghasilan yang lumayan bagi kota itu sendiri. Namun, bila ditelantarkan, bersiaplah menghadapi akibatnya.

Cinta Gesang

Persoalan memelihara alam (sungai) adalah persoalan cinta. Tanpa cinta segalanya menjadi percuma. Cinta terhadap alam (sungai) harus dilakukan oleh semua orang. Mulai dari “masyarakat sungai” penghuni bantaran sungai itu sendiri sampai ke pejabat tinggi negara. Termasuk di dalamnya para politisi, hamba hukum, pemulung, pelayan kesehatan, bahkan para seniman sekalian.

Di Indonesia, tidak banyak pejabat yang peduli dengan sungai. Demikian pula halnya golongan masyarakat lainnya seumpama seniman.

Di antara segelintir seniman yang berbicara tentang sungai, Gesang dengan lagu Bengawan Solo-nya adalah salah seorang yang dengan sungguh-sungguh menyuarakan kecintaannya terhadap sungai dan menggemakannya ke seantero dunia. Seniman lain, semisal Ully Sigar Rusady, lebih suka bercerita tentang rimba dan gunung. Yang lainnya lagi lebih suka pada laut dan langit.

Kecintaan kita akan kebersihan, keindahan, dan alam (sungai) tercermin dari sikap kita dalam memperlakukan, memelihara, dan dari cara hidup kita di (seputar) sungai.

Mencintai sungai bukan sekadar soal lingkungan hidup atau sekadar masalah ekosistem, lanskap, dan banjir yang traumatik. Mencintai sungai terutama adalah masalah keselarasan hidup dengan alam.

Selain itu, mencintai sungai adalah ikatan spiritual antara Pencipta dan ciptaan-Nya, yakni urusan moral tanggung jawab kita sebagai manusia yang diberi keleluasaan “meminjam” alam ini sepanjang hidup kita.

Sebenarnya, kita pun punya hubungan yang “magis” dengan sungai itu sendiri. Ingat, bagaimana kita telah memperlakukan sungai dengan tidak layak dan lihat karma yang kita terima atas perlakuan tersebut.

Patut malu

Jika mau terbuka, mesti kita simak cara orang Belanda memperlakukan Sungai Rhein dan juga seribu kanal mereka. Contoh pula bagaimana masyarakat Eropa lainnya menyayangi Sungai Seine dengan membuatkan gondola-gondola cantik untuk berlayar romantis di permukaan airnya yang tenang dan bersih. Sungai Seine adalah sungai yang melintasi beberapa negara Eropa dan mempunyai nama di masing-masing negara tersebut yang mirip satu dengan lainnya.

Dan banyak bangsa lain yang tahu “berterima kasih” kepada sungai yang melintasi kota mereka dan telah menghidupi mereka dengan tulus.

Jadi, patutlah kita merasa malu jika membandingkan Sungai Ciliwung, Kali Brantas, atau Sungai Mahakam dengan Sungai Rhein (di Belanda), Sungai Thames (London), Chicago River (Chicago) dan sebagainya (Kompas, 28 April, halaman 19). Kita merdeka sudah hampir 60 tahun, tetapi untuk mengurus sebuah sungai bernama Ciliwung, yang lebarnya hanya beberapa puluh meter, kita tidak becus.

Kita harus fair bahwa di zaman penjajahan Belanda dan Jepang dulu, dan beberapa dasawarsa setelahnya, sungai-sungai kita masihlah sungai yang bersih dan sehat. Sangat dramatis, setelah membebaskan diri dari penjajahan, malah kita menelantarkan sungai-sungai tersebut. Orang-orang bergerombol tinggal di bantaran kali dan melakukan “polusi” yang tidak terkendali. Maka, Sungai Ciliwung kemudian disebut sebagai WC terpanjang di dunia (Kompas, 5 Mei).

Sutiyoso ironis

Bahkan, seorang gubernur sekaliber Sutiyoso pun tidak mampu (atau tidak perhatian?) menangani Ciliwung dan sungai-sungai lain yang melingkari Jakarta sehingga setiap harinya kita dipaksa menikmati pemandangan jorok saat berjalan-jalan di tengah kota metropolitan yang sekaligus ibu kota republik yang bernama DKI Jakarta ini.

Oleh sebagian pemerintah provinsi, sungai dihargai hanya sekadar sarana monumental (dengan mendirikan Jembatan Ampera nan megah di atas Sungai Musi) dan fungsi historikal (Jembatan Merah-Kali Brantas). Tidak lebih.

Oleh “masyarakat sungai”, sungai justru tidak dilecehi habis-habisan. Mereka “berjongkok-ria” dan membuang sampah sebebasnya tanpa merasa sungkan.

Padahal, jika mau serius, Ciliwung dan juga sungai lainnya dapat dijadikan obyek wisata-sungai yang menghasilkan devisa. Sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Ciliwung bersih, duit masuk.

Tanggung jawab bersama

Tentunya, urusan Sungai Ciliwung tidak sepenuhnya tanggung jawab Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI saja. “Masyarakat sungai” ikut memikul beban tanggung jawab yang sama, terutama karena di sepanjang bantaran sungai tersebut mereka menjalani hidup dan melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari.

Pola hidup “masyarakat sungai” yang cenderung malas dan bermasa bodoh pada akhirnya menjadi bumerang bagi mereka sendiri. Banjir dan epidemi (wabah penyakit) adalah bencana yang berulang setiap tahun. Yang memprihatinkan, pikiran mereka tidak pernah terbuka untuk segera menyadari kekeliruan tersebut. Seolah mereka tidak jera-jera dilanda malapetaka yang sesungguhnya mereka buat sendiri.

Pada akhirnya adalah tugas Pemprov DKI Jakarta untuk membuka kesadaran mereka akan pola hidup yang layak dan bertanggung jawab, tidak hanya terhadap keasrian Sungai Ciliwung, melainkan juga terhadap kehidupan jutaan masyarakat Jakarta lainnya yang berkepentingan dengan sungai.

Beberapa tahun silam, di Surabaya ada seorang wali kota yang sangat “rajin” membersihkan Kali Brantas. Sayang, saking “sibuk” mengurus sungai, beliau melupakan urusan kepemerintahan lainnya.

Yoppy OL, Pemerhati Masalah Perkotaan

Sumber: http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0405/11/metro/1012919.htm

AGUSTUS 2004

Tak Layak, Bahan Baku Air di Jakarta

Senin, 16 Agustus 2004Jakarta, Kompas – Kualitas air sungai di DKI Jakarta, termasuk Sungai Ciliwung, Sungai Krukut, dan Kalimalang (Tarum Barat) yang digunakan untuk air baku air minum, semakin menurun akibat pencemaran limbah domestik dan limbah industri.Beberapa parameter yang digunakan untuk mendeteksi kadar pencemaran, yaitu kadar BOD (biological oxygen demand), COD (chemical oxygen demand), minyak, lemak dan beberapa parameter lain, umumnya telah melampaui baku mutu yang ditetapkan. Air sungai sebagai bahan baku air bersih juga banyak tercemar bakteri Coli dan Fecal Coli yang ada dalam tinja manusia.Data dari Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI menyebutkan, kualitas BOD dan COD air Sungai Ciliwung yang digunakan Perusahaan Air Minum (PAM) telah melampaui baku mutu (BM) yang ditetapkan. Hasil pemantauan kualitas air sungai yang dilakukan BPLHD DKI terhadap 65 titik pantau dari 13 sungai di DKI menyebutkan, BOD Sungai Ciliwung berkisar 10,70-36,91 mg/l (BM 10 mg/l), sedangkan COD berkisar 20,13- 34,96 mg/l (BM 20 mg/l). Tingginya kadar BOD dan COD disebabkan oleh banyaknya limbah domestik masuk sungai.Penelitian tersebut juga menemukan parameter lain yang angkanya di atas baku mutu. Yakni minyak dan lemak yang angkanya berkisar 0,29-0,62 ppm (BM nol), organik 15,57-29,86 (BM 15 mg/l), surfaktan 1,29-1,36 mg/l (BM = 1 mg/l), dan timbal 0,14-0,2 mg/l (BM = 0,1 mg/l).Tiga sungai di Jakarta yang digunakan untuk air baku air minum adalah Sungai Ciliwung -yang meliputi Ciliwung Banjir Kanal, Ciliwung Gunung Sahari, Ciliwung Gajah Mada– serta Sungai Krukut, dan Kalimalang (Tarum Barat). Air minum yang didistribusikan kepada warga Jakarta sebagian besar diambil dari Kalimalang yang memperoleh pasokan dari Waduk Jatiluhur. Jika volumenya masih kurang, bahan baku air minum dipasok juga dari Sungai Krukut dan Sungai Ciliwung.

Sungai Krukut digunakan untuk memasok instalasi air bersih di Cilandak. Menurut hasil penelitian BPLHD DKI, kondisi pencemaran air sungai itu juga sudah melebihi baku mutu yang ditetapkan. Kondisi yang sama juga terjadi pada Kalimalang. Akibat pencemaran limbah domestik dan limbah industri, kualitas air Kalimalang saat memasuki wilayah DKI sudah tidak memenuhi syarat lagi. Kadar BOD-nya rata-rata 7,95-10,23 mg/l, COD 15,24-20,57 mg/l, minyak dan lemak 0,22-0,23 mg/l dan organik 12.0-15,99 mg/l.

Tercemar Coli

Sungai yang mengalir di DKI umumnya juga tercemar bakteri Coli dan Fecal Coli, demikian juga dengan Sungai Ciliwung yang digunakan sebagai bahan baku air minum. Kandungan bakteri Coli pada sungai tersebut mencapai 1.600.000- 3.000.000 individu/100 cc, padahal baku mutu yang diperbolehkan hanya 10.000 individu/100 cc. Sedangkan pencemaran oleh bakteri Fecal Coli mencapai 280.000-1.600.000 individu/100 cc, padahal baku mutu yang ditetapkan hanya 2.000 individu/100 cc.

Communication and External Relations Director Thames Pam Jaya Rhamses Simanjuntak, mengakui, kualitas air baku air minum yang buruk menyebabkan tingginya biaya produksi perusahaan tersebut untuk mengelola air bersih. Namun, Rhamses belum bisa merinci berapa kenaikan biaya produksi akibat buruknya sumber air baku air minum dari sungai di Jakarta. “Kalau bahan bakunya tidak bagus, butuh biaya tinggi untuk membeli bahan kimia untuk menjernihkan,” ujar Rhamses. (IND)

Sumber: http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0408/16/metro/1210409.htm

OKTOBER 2004

Kualitas Air Tanah dan Sungai di Jakarta Mengkhawatirkan

Selasa, 12 Oktober 2004 | 18:34 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Kualitas air di wilayah DKI Jakarta sudah mengkhawatirkan. Pemantauan yang dilakukan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) di lima wilayah pada 2004 menunjukkan, baik air sungai maupun air tanah memiliki kandungan pencemar organik dan anorganik tinggi. Akibatnya, air sungai dan air tanah di DKI Jakarta tidak sesuai lagi dengan baku mutu peruntukannya yaitu air minum, perikanan, pertanian dan usaha perkotaan lainnya.

Kepala Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan BPLHD Provinsi DKI Jakarta Daniel Abbas mengungkapkan tingginya tingkat pencemaran air di Jakarta terutama berasal dari limbah domestik, terutama yang berasal dari septic tank. “Data dari KLH menyebutkan pencemaran air 55 persen disebabkan limbah domestik yang ditandai dengan tingginya kandungan coliform dan fecal coli,” kata Daniel saat menjadi pembicara dalam seminar Pengelolaan Limbah Cair di Kelapa Gading Jakarta, Selasa (12/10).

Daniel mengungkapkan, hasil pemantauan kualitas air tanah di 48 sumur yang tersebar di lima wilayah diketahui 63 persen diantaranya mengandung bakteri coliform dan 75 persennya mengandung fecal coli melebihi baku mutu. Di Jakarta Pusat misalnya, enam dari tujuh sumur yang dipantau memiliki kadar bakteri coliform sangat tinggi. Di Jakarta Selatan 58 persen dari sumur yang dipantau mengandung coliform dan 67 persen tercemar fecal coli.

Untuk wilayah Jakarta Barat tujuh dari sembilan sumur tercemar coliform dan fecal coli melebihi batas normal. Wilayah Jakarta Timur diketahui 45 persen sumur warga sudah tidak memenuhi baku mutu coliform dan 82 persen tidak memenuhi baku mutu fecal coli. Sedangkan di wilayah Jakarta Utara sumur yang mengandung bakteri coliform sangat tinggi mencapai 56 persen. Demikian juga dengan kandungan fecal coli tinggi ditemukakn di 67 persen sumur yang dipantau.

Hasil pantauan di 13 sungai yang melintasi wilayah Jakarta tidak jauh berbeda. Pemantauan BPLHD DKI Jakarta tahun 2004 di 66 lokasi yang tersebar di 13 sungai menunjukan seluruh lokasi tersebut tidak layak dijadikan sumber air minum. “Bahkan air itu tidak layak diguanakan untuk usaha pertanian maupun perikanan,” katanya.

Lebih lanjuut dia mengungkapkan bagian hulu sungai Ciliwung yang biasa digunakan sebagai air baku air minum pun telah mengandung kadar BOD rata-rata 8,97 mg/L dan COD dengan kadar rata-rata 35,22 mg/L. Padahal baku mutu BOD 10 mg/L dan COD 20 mg/L.

Sebenarnya, menurut Daniel upaya mengatasi pencemaran air sudah dilakukan Pemda DKI namun hasilnya tak pernah memadai. Guru Besar Institut Pertanian Bogor Prof. Dr. Ir Herman Haeruman berpendapat, tidak pernah tuntasnya masalah lingkungan di Jakarta, termasuk banjir, kekeringan dan pencemaran disebabkan karena pemecahan masalah lebih banyak menggunakan pendekatan teknis. “Misalnya dengan membangun saluran buangan atau banjir kanal,” katanya.

Menurut dia, pendekatan lain yang perlu dilakukan adalah pemindahan manusia untuk menjauhi sumber air. “Jauhkan pemukiman warga dari sungai,” katanya. Hanya saja pendekatan ini memerlukan pemikiran dan pelaksanaan yang integratif antara masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah. “Sense of crisis harus dibangun, mungkin Jakarta perlu dideklarasikan sebagai daerah bencana lingkungan kronis,” ujarnya.

Nunuy Nurhayati – Tempo

Sumber: http://www.tempointeractive.com/hg/jakarta/2004/10/12/brk,20041012-39,id.html

Written by airsungaikelassatu2020

November 19, 2008 at 1:11 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: