sungaibersih2020

Sungaiku Bersih Sungaiku Jernih

Kualitas Air Sungai di Indonesia

leave a comment »

2005

Menneg LH: 19 Sungai di Indonesia Tercemar Berat

Kamis, 17 November 2005, 19:14 WIB

Menteri Negara Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar, mengatakan sedikitnya 19 sungai di Indonesia yang berada dalam kondisi kritis atau tercemar berat sehingga perlu dilakukan usaha penyelamatan sesegera mungkin.

“Selama ini usaha menyelamatan sumber daya air di daerah aliran sungai selalu bersifat sektoral dimana setiap pihak bergerak sendiri-sendiri. Demi efisiensi dan efektivitas maka kini kami mencoba melakukan koordinasi dengan semua elemen terkait,” kata Rachmat di Jakarta, Kamis (17/11).

Menurutnya, usaha pemulihan kualitas dan kuantitas air sungai akan lebih cepat dan lebih efektif jika melibatkan seluruh elemen terkait di bawah satu koordinasi sehingga tidak tumpang tindih dan dapat berbagi beban. “Kami sepakat untuk melakukan kerja bersama untuk menyelamatkan sumber daya perairan, targetnya dalam masa kerja kabinet ini telah tampak perubahan fisik yang jelas,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut Kementrian Lingkungan Hidup melakukan koordinasi dengan Departemen Kehutanan, Bappenas, Departemen Pekerjaan Umum (PU) dan Pemerintah Daerah Jakarta dan Jawa Barat. “Kami sepakat untuk melakukan penegakan hukum dan pemantauan sumber daya air,” ungkapnya.

Langkah pertama dari program koordinasi antar pihak itu adalah melakukan penyelamatan kualitas dan kuantitas air Sungai Ciliwung. “Untuk pertama memang Ciliwung dahulu karena Ciliwung itu digunakan untuk pasokan air minum, selanjutnya tentu saja sudah mengantre sungai-sungai yang lain seperti Citarum, Cimanuk dan Bengawan Solo,” ujarnya.

Dalam program itu, Rachmat berharap sudah akan terlihat hasilnya secara signifikan dalam satu atau dua tahun mendatang. “Keinginan kita dalam satu atau dua tahun mendatang telah ada perbedaan nyata sehingga masyarakat dapat melihat hasil kerja program ini secara kasat mata. Misalnya dengan tidak ada lagi sampah di sungai,” paparnya.

Pantauan terhadap keberhasilan program itu, lanjut Rachmat, dilakukan dari segi kualitatif yakni pantauan kualitas air dan secara kuantitatif berupa pantauan kepada debit atau volume air. “Rata-rata sungai di Indonesia itu mengalami perbedaan debit air yang sangat mencolok di musim hujan dan kemarau. Itu yang harus dihindari, jangan sampai kebanjiran di musim hujan tetapi kekeringan di musim kemarau,” katanya.

Rachmat memaparkan, nantinya akan kembali dilakukan evaluasi atas bangunan-bangunan yang berada di sepanjang Sungai Ciliwung. “Peraturannya kan sebetulnya sudah ada, sekarang yang penting adalah penegakannya. Kalau memang benar-benar melanggar dan izinnya tidak tepat tentu saja ada kemungkinan untuk dirobohkan,” ucapnya.

Kementrian Lingkungan Hidup, sambung Rachmat, mempunyai fungsi mengoordinasikan keterpaduan perencanaan dan pelaksanaan kebijakan nasional dalam pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan amanat UU Nomor 23 tahun 1997 pasal 9 ayat 2. “Koordinasi itu kini telah tertuang dalam satu master plan yang menjabarkan tahapan kegiatan dan penanggung jawab kegiatan dengan sasaran dan waktu yang jelas,” demikian Rachmat Witoelar.

Sumber: http://www2.kompas.com/utama/news/0511/17/191722.htm

DESEMBER 2005

Tinggi, Pencemaran Tujuh Sungai Induk di Jawa Barat

Bandung, Kompas – Kadar pencemaran air pada tujuh sungai induk di Jawa Barat relatif tinggi, bahkan beberapa sungai sudah kehilangan fungsi baku mutu air.

Tujuh sungai itu adalah Sungai Citarum, Ciliwung, Cileungsi, Cisadane, Citanduy, Cimanuk, dan Sungai Cilamaya.

Menurut Kepala Subdinas Pengendalian Pencemaran Air Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jawa Barat Lusia Boer, masing-masing sungai punya kadar pencemaran yang berbeda, bergantung pada lingkungan sosial.

Penyebab utama pencemaran air sungai masih berasal dari limbah rumah tangga, pabrik, pertanian, dan peternakan. Meskipun jumlah buangan rumah tangga mencapai 60 persen dari total limbah di sungai, kadar limbah bahan berbahaya dan berbahaya tertinggi masih berasal dari pabrik.

”Sehingga sungai yang berpotensi tercemar adalah yang melintas di sekitar pabrik. Dan, tiga sungai yang paling tercemar adalah Sungai Citarum, Ciliwung, dan Cileungsi-Bekasi,” ujar Lusia, Rabu (7/12).

Sungai Citarum merupakan sungai dengan kadar pencemaran tertinggi dan masuk kategori kelas empat. Maksudnya, air sungai itu hanya dapat digunakan untuk pertanian.

Adapun Sungai Ciliwung dan Cileungsi-Bekasi masuk kategori kelas tiga, dengan air yang masih bisa dimanfaatkan untuk perikanan air tawar.

Berdasarkan catatan BPLHD Jabar, ada 542 industri, 8,6 juta jiwa, dan 79,8 hektar sawah pertanian di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum yang berpotensi menyumbang limbah. Di DAS Cileungsi-Bekasi, ada 168 industri dengan 2,7 juta jiwa penduduk.

Di DAS Cimanuk, ada 3,2 juta penduduk dengan 312 industri yang ada di sekitarnya. Limbah bermasalah adalah limbah yang tak dapat terurai, seperti deterjen, sampah plastik, dan bahan kimia pabrik.

Dengan demikian, kata Lusia, pengoperasian instalasi pengolahan air limbah secara maksimal pun tidak dapat mengubah mutu air sungai. (d09)

Sumber: http://64.203.71.11/kompas-cetak/0512/08/Jabar/2273187.htm

2006

Kualitas Air Sungai di Indonesia Terus Menurun

16 Agustus 2006 : 09.47 WIB

Jakarta, CyberNews. Kualitas air sungai di Indonesia terus menurun akibat pencemaran sehingga penyediaan air terbatas. Limbah domestik, industri, pertanian dan peternakan mempengaruhi kualitas air sungai di Indonesia yang berjumlah lebih 400 jenis.

Asisten Deputi Urusan Pengendalian Kerusakan Sungai dan Danau di Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Antung Dedy R mengungkapkan hal itu di Jakarta sehubungan dengan laporan Status Lingkungan Hidup 2005 yang dikeluarkan KLH.

Pemantauan kualitas air bersih di 32 sungai tahun 2004 dan 30 sungai tahun 2005 di Indonesia oleh KLH dengan frekuensi pengambilan dua kali dalam setahun menunjukkan lebih dari 50 persen parameter DO (dissolved oxygen), BOD (biochemical oxygen demand), COD (chemical oxygen demand), fecal coli dan total coliform yang dipantau sudah tidak memenuhi kriteria mutu air kelas I sesuai dengan PP Nomor 82 Tahun 2001.

Untuk parameter BOD tahun 2005 misalnya turun dari 26 persen tahun 2004 jadi 19 persen (2005) dan COD naik dari 29 persen tahun 2004 jadi 37 persen (2005) dari keseluruhan sampel yang diambil yang memenuhi kriteria mutu air kelas I. “Untuk memulihkan kualitas sungai-sungai itu, semua sektor termasuk departemen kehutanan, pertanian dan pekerjaan umum harus punya aksi dan mengeroyoknya,” kata Antung.

Dari sejumlah sungai yang tercemar itu, KLH telah membuat rencana induk untuk pemulihan Sungai Ciliwung mulai tahun ini hingga 2026 dengan melibatkan pemerintah pusat, provinsi DKI Jakarta, provinsi Jawa Barat, kabupaten Bogor dan pemerintahan kota administratif Depok.

Ditargetkan tiap lima tahun, kualitas air di sungai ini naik dan langkah serupa juga akan dilakukan di provinsi lain yang kualitas air sungainya seperti Sungai Ciliwung. Sebagai perbandingan, Singapura yang merupakan negara kota dan tetangga Indonesia memerlukan waktu 18 tahun untuk memulihkan kualitas air sungai-sungainya. “Sungai Ciliwung sebagian besar dicemari oleh limbah domestik dan sungai ini tak punya kelas,” ujar Antung.

KLH mengkategorikan air menjadi kelas I dan II. Kelas I yaitu air yang dapat digunakan untuk air baku air minum dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut; kelas II yaitu air yang dapat digunakan untuk prasarana dan sarana rekreasi air, budi daya ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

Ia juga mengatakan dibutuhkan dana besar untuk menurunkan beban pencemaran. “Sebagai contoh kasus di Bogor, perusahaan air minum setempat memerlukan Rp535 miliar per tahun untuk menurunkan BOD hingga sebesar 6,95 mg/liter,” ujarnya.

Karena kualitas air sungai yang terus menurun, Antung menambahkan bahwa Jakarta, Yogyakarta, dan Jawa Timur mengalami krisis ketersediaan air baku. “Pemerintah tidak tinggal diam dan telah melancarkan gerakan nasional kemitraan penyelamatan air yang melibatkan KLH, Departemen Kehutanan dan Pekerjaan Umum tahun lalu. Walau tidak siginifikan, kini kualitas air Sungai Ciliwung mengalami peningkatan,” katanya.

Sumber: http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0608/16/nas8.htm

JANUARI 2008

62 Sungai di Indonesia Tercemar Limbah

Kamis, 17 Januari 2008

Carolina – Okezone

TANGERANG- Kementrian Lingkungan Hidup memastikan sedikitnya 62 sungai di Indonesia mengalami pencemaran lingkungan yang sangat parah. Dan pencemaran tersebut disebabkan dari limbah industri besar, industri rumah tanggan dan penutupan lahan.

Menteri Lingkungan Hidup, Rahcmat Witoelar mengatakan pencemaran tersebut terjadi dari hulu sampai hilir. Dan untuk memperbaikinya diperlukan waktu 15-20 tahun. “Perlu waktu yang sangat lama untuk mengembalikan ke kondisi semula,”ujarnya saat melakukan inspeksi mendadak di PT Indah Kiat, Alam Sutra, Serpong, Kamis (17/1/2008).

Dikatakannya kembali dari 62 sungai tersebut diantaranya Sungai Ciliwung yang mengalami pencemaran yang sangat parah karena sudah melampaui ambang batas terutama aliran yang menuju ke Jakarta.

Sedangkan aliran yang di Bogor masih dalam kondisi sedang atau masih masuk tingkat tiga. Begitupula dengan Sungai Cisadane untuk aliran hulu masih dalam kondisi masih bisa digunakan untuk perikanan. ” KLH akan kerjasama dengan Departement Kehutanan, Pertanian dan Pekerja Umum untuk melakukan perbaikan-perbaikan terhadap sungai di Indonesia,”jelasnya.

Dalam sidak tersebut Rahmat Witoelar dan Gubernur Banten, Ratu Atut Choisyah juga meninjau instalansi pembuangan limbah di PT Indah Kiat dan juga melakukan tinjauan di sepanjang Sungai Cisadane dengan menggunakan perahu karet.

Ketika melakukan tinjauan tersebut, rachmat Witoelar mendapati PT Panca Usahatama Paramita. produksi tissue sedang melakukan pembuangan limbah secara langsung ke Sungai Cisadane. “Kami akan panggil dan lakukan penyelidikan,”katanya kembali. (sjn)

Sumber: http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/01/17/1/76034/62-sungai-di-indonesia-tercemar-limbah

NOVEMBER 2008

70 Persen Sungai Indonesia Tercemar

Rabu, 5 November 2008

PADANG, RABU – Sejumlah 70 persen sungai di Indonesia tercemar. Penyebabnya adalah masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk memperhatikan sanitasi. Sungai tercemar itu tidak bisa lagi digunakan secara maksimal untuk aneka kebutuhan.

Dari data dampak ekonomi dari sanitasi di Asia Tenggara tahun 2008, beberapa sungai yang tercemar adalah Sungai Deli, Sungai Batanghari, Sungai Musi, Sungai Air Bengkulu, Sungai Ciliwung, Sungai Citarum, dan Sungai Brantas.

Perilaku manusia yang menyumbangkan pencemaran sungai antara lain kebiasaan membuang hajat di sungai. Selain itu, tinja yang diserap oleh mobil tangki langsung dibuang ke sungai tanpa pengolahan terlebih dulu.

Di sisi lain, sungai masih menjadi tempat kegiatan masyarakat seperti mandi dan mencuci. Perusahaan seperti PDAM juga mengambil air baku untuk minum dari sungai.

“Cara mengubah perilaku manusia untuk buang hajat di sungai lebih efektif dilakukan dengan memberikan alasan-alasan berupa dampak ekonomi. Sebagai contoh, saya pernah memberikan argumen kepada masyarakat di tepi Sungai Batanghari, bahwa kebiasaan membuang hajat di sungai akan merugikan mereka karena air sungai digunakan untuk mencuci batang sagu yang akan dikirim ke Malaysia,” ujar Wahanuddin, tim teknis dari Dinas Kesehatan untuk Sanitasi Indonesian Sanitation Sector Development Program (ISSDP), Rabu (5/11) saat diskusi media di Padang.

Karena itu, peningkatan kesadaran sanitasi dibutuhkan untuk menjaga kelestarian sungai. (ART) Agnes Rita Sulistyawaty

Sumber: http://kompas.co.id/read/xml/2008/11/05/14401055/70.persen.sungai.indonesia.tercemar.

Written by airsungaikelassatu2020

November 21, 2008 at 1:50 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: