sungaibersih2020

Sungaiku Bersih Sungaiku Jernih

DAS Ciliwung

leave a comment »

Antara Ciliwung dan Danube
Senin, 15 September 2008 | 21:04 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Bayangkanlah aliran Sungai Ciliwung. Mungkinkah kita akan melihatnya jernih lagi? Mungkinkah sungai itu beralih menjadi penyelamat dari penebar bencana ketika musim hujan tiba? Atau bahkan kita bisa memelihara ikan di dalamnya secara lestari?

Pemerintah Daerah DKI Jakarta dan lainnya mesti mengambil pelajaran dari kasus Sungai Danube di Eropa. Sungai itu bukan milik satu negara saja. Dan hasil dari kerja sama yang dijalin dengan baik, kualitas sungai itu terus membaik dalam 20 tahun.

Kondisi aktual Sungai Danube terungkap lewat hasil survei bersama yang kedua kali yang dilakukan oleh Komisi Internasional untuk Perlindungan Sungai Danube (ICPDR). “Danube dan anak-anak sungainya semakin bersih,” begitu bunyi laporan survei itu.

Air Sungai Danube mungkin tidak jernih-jernih amat, tapi laporan tersebut menyebutkan bahwa kualitas air sungai itu jelas sekali menunjukkan perbaikan. Kerja sama antarnegara-negara yang dilintasi sungai itu tidak sia-sia. Berbuah positif.

Survei dilakukan pada Agustus 2007 lalu. Survei itu merangkai survei yang pertama pada 2001. Sungai yang panjangnya mencapai 2.600 kilometer itu dikaji, dan sepanjang 2.415 kilometer di antaranya harus dilakukan dengan menggunakan tiga kapal, mulai dari Kelheim di Jerman melewati 10 negara hingga ke Delta Dunbe di Rumania dan Ukraina.

“Meski belum di semua tempat, Sungai Danube kini bisa dijadikan tempat berenang. Orang-orang juga bisa menyantap ikan dari sungai itu dengan aman, meski penelitian tentang konsentrasi merkurinya harus terus dilakukan di beberapa bagian wilayah,” ujar Presiden ICPDR, Sasa Dragin, yang juga Menteri Air dan Pertanian Serbia.

Secara keseluruhan, dari surveinya yang kedua kali, ICPDR menemukan bukti bahwa total 80 persen Sungai Danube sudah bisa diklasifikasikan memiliki indikasi kelas kualitas air yang bagus berdasarkan kandungan polusi organiknya. Polutan, terutama nitrogen dan fosfor, telah jauh berkurang dalam 20 tahun terakhir, meski kadarnya masih hampir dua kali lipat dari kadar pada 1950-an.

“Diskusi lebih intensif dengan para stakeholders di sektor pertanian, pembangkit tenaga air, dan industri masih akan kami lakukan,” kata Sekretaris Eksekutif ICPDR, Philip Weller.

AFP | WURAGIL

Sumber: http://www.tempointeractive.com/hg//2008/09/15/brk,20080915-135603,id.html

Written by airsungaikelassatu2020

November 13, 2008 at 6:15 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: