sungaibersih2020

Sungaiku Bersih Sungaiku Jernih

1991 – Aksi

leave a comment »

NOVEMBER 1991

Di sini mencemari, di sana tidak

36/XXI 02 November 1991

Menteri Negara KLH Emil Salim, mengumumkan daftar industri pencemar sungai cipinang, ciliwung dan mookervart. ada perusahaan multinasional yang ter- libat pencemaran. bisa diadili.

Menteri Negara KLH Emil Salim mengumumkan nama-nana industri pencemar sungai, termasuk beberapa perusahaan multinasional.

DEWASA ini, pimpinan PT Dumex Indonesia tampak kian sibuk saja. Perusahaan farmasi yang beroperasi sejak 1969 itu sekarang ngebut membuat alat pengolah limbah. Menakjubkan, karena hal ini baru dilakukan sesudah 22 tahun. Untuk itu, wakil direktur produksi dan teknik Dumex pusat akan datang ke Jakarta pekan depan.

Kunjungan itu boleh dibilang amat tepat waktunya. Pekan lalu, Dumex Indonesia termasuk perusahaan yang disentil oleh Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Emil Salim. Sentilan disuarakan dalam dialog dengan anggota Kadin. Di situ Emil mengumumkan nama perusahaan yang masih mencemari Sungai Cipinang, walau mereka telah menandatangani perjanjian Program Kali Bersih (Prokasih).

Program ini dimulai Juni 1989, untuk menurunkan pencemaran di 24 sungai dalam 11 provinsi yang kadar polusinya terberat di Indonesia. Pemda setempatlah yang menentukan industri yang limbahnya terbesar. Lalu kedua pihak menandatangani perjanjian untuk menurunkannya, dengan batas waktu Juni 1991.

Setelah batas waktu lewat, ternyata dari 2.000 industri yang ikut, masih ada 403 yang melanggar. Mereka diberi kelonggaran waktu yang berbeda di tiap daerah. Bagi Jakarta, batas waktu untuk 95 industri yang membuang limbah ke Sungai Cipinang, Ciliwung, dan Mookervart adalah Desember depan.

Berdasarkan data terakhir, ada 56 perusahaan dari 95 industri yang masih mengabaikan Prokasih. “Saya ingin tahu mengapa mereka mengabaikan, jadi saya korek keterangan. Terus terang, saya tidak tahu ada wartawan di sana,” tutur Emil. Seharusnya, nama-nama itu baru beredar Desember nanti, saat perusahaan yang bandel dituntut di pengadilan (baca Akhirnya, Meja Hijau).

Ke-56 perusahaan itu masuk dalam kategori II (sudah mengolah limbah cair tapi limbah belum memenuhi syarat), III (pengolahan limbah baru diuji coba), IV (pengolahan limbah belum selesai dibangun), dan V (belum ada pengolah limbah). Tujuh belas perusahaan masuk dalam kategori I (ada pengolah limbah dan hasilnya baik), dan 22 industri yang pindah lokasi atau bangkrut ada di kategori VI.

Jawaban para pengusaha dalam dialog itu membuat Emil jengkel. “Masa, setelah diberi waktu lebih dari dua tahun, masih ada masalah tanah dan teknik pembuatan. Jadi, selama ini mereka ngapain?” ujarnya. Kejengkelannya makin bertambah, karena yang memberi jawaban adalah beberapa perusahaan multinasional, yang tidak pernah terlibat perkara pencemaran di negara lain.

Ambil contoh Dumex Indonesia yang masuk kategori IV. Alasan mereka, sempitnya lahan untuk membangun kolam pengolahan. Menurut plant manager Dumex Indonesia Sutanto D. Gunawan, kesulitan itu karena lahan di depan pabriknya akan terkena pelebaran. Ia mengakui, alat pengolah limbah di pabriknya masih “primitif” dan hanya untuk menjebak sedimen limbah.

Kini mereka menanti kedatangan wakil direktur dari Kopenhagen. Kantor pusat Dumex yang berlokasi di Denmark itu sangat memperhatikan lingkungan. Lain halnya Dumex Indonesia, yang dengan alasan keterbatasan lahan lalu tidak mementingkan pengolahan limbah. Inilah yang membuat Emil kecewa. Apalagi Multi Bintang, dengan lahan yang juga sempit, bisa membangun pengolah limbah ke atas.

Wakil dari Bayer Indonesia Farmasi, yang ada di kategori II pun, mengajukan alasan tingginya kadar fosfat dalam limbahnya karena tidak bisa mengatasi masalah deterjen. “Bayer kan perusahaan multinasional, dan di Malaysia serta Singapura tidak ada masalah pencemaran, mengapa di sini bisa? Apa susahnya angkat telepon untuk menanyakan teknik yang mereka pakai,” ujar Emil.

Ucapan ini benar sekali. Pabrik Dumex di Kopenhagen malah terletak di depan asrama mahasiswa dan tidak pernah diprotes. Sejak awal, mereka sudah membuat sistem pengolah limbah dan kini pekerjaan itu ditangani oleh pemda yang mempunyai pengolah limbah terpusat.

Akan halnya pencemaran oleh Bayer Indonesia, yang sangat membuat heran Shahruddin Hj. Nurdin, manajer logistik Bayer Malaysia. “Tak seharusnya mereka menghadapi masalah pencemaran limbah, karena teknologi pengolah limbah Bayer sangat tinggi, dan penjagaan lingkungan hidup adalah kebijaksanaan yang digariskan Bayer pusat,” ujarnya. Malaysia sendiri membuat bak beton dalam tanah untuk penampung limbahnya, atau dibakar dalam incinerator.

Menurut Emil, alasan yang sering dipakai pengusaha untuk tidak mengolah limbah ialah rendahnya pendapatan konsumen. Sedang alat pengolah limbah berharga mahal dan bisa menaikkan harga produk. Pendapat itu tidak benar, karena perusahaan tekstil PT Unitex, yang dengan pengolah limbah Rp 3 milyar, cukup menaikkan ongkos produksi 2 sampai 3 persen saja.

Menghadapi pengusaha yang membandel, Prokasih yang kini mendekati batas akhir tampaknya akan mendekati sasaran juga. Unitex adalah satu contoh. Perusahaan ini mendapat penghargaan Prokasih dari Presiden, September lalu. Perusahaan multinasional Ciba Geigy pun, menurut pimpinannya, Eric F. Stadelmann, kendati dulu tergolong industri pencemar yang menandatangani Prokasih, kini masuk kategori I.

Tak seperti biasanya, memang, Emil Salim bersuara agak lantang. Tapi hasilnya bukan tak ada. Para pengusaha yang masuk black list berdatangan ke Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal). Maka, gaung dari Cipinang diharapkan bisa sampai ke 300 sungai lainnya.

Diah Purnomowati, Sri Wahyuni, Bambang Purwantara, dan Ekram H. Attamimi.

TABEL ————————————————————— . DAFTAR INDUSTRI PENCEMAR LINGKUNGAN DI JAKARTA ————————————————————— . Sungai Cipinang Kategori I: PT Century tekstil industry, PT Ciba Geigy, . PT Matsushita Gobel Battere Industry, PT New . Crown Metal Works, PT NGK Busi Indonesia, . PT Perusahaan Industri Farmasi Pemb, PT Sountern . Cross Tekstile Industry ————————————————————— Kategori II: PT Bambu Mas Indah, PT Bayer Indonesia Farmasi, . PT Candra Sari, PT Dairyville Battere Industry, . PT Foremost Indonesia, PT Friesche Flag Indonesia . PT Guru Indonesia Factory, PT Indomilk Indonesia, . PT Khong Guan Indonesia, PT Kiwi Indonesia, . PT Lansano, PT National Gobel, PT Nelco Indopharma . PT Nusantara Perkerizing ————————————————————— Kategori III:PT Kenrose Indonesia, PT Pfizer Indonesia —————————————————————- Kategori IV: PT Dumex Indonesia, PT Wonderful, PT Yasulor, . PT Tensia, PT Prem Bottling, PT Puncak Gunung Mas, . PT Rosda Jaya Putra ————————————————————— Kategori V: PT Enka Parahiangan, PT Lambang Borobudur, PT . Menara Jaya, PT Mustika Ratu, PT Mustika Tirta, . PT Nutricia Indonesia, PT Super Sinar Abadi ————————————————————— Kategori VI: PT Cicero Indonesia, PT Delta Marina, PT Intirub, . PT Karpilando Abadi, PT Lambang Insan Makmur, . PT Samudra Montaz, PT Tan Sri Gani, PT Bima Satwa ————————————————————— . Sungai Ciliwung Kategori I: PT Cemani Toka, PT Scheering Indonesia, PT Sinar . Agape Press, PT Sepatu Bata, PT Dino Indonesia ————————————————————— Kategori II: PT Barclay Product, PT Scanchemie, PT Merck . Indonesia, PT Golden Web LTD, PT Dupa Jakarta, . PT Essence Indonesia, PT Bumi Grafika Jaya ————————————————————— Kategori V: PT Trebor Indonesia ————————————————————— Kategori VI: PT Adhikarta, PT Sakai Sakti, PT Tri Satria Utama, . PT Lucky Djakarta Printing ————————————————————— . Sungai Mookervart Kategori I: PT Intercollin, PT Teknik Unggul Kharisma, PT . Winland, PT Indomachine, PT Supreme Alurodin ————————————————————— Kategori II: PT BASF, PT Gamay Jaya, PT Mulia Knitting, PT . Pasir Sari Raya, PT Sucaco, PT Jaya Harflex . Indonesia, PT Muroco, PT Serindo Jaya, PT Sumisari . PT Winner Synthetics Textile, PT Inkabel Jaya, . PT Pertamill, PT Hisotex, PT United Can Company, . PT Crown Porcelain ————————————————————— Kategori V: PT Dragon Phonix, PT Tjengkareng Djaya, PT Vinilex ————————————————————— Kategori VI: PT Duta Fort Indonesia, PT Gaya Persaki Synthetics . PT Menjangan Jaya, PT Metro Utama Raya, PT Mosinco . PT Pamada, PT Peacock Purnama, PT Danusa, PT . Tembaga Mulia Semanan, PT Nila Alam

Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1991/11/02/LIN/mbm.19911102.LIN15582.id.html

Written by airsungaikelassatu2020

November 19, 2008 at 2:08 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: