sungaibersih2020

Sungaiku Bersih Sungaiku Jernih

2002 – Fakta / Status

leave a comment »

DESEMBER 2002

“Awalnya Sih Gatal-gatal”

Minggu, 22 Desember 2002, 15:22 WIB

Suatu pagi di Ciliwung, empat tahun lalu. Ibu Rosman  menginjakkan kaki pertama kalinya di Kampung Pulo, Jakarta. Ia baru saja tiba dari Rembang. Kedatangannya di ibu kota ingin menemani anak dan cucunya sekaligus melepas hari tuanya. Udara panas menyengat membuatnya ingin segera mandi. Bayangan air bersih dan segar seperti di tanah kelahirannya membekas di benaknya.

Tapi alangkah terkejutnya perempuan setengah baya ini ketika sampai di sungai Ciliwung tempat ia harus mandi. Sungai yang ia temui jauh berbeda dibandingkan desanya. Begitu keruh, kotor dan berwarna kecoklatan. Tetapi melihat orang-orang terbiasa mandi di situ, akhirnya ia mandi juga di atas rakit bambu di tepian sungai. Akibatnya dirinya merasa gatal-gatal sekujur badannya. Tak tahan ia segera ke dokter.

“Wah ibu baru pertama kali ya mandi di sini, belum terbiasa ya bu. Kalau baru datang jangan langsung mandi air kali dulu,” begitu kata dokter seperti dituturkan warga bantaran sungai Ciliwung ini. Selanjutnya ia mandi di MCK dekat rumahnya dan harus membayar tiga ratus setiap mandi. Sebulan kemudian dirinya mencoba lagi dan ia tidak gatal-gatal lagi.

foto: KCM/ahmad zamroni

Dan siang itu di tepian Ciliwung perempuan yang tidak lagi ingat usianya itu sedang asyik mencuci panci dengan air yang berwarna kuning kecoklatan. Di sisi rakit lainnya seorang ibu ditemani anaknya sedang membilas baju.. Sang anak asyik bermain-main air sembari berteriak kegirangan ketika menemukan ikan sapu kecil disela-sela potongan bambu. “Ada ikan.ada ikan disini,” teriaknya sambil berjongkok menunjuk tempat dimana ia menemukan ikan tadi.

Sementara di ujung rakit seorang perempuan muda berjongkok membuang hajat dengan pintu bambu yang menutupi separuh badannya. Sesekali mereka berbicara satu sama lain. Tak lama datang seorang pemuda dan membuang kantong plastik hitam berisi sampah. Kantong plastik segera melaju dan berbaur dengan kotoran manusia yang baru saja “dilepaskan”dari pemiliknya. Di seberang sungai beberapa pemuda duduk di tepian sungai sambil bernyanyi dengan didiringi petikan gitar seorang dari mereka.

Pemandangan seperti itu telah menyatu dengan keseharian Ciliwung. Mereka seakan tak peduli dengan kondisi air sungai yang sudah tidak layak untuk dikonsumsi, sekalipun hanya urusan membuang hajat. Bahkan menurut ibu Wati (42 tahun) sambil mencuci baju mengatakan kondisi air kuning kecoklatan tadi masih dikategorikan “layak”. “Ini sih masih bisa buat mandi, nanti kalau sudah coklat sekali baru kita mandi di MCK,” ujarnya.

KCM/ahmad zamroni

foto: KCM/ahmad zamroni

Mandi Cuci Kakus (MCK) jarang menjadi alternatif untuk keperluan sehari-hari, kecuali dalam kondisi terpaksa. Beberapa MCK tampak kosong. Selain harus membayar warga telah terbiasa dengan menggunakan air sungai. Di daerah Kampung Pulo sekali masuk tarifnya berkisar antara dua sampai tiga ratus. “Kalau bolak-balik ke MCK empat kali sehari aja udah seribu. Mendingan disini aja gratis,” tutur seorang ibu yang baru saja membuang hajatnya sambil lalu.

***

Ciliwung adalah satu dari 13 sungai yang mengalir di DKI Jakarta, yang semuanya masuk ke Banjir Kanal dan bermuara di Teluk Jakarta. Pada zaman Belanda, Ciliwung adalah salah satu aset penting bagi kota Batavia (sebutan untuk Jakarta dulu-Red). Dan sempat dikenal sebagai sungai indah yang melintasi Jakarta. Bahkan penduduk setempat meminum air dari sungai ini.

Kini air sungainya telah tercemar. Namun, meski kotor dan keruh Ciliwung telah menjadi bagian dari kehidupan warga bantaran sungai. Kecuali minum, warga menggunakan air sungai untuk banyak hal. Mulai dari mengangkut kayu, membuat tahu/tempe, mencuci, sikat gigi mandi sampai membuang kotorannya sendiri. Sedangkan oleh pemerintah DKI Jakarta, air sungai Ciliwung dijadikan sebagai air baku untuk pengolahan air minum serta sumber air untuk beberapa kawasan Jakarta Pusat dan Jakarta Utara.

KCM/ahmad zamroni

foto: KCM/ahmad zamroni

Kondisi sungai yang tercemar dan begitu keruh bukan tanpa sebab. Buangan limbah rumah tangga menjadi salah satu penyebab. Selain limbah rumah tangga, limbah industri besar dan kecil . Paling tidak tercatat sepuluh industri yang membuang limbahnya ke sungai ini mulai dari percetakan sampai elektronik. Ditambah lagi industri kecil yang memanfaatkan air Ciliwung. Terdapat sekitar 7.500 industri kecil skala rumah tangga di sepanjang Ciliwung (Kompas, 1993).

Hasil penelitian Ceiba Geigy (1990) menyimpulkan bahwa pH sungai Ciliwung mengalami penurunan rata-rata 0,13 per tahun. Bahkan, air sumur di sekitar sungai (sejauh 20 meter) juga sudah dinyatakan tercemar. Warna air coklat hingga hitam pada bagian tertentu disebabkan karena tingginya kandungan limbah beracun dengan bau busuk akibat sampah. (Sandinista 2002).

Bahan-bahan pencemaran yang terkandung dalam sungai Ciliwung pada gilirannya akan membahayakan mereka yang mengkonsumsinya. Penyakit yang diderita mulai dari yang ringan seperti gatal-gatal sampai kepada cacat genetik yang kemunculannya baru pada beberapa puluh tahun ke depan.

Satu di antara yang berbahaya adalah merkuri. Sebab tidak hanya menyebabkan kanker tetapi juga bisa merusak gen manusia yang diturunkan kepada anak cucunya. Crom yang banyak digunakan industri elektroplating, penyamakan kulit, batere maupun tekstil juga menimbulkan kanker . Juga phenol yang banyak dipakai industri perekat, kimia dan obat-obatan, dalam kadar yang sangat kecil bisa membuat wanita hamil keguguran. Sedangkan pada bayi, bila kadarnya sudah mencapai 20 ppm dalam darah, bisa membuat si bayi tidak berkembang intelegensianya (Kompas, 1991).

Parahnya akibat pencemaran baru muncul dalam puluhan tahun ke depan, seperti kanker akibat merkuri misalnya. Juga penyakit yang ditimbulkan akibat pencemaran tidak dapat dideteksi secara dini oleh penderitanya.

***

KCM/ahmad zamroni

foto: KCM/ahmad zamroni

Penduduk sepanjang bantaran sungai Ciliwung rata-rata adalah kalangan menengah ke bawah dan berpenghasilan rendah. Umumnya mereka bekerja di sektor informal. Diantaranya berjualan mie ayam, bubur kacang ijo, berdagang barang-barang kelontong, penjual minyak, pembuat tahu/tempe sampai pemulung air. Tak heran jika seluruh pendapatannya hanya dapat dimanfaatkan untuk makan, meski ada juga menyekolahkan anak dan dikirim ke kampung halaman.

Dalam kondisi kekurangan tersebut , penduduk bantaran sungai cenderung tidak mampu menyediakan jamban sendiri maupun bersama-sama. Akibatnya, sebagian besar mempergunakan sungai untuk berbagai keperluan, termasuk MCK dan tempat pembuangan sampah. Tak heran jika penyakit perut dan kulit akrab dengan kehidupan mereka sehari-hari. “Memang belum ada penelitian yang khusus mengenai ini tetapi yang jelas mereka sering terkena diare, muntaber, gatal-gatal dan ispa terutama pada anak-anak,” kata Romo Sandyawan, pengasuh Sanggar Ciliwung di kawasan Bukit Duri.

Memasuki kawasan pemukiman penduduk tampak padat sekali dengan ukuran rumah rata-rata 3×3 meter hingga 3×5 meter dan dihuni 2-3 keluarga.…. Di tepian sungai mereka membuat getek-getek bambu untuk tempat mencuci dengan ujungnya sebagai tempat membuat hajat.

Berdasarkan penelitian PSML-UI (1990), 75 persen rumah di sekitar bantaran sungai adalah milik sendiri; 11 persen rumah kontrak, 5,5 persen rumah dinas dan 8 persen rumah tumpangan. Sekitar 75 persen tidak berpekarangan, sisanya rata-rata mempunyai pekarangan sekitar 1 M2. Sedangkan rata-rata kepadatan penduduk di sepanjang bantaran sungai Ciliwung pada umumnya sangat tinggi, diatas 15.000 jiwa per km2.

ciliwoeng6

foto: KCM/ahmad zamroni

Kebiasaan penduduk Ciliwung mengkonsumsi air sungai sebenarnya sudah sejak zaman Belanda. Sampai abad ke-19 seperti ditulis dalam buku Oud Batavia, air sungai Ciliwung diminum oleh orang Belanda. Air Ciliwung ditampung dulu dalam semacam waduk yang ada pancurannya. Air itu kemudian diangkut dengan perahu untuk dijajakan di Kota. Pun digunakan untuk mencuci pakaian. (Kompas,1993).

Bedanya, dulu Ciliwung masih bening, bisa diminum dan menjadi pemandangan indah kota Batavia (Jakarta-Red). Bahkan untuk mandi pun tidak harus bergatal-gatal dulu. Kini selain tidak layak minum, airnya pun kotor dan keruh. Mereka bukannya tidak sadar dengan kondisi air yang dikonsumsinya. Namun seperti kebanyakan, kaum marjinal tidak punya pilihan lain. Terlebih untuk bertahan hidup. Dan lagi-lagi masyarakat miskinlah yang menjadi korban. ”Kita mau pindah kemana lagi mbak…”(Donna)

Sumber: http://www2.kompas.com/utama/news/0212/22/043933.htm

Written by airsungaikelassatu2020

November 21, 2008 at 1:47 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: