sungaibersih2020

Sungaiku Bersih Sungaiku Jernih

2003 – Fakta / Status

leave a comment »

APRIL 2003

Betawi Seabad Silam, Ciliwung Tercemar (8 April 1903)

Selasa, 08 April 2003, 8:57 WIBBintang Betawi hari ini melaporkan pengalaman lucu seorang lelaki yang namanya hanya ditulis dengan inisial “Tuan B”. Menurut koran tersebut, ketika Tuan B sedang berjalan-jalan di depan rumah makan Java Hotel, di tepi kali Ciliwung, Weltevreden, dia mendapat sial. Dua lembar uang kertas pecahan 100 gulden jatuh dari kantongnya, tetapi tidak diketahui di mana jatuhnya. Jadi uang itu hilang. Tetapi dia tidak melapor ke polisi, karena kealpaannya sendiri. “Ini tuan terlalu suka memandang perempuan yang lagi mandi di kali Ciliwung,” tulis Bintang Betawi.Mungkin saja Bintang Betawi terlalu melebih-lebihkannya. Yang jelas pada sisi lain laporan itu menunjukkan, pada awal abad ke-20 kondisi air kali Ciliwung masih bersih dan jernih, sehingga banyak orang mandi dan mencuci pakaian di kali yang mengalir di tengah keramaian kota Betawi itu.Betawi memiliki sejumlah kali yang cukup besar. Selain Ciliwung yang mengalir di bagian tengah, di timur terdapat kali Cakung dan kali Sunter. Sedang di barat ada kali Krukut, Angke dan Cisadane. Tidak terhitung lagi kali-kali kecil atau saluran buatan.

Di antara kali-kali itu memang ada yang masih jernih airnya, tetapi ada pula yang mulai tercemar, bahkan penuh sampah. Ini akibat pembuangan limbah yang terjadi di sepanjang kali-kali tersebut, baik oleh penduduk yang tidak bertanggung jawab, maupun oleh perusahaan-perusahaan yang tidak peduli lingkungan. Bahkan ada instansi pemerintah yang tidak memiliki sistem pembuangan limbah yang baku.

Yang banyak membuat kali kotor ternyata adalah perusahaan-perusahaan besar, yaitu perusahaan trem listrik dan perusahaan gas. Menurut Bintang Betawi, “banyak trem listrik membuang minyak di kali.” Sementara perusahaan gas yang terletak di Ketapang itu juga membikin kali kotor dengan membuang ter, “hingga orang-orang kampung tidak bisa cuci pakaian, apalagi mandi di kali.”

Tahun lalu melalui suratkabar Batavia Nieuwsblad, seorang pembesar gubernemen mengeluarkan perintah keras, siapa pun dilarang membuang di kali segala kotoran, apalagi pada waktu air kering.

Sejumlah warga kota berkomentar, sebenarnya perintah itu tidak perlu dikeluarkan lagi, karena membuang kotoran di kali memang dilarang dalam politie reglement. Bahkan di dalam peraturan itu juga disebutkan hukuman yang diberikan. Tetapi menurut Bintang Betawi gubernemen bertindak tidak adil, karena telah melanggar sendiri ketentuan yang dibuatnya itu. Untuk membuktikan hal itu, Bintang Betawi mengajukan pertanyaan: Kotoran dari rumah sakit di Weltevreden dan Stadtverband dan dari rumah bui di mana dibuang?

Instansi-instansi yang terletak di tepi kali Ciliwung itu membuang limbahnya langsung ke kali Ciliwung. Bintang Betawi menyaksikan sendiri perbuatan pencemaran lingkungan yang sangat berat: “Hampir saban malam Minggu, kita lihat sendiri beberapa orang rante bawa tahang buang kotoran di dalam kali. Kenapa itu tiada dilarang?” (Adit SH, sejarawan dan pengamat sosial, tinggal di Jakarta)

Sumber: http://www2.kompas.com/metro/news/0304/08/225740.htm

JUNI 2003

Air Jakarta Semakin Tidak Sehat…

05 – 6- 2003

BERJALAN-jalan di kawasan Glodok, Jakarta Pusat, cobalah buka kaca mobil Anda! Anda akan mencium bau menyengat dari Sungai Ciliwung yang membelah Jalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk. Jika diperhatikan, tak cuma bau, tetapi air sungai itu berwarna hitam pekat dan aliran airnya terhenti.

Kondisi yang sama tidak hanya di sana, di beberapa sungai lain juga berwarna kehitam-hitaman. Kualitas air sungai-sungai di Jakarta hampir seragam, semua melebihi ambang batas baku mutu yang telah ditetapkan.

Lihat saja, data pemantauan BPLHD DKI Jakarta terhadap 13 sistem saluran sungai di DKI Jakarta, kondisi kualitas air di 13 sungai itu sudah melebihi ambang batas baku mutu.

Misalnya, Sungai Ciliwung yang berfungsi sebagai penyedia air baku untuk air minum kualitasnya sangat rendah. Biological oxygen demand (BOD) dan chemical oxygen demand (COD)-nya telah melampaui baku mutu yang ditetapkan.

Kualitas BOD Sungai Ciliwung berkisar dari 10,70 hingga 36,91 miligram/liter. Padahal, baku mutu BOD yang telah ditetapkan hanya 10,0 miligram/liter.

Sementara kualitas COD berkisar 20,13 miligram/liter hingga 34,96 miligram/liter, padahal baku mutu COD hanya 20 miligram per liter. Buruknya kualitas BOD dan COD Sungai Ciliwung ini terjadi akibat banyaknya limbah domestik yang masuk ke dalam sungai.

Sungai lain yang juga dimanfaatkan sebagai air baku air minum adalah Sungai Krukut dan Kalimalang. Sungai Krukut yang dimanfaatkan untuk instalansi PAM di Cilandak kondisinya pun sama.

Meski BOD-nya masih di bawah baku mutu, yakni berkisar 8,25 hingga 10,98 miligram/liter, kualitas COD sangat tinggi, yakni mencapai 25,08 hingga 33,22 miligram/liter. Parameter lain juga tinggi, yakni organik berkisar 16,30 hingga 19,76 miligram/liter, minyak dan lemak 1,44 hingga 11,62 miligram/liter, dan amonia 0,33 hingga 4,56 miligram/liter.

Sistem Aliran Sungai Krukut dan Kalimalang ini memperoleh pasokan air dari Waduk Jatiluhur. Namun, akibat masukan dari limbah domestik maupun industri, kualitas airnya pada saat memasuki wilayah DKI Jakarta (di perbatasan Bekasi) sudah tidak memenuhi syarat.

Kadar BOD-nya rata-rata 7,95 hingga 10,23 miligram/liter, COD 15,24-20,57 miligram/liter, minyak dan lemak 0,22-0,23 miligram/liter, dan organik 12 hingga 15,99 miligram/liter. Kondisi ini semakin memburuk ketika telah memasuki wilayah DKI Jakarta. Belum lagi persoalan bakteri. Mayoritas sungai di Jakarta telah tercemar bakteri Coli dan Fecal. Sungai Ciliwung yang diperuntukkan bagi air baku untuk air minum kandungan bakteri Coli-nya berkisar antara 1.600×10>jmp -2008m<>kern 199m<>h 6024m,0<>w 6024m<3 >jmp 0m<>kern 200m<>h 8333m,0<>w 8333mjmp -2008m<>kern 198m<>h 6024m,0<>w 6024m<4, >jmp 0m<>kern 197m<>h 8333m,0<>w 8333mjmp -2008m<>kern 198m<>h 6024m,0<>w 6024m<

Kualitas air tanah Jakarta juga sama saja. Menurut Kepala Subbidang Pengendalian Pencemaran Air dan Laut BPLHD DKI Jakarta Joni Tagor Harahap, berdasarkan data tahun 1999 hingga 2001, pencemaran bakteri Coli semakin hari semakin meningkat.

Angka pencemaran tertinggi terjadi di kawasan Jakarta Utara, dari 14,29 persen di tahun 1999, kini sudah mencapai 68,75 persen. Sementara di Jakarta Pusat dari 14,29 persen menjadi 56,25 persen air tanah di kawasan tersebut sudah tercemar bakteri ini.

Pencemaran logam pun terjadi, yakni pencemaran besi dan mangan. Paling tinggi air tanah yang tercemar besi adalah kawasan Jakarta Barat, berkisar dari 3,12 hingga 20,83 persen. Sementara kandungan mangan tertinggi di Jakarta Pusat, yakni antara 9,38 hingga 83,75 persen.

Sungguh ironis! Jika air yang menjadi kebutuhan pokok hidup juga telah ikut tercemar. (KCM)

Sumber: http://www.inawater.com/news/wmview.php?ArtID=657

DESEMBER 2003

Rendah, Kesadaran dan Kepedulian Masyarakat soal Sampah

Senin, 08 Desember 2003.

Kesadaran dan partisipasi masyarakat soal sampah rendah. Padahal masalah sampah bukan saja tanggung jawab pemerintah tetapi juga masyarakat, kata Deputi Menteri Negara Lingkungan Hidup bidang Pengendalian Dampak Lingkungan Noninstitusi Tanwir Mukawi.

“Di kota-kota besar, masyarakat urban tidak mendefinisikan dirinya sebagai warga kota setempat dan kurang merasa memiliki sehingga kepeduliannya tentang kebersihan kota rendah,” katanya dalam diskusi tentang Mengupas Tuntas Materi RUU Persampahan dan Pencanangan Hari Sampah Nasional di Jakarta, Senin (8/12).

Dikatakan Tanwir, paradigma soal sampah perlu diubah. Sampah bukan hanya urusan pemerintah atau pemda, tetapi juga masyarakat sendiri juga harus bertanggung jawab terhadap sampahnya masing-masing. Seperti, tak membuang sampah sembarangan.

Permasalahan sampah bertambah besar, ujarnya, juga akibat pemda hanya mengalokasikan dana yang kecil buat dinas yang mengurusi soal sampah. Padahal, sampah merupakan masalah penting menyangkut kesehatan masyarakat, lingkungan, hingga pencegahan kemungkinan terjadi bahaya banjir.

Selain itu, pemda dengan pemda lainnya, ujarnya, sulit berkoordinasi dan masing-masing mempertahankan kepentingannya sendiri. Sebagai contoh Pemda DKI dan Pemkot Bekasi yang bertengkar karena lokasi pembuangan sampah. Akibatnya, permasalahan sampah ibu kota tak terpecahkan.

Disebutkan, kenyataan di Indonesia, banyak orang membuang sampahnya di sungai. Data Bapedalda DKI menyebutkan rata-rata pencemaran sungai Ciliwung terus meningkat dari 14,35 konsentrasi BOD (Biochemical Oxygen Demand) pada 1995, 16,24 pada 1996 dan 21,13 konsentrasi BOD pada 1997. Pencemaran itu jauh melampaui ambang batas yang ditentukan bagi suatu perairan (yakni 10 BOD) atau bisa diartikan telah terjadi pencemaran oleh bahan organik.

Sementara itu, Penasihat JICA (Japan International Cooperation Agency) Kementerian Lingkungan Jepang Tetsuro Fujitsuka mengatakan, Jepang saat ini sudah menjadi masyarakat yang sangat memperhatikan setiap sisa penggunaan barang dan bagaimana mendaur ulangnya (sound material cycle society).

Setiap masyarakat Jepang, ujarnya, sudah berupaya agar seminimal mungkin menambah permasalahan sampah setiap kali menggunakan barang, memilih barang yang bisa digunakan berulang-ulang dan melakukan daur ulang terhadap barang yang tidak bisa digunakan kembali.

Sampah seharusnya bisa didaur ulang, kata Fujitsuka. Sampah nonorganik diolah untuk digunakan kembali sedangkan sampah organik dijadikan pupuk. Sampah yang tidak bisa didaur ulang akan dihancurkan dalam incinerator. Jika tidak mungkin diproses dalam incinerator, sistem landfill adalah jalan terakhir.

Data JICA di banyak kota Indonesia, warga kota metropolitan paling banyak menghasilkan sampah yakni hampir tiga liter per hari per orang dibanding kota besar 2,4 liter, kota sedang 2,1 liter, dan kota kecil 2,2 liter per hari per orang.

Di Jakarta sendiri, jika pada 1985 jumlah sampah yang dihasilkan hanya 18.500 m3 per hari dan pada 1990 sekitar 22 ribu m3, pada 2000 sampah yang dihasilkan warga Jakarta meningkat menjadi 25.700 m3 sampah per hari. Jika jumlah tersebut dihitung dalam setahun, pada 2000 itu volume sampah Jakarta mencapai 170 kali besarnya candi Borobudur
yang volumenya 55 ribu m3.

Tekstil adalah sampah yang menyumbang volume paling besar hampir 50 persen disusul kaca dan plastik dan kemudian logam. Namun demikian, kaca adalah penyumbang terberat atau sekitar 65 persen disusul tekstil dan plastik serta logam. (Ant/prim)

Sumber: http://www2.kompas.com/metro/news/0312/08/182917.htm

Written by airsungaikelassatu2020

November 19, 2008 at 1:24 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: