sungaibersih2020

Sungaiku Bersih Sungaiku Jernih

Kajian / Penelitian

leave a comment »

1985

Avertebrata bentos sebagai bioindikator kualitas air Sungai Ciliwung, Jakarta

Penulis: Muhammad R Karliansyah
Jurusan: Biologi FMIPA-UI
Jenis tugas akhir: Skripsi
Tahun pencetakan: 1985
Bidang penelitian: Ekologi
Tanggal upload data: 23 Pebruari 2006
Tersedia di: FMIPA-UI

Abstrak:
Penelitian keanekaan jenis avertebrata bentos yang dilakukan di 15 stasiun pengamatan di sepanjang Sungai Ciliwung Jakarta, telah berhasil mengumpulkan 12 jenis avertebrata bentos yang tergolong ke dalam 4 filum, yaitu Tubifex tubifex (Annelida), Belostoma sp., Chironomus sp., Dicranota sp., dan Dryopid sp. (Arthropoda), Bellamya javanica, Brotia testudinaria, Corbicula javanica, Lymnaea rubiginosa, Melanoides tuberculata, dan Thiara scabra (filum Mollusca), serta Chlamydomonas sp. (Protozoa).Dengan menggunakan indeks keanekaan Shannon-Wiener, diketahui bahwa indeks keanekaan jenis avertebrata bentos di sepanjang S. Ciliwung Jakarta berkisar antara 0,00-2,19. Berdasarkan indeks tersbut maka kualitas air sungai di stasiun-stasiun begian hulu (Kelurahan Tanjung Barat dan Cipinang Cempedak) termasuk kriteria tercemar ringan sampai sedang. Makin ke arah hilir pencemaran makin berat. Akan tetapi di bagian muara (Kelurahan Mangga Dua Utara) tingkat pencemaran menurun sekali. Korelasi positif antara kandungan oksigen terlarut dan kedalaman sungai terhadap nilai indeks keanekaan jenis avertebrata bentos, menunjukkan bahwa indeks tersebut dapat digunakan untuk menilai kualitas air suatu perairan.

Sumber: http://www.telukjakarta.net/index.php?q=node/Daratan:SungaiDanDanau:KualitasAir/tugas_akhir/68

1989

Kandungan telur Ascaris lumbricoides (Linnaeus 1758) di sepanjang Sungai Ciliwung antara Depok dan Jakarta

Penulis: Rizal Subahar
Jurusan: Biologi FMIPA-UI
Jenis tugas akhir: Skripsi
Tahun pencetakan: 1989
Bidang penelitian: Ekologi
Tanggal upload data: 13 Maret 2006
Tersedia di: FMIPA-UI

Abstrak:
Sungai Ciliwung mempunyai arti yang sangat penting bagi penduduk yang berada di sepanjang sungai tersebut, sebab sejak dulu sungai ini telah dimanfaatkan penduduk untuk memenuhi aneka keprluan sehari-hari. Akibatnya, terutama dalam membuang tinja di sungai, sungai tersebut terkontaminasi oleh telur Ascaris lumbricoides. Dengan metode sentrifugasi telah dapat diisolasi berbagai bentuk telur A. lumbricoides, yaitu bentuk normal, dekortikasi, berembrio dan tidak dibuahi. Kandungan telur A. lumbricoides di Sungai Ciliwung dari 96 sampel sebanyak 764 telur (frekuensi = 77,09%). Di bagian hulu didapatkan telur A. lumbricoides sebanyak 16 telur (frekuensi 33,33%), di hilir sebanyak 98 telur (frekuensi = 33,33%) dan di muara sebanyak 650 telur (frekuensi = 33,33%). Dikhawatirkan air Sungai Ciliwung dapat menyebarkan askariasis mengingat sungai tersebut masih dimanfaatkan penduduk untuk aneka keperluan sehari-hari.

Sumber: http://www.telukjakarta.net/index.php?q=node/Daratan:SungaiDanDanau:BiotaDanTumbuhan/tugas_akhir/142

2001

Analisis Pencemaran Air Sungai Ciliwung Dengan Metoda Anodik Striping Voltametri

Penulis : Saryati, Tuti Setiawati, Raden Panji A.H. dan Wahyudianingsih
ISBN/ISSN : ISBN 979-95559-0-0
Penerbit : Puslitbang Iptek Bahan – BATAN
Sumber Publikasi : Prosiding Elektrokimia 2001
Waktu Pelaksanaan : 2001
Lembaga Riset : Pusat Penelitian dan Pengembangan Iptek Bahan – BATAN

Abstrak : Telah dilakukan analisis kecemaran Zn, Cd, Pb dan Cu dalam air sungai Ciliwung. Sampel air diambil dari lima lokasi pengambilan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung yaitu Kedung Badak, Pancoran Mas, Tanjung Barat, Kampung Melayu dan Pantai Marina. Analisis dilakukan dengan metoda anodik striping voltametri dalam media bufer tartrat menggunakan peralatan Polarographic Analyzer dari EG&G PAR model 384 B yang dilengkapi dengan Static Drop Mercury Electrod (SMDE) yang menggunakan elektroda kerja tetes mercuri gantung (HMDE) sebagai elektroda kerja, Ag/AgCl/KCl sebagai elektroda pembanding dan kawat platina sebagai elektroda pembantu dengan teknik square wave voltammetry. Diperoleh kesimpulan bahwa, semua sampel air sungai Ciliwung yang dianalisis sudah tercemar. Konsentrasi pencemar bervariasi tergantung pada curah hujan dan aktivitas masyarakat di sekitarnya. Konsentrasi Zn dalam air sungai Ciliwung lebih dipengaruhi oleh curah hujan sedangkan konsentrasi Cd, Pb dan Cu lebih dipengaruhi oleh aktivitas masyarakat . Konsentrasi Zn yang terdeteksi ( 0,35 mg/l – 1,57 mg/l) jauh lebih besar dari konsentrasi pencemar yang lain, konsentrasi Cd paling tinggi 0,066 mg/l, konsentrasi Pb paling tinggi 0,120 mg/l dan konsentrasi Cu paling tinggi 0,082 mg/l.

Sumber: http://www.dbriptek.ristek.go.id/cgi/penjaga.cgi?tampildetil&publikasi&1065371081&502&&&

2002

Pengembangan Model Pengendalian Pencemaran Air

Oleh: Abdurrahman, Budi Hartono, Yasep Setia Karnawijaya, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia

Seiring dengan bertambahnya populasi manusia, diperkirakan masalah kuantitas air cenderung semakin bertambah dengan kualitas yang semakin buruk akibat pencemaran. Pencemaran air dapat terjadi karena polutan berupa limbah industri yang dibuang dengan cara yang tidak dibenarkan, dan rusaknya populasi biota air yang diakibatkan oleh kegiatan manusia. Salah satu cara untuk mengenali masalah pencemaran air adalah dengan mengukur kualitas dan evaluasi ekologi.

Penelitian bertujuan untuk menghasilkan model pengendalian pencemaran air dengan pendekatan ekosistem guna mengefektifkan impelementasi PP No. 82/2001. Penelitian ini dilaksanakan di Bogor dan Jakarta pada tahun 2002. Penelitian ini menggunakan air sungai Ciliwung sebagai obyek penelitian dengan pertimbangan sampel mudah dikumpulkan. Dengan tehnik Quality Improvement, data karakteristik kualitas air dapat diubah jadi Control Chart yang memperlihatkan natural tolerance dan natural level.

Dari hasil pengukuran kualitas fisika, kimia dan biologis maka didapat nilai-nilai yang menyatakan kualitas masing-masing titik sampel yang disajikan dalam bentuk Control Chart. Melalui control chart ini dapat dimunculkan dua informasi penting yaitu Critical Control Point atau titik kendali kritis dan Uncontrolled Parameter atau parameter yang tak terkendali.

Kesimpulan adalah Control Chart dapat digunakan sebagai model pengendalian pencemaran air cukup baik. Agar model pengendalian pencemaran ini dapat diterapkan untuk semua ekosistem air.

Disarankan agar dilakukan sosialisasi kepada masyarakat pengguna air untuk menumbuh-kembangkan peranserta, melakukan studi lanjut pada berbagai ekosistem.

Sumber:  http://www.litbang.depkes.go.id/risbinkes/Buku%20laporan%20penelitian%201997-2006/14-pengembangan_model_pengendalian.htm

2003

PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR SUNGAI CILIWUNG BAGIAN HULU & TENGAH TERHADAP SENYAWA-SENYAWA NITROGEN DENGAN MENGGUNAKAN MODEL QUAL2E

Undergraduate Theses from JBPTITBTL / 2005-01-26 09:23:00
By : Meylina Octavia Manik, Department_of_Environmental_Engineering
Created : 2003-00-00, with 1 files

Keyword : Model QUAL2E, senyawa-senyawa nitrogen, simulasi, pengendalian pencemaran

Sungai Ciliwung bagian hulu & tengah melintasi daerah pariwisata Bopunjur (Bogor-Puncak-Cianjur) dimana wilayah ini merupakan kawasan yang berkembang cukup pesat, terutama pembangunan kompleks permukiman, industri dan pariwisata sehingga perubahan tata guna lahan yang terjadi setiap tahunnya cukup signifikan. Perubahan ini dapat mempengaruhi kualitas air sungai. Salah satu parameter panting dalam kualitas air sungai adalah seyawa-senyawa nitrogen. Bentuk senyawasenyawa nitrogen seperti nitrogen organik (N-org), amonia (N-NH3), nitrit (N-NO2) dan nitrat (N-NO3).

Untuk menunjang langkah-Iangkah pengendalian kualitas air Sungai Ciliwung, diperlukan suatu pemodelan kualitas air untuk memperkirakan konsentrasi senyawa-senyawa nitrogen di sepanjang Sungai Ciliwung. Model yang digunakan adalah model QUAL2E yang mempunyai batasan-batasan seperti aliran bersifat tunak (steady-state) dan aliran searah sumbu-x (monodimensi).

Hasil simulasi model kemudian dibandingkan dengan hasil pengamatan di lapangan. Dari hasil simulasi diperoleh kesimpulan bahwa model QUAL2E kurang sesuai untuk diterapkan pada Sungai Ciliwung bagian hulu & tengah karena sifat aliran yang ada adalah turbulen atau kemiringan aliran relatif besar, sedangkan persyaratan untuk aliran dalam model QUAL2E adalah bersifat laminar aliran tenang dan kemiringan aliran hampir sama dengan kemiringan dasar sungai.

Senyawa-senyawa nitrogen yang tercemar dalam Sungai Ciliwung hulu & tengah yang dibandingkan terhadap Baku Mutu PP RI No. 82 Tahun 2001 adalah amonia dan nitrit. Pengendalian pencemaran pada Sungai Ciliwung ditujukan terutama pada limbah domestik. Hasil simulasi skenario model QUAL2E dengan melakukan pengolahan IPAL Terpadu & pengolahan biologi dapat dicapai efisiensi penyisihan senyawa-senyawa nitrogen sebesar 30% dan apabila dengan melakukan IPAL Terpadu & Air Stripping dapat dicapai efisiensi sebesar 70%.

Pengolahan dengan IPAL Terpadu & pengolahan biologi menghasilkan kualitas air nitrogen organik dan nitrat yang memenuhi Kriteria Baku Mutu Kelas I PP RI No. 82 Tahun 2001. Pengolahan dengan IPAL Terpadu & air stripping menghasilkan kualitas air nitrogen organik, amonia dan nitrat yang telah memenuhi Kriteria Baku Mutu Kelas I PP RI No. 82 Tahun 2001.

Sumber: http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptitbtl-gdl-s1-2003-meylinaoct-112&q=Daerah

OPTIMASI PENGENDALIAN PENCEMARAN DI SUNGAI CILIWUNG DKI JAKARTA AKIBAT BUANGAN ORGANIK INDUSTRI DAN DOMESTIK DENGAN METODE PROGRAM LINIER

Kategori : Tesis
Pengarang : MELVIKA ARUNI
Tahun Terbit : Th 2003
Penerbit : DEPARTEMEN TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2003
Klasifikasi : NIM. 15398015
Lokasi : Perpustakaan ITB
Kata Kunci : PENCEMARAN, SAMPAH ORGANIK DOMESTIK

Abstrak : SUMBER DATA http://www.itb.ac.id TUGAS AKHIR

Tugas Akhir ini mengkaji penggunaan salah satu metode optimasi, yaitu program linier untuk diterapkan pada masalah pengelolaan kualitas air. Model pengelolaan sungai pada penelitian ini diterapkan untuk memenuhi tujuan kualitas dan tujuan ekonomi. Tujuan kualitas yang diharapkan adalah agar kualitas sungai memenuhi baku mutu yang ditetapkan sedangkan tujuan ekonomi yang diharapkan adalah biaya pengelolaan sungai yang seminimal mungkin. Model dibentuk atas dasar kemampuan air untuk menerima beban pencemar organik yang dibuang oleh sumber pencemar disepanjang sungai dan kemudian akan dicari solusi optimal untuk setiap sumber pencemar. Terdapat 18 industri dan 4 anak sungai yang memberikan kontribusi bahan buangan organik tertentu kedalam Sungai Ciliwung, yang akan dikaji dalam penelitian ini. Dan model yang sudah diperoleh, diperoleh hasil yang optimal dengan menurunkan konsentrasi pencemar organik hingga 95% untuk lima sumber pencemar, yaitu S1, S2, S3, S4, T9 dan satu sumber pencemar harus melakukan pengolahan hingga 73%, yaitu T8. Perbedaan terjadi dengan adanya perubahan tingkat pengolahan pada beberapa pencemar dengan beban pencemaran yang relatif berat. Dengan demikian, terbukti bahwa optimasi dengan menggunakan metode program Nnier dapat digunakan untuk pengelolaan kualitas air dan diharapkan melalui penelitian ini, kualitas Sungai Ciliwung dapat menjadi Iebih baik dengan menerapkan model optimasi ini ke semua sumber pencemar yang terdapat di Sungai Ciliwung.

Sumber:  http://digilib.ampl.or.id/detail/detail.php?kode=465&row=3&tp=pustaka&ktg=tesis&kd_link=

PENERAPAN QUAL2E UNTUK SIMULASI KONSENTRASI DO DAN BOD DI SUNGAI CILIWUNG, JAWA BARAT SERTA UPAYA PENGENDALIANNYA SECARA TEKNIS

Undergraduate Theses from JBPTITBTL / 2005-01-25 12:54:39
Oleh : Aminah, Department_of_Environmental_Engineering
Dibuat : 2003-00-00, dengan 1 file

Keyword : Sungai, BOD, DO, QUAL2E, Pengendalian Pencemaran

Pemantauan terhadap kualitas air sungai dilakukan untuk menjaga agar sungai terhindar dari pencemaran dan tetap sesuai dengan peruntukkannya. Pencemaran yang terjadi dalam aliran sungai dapat disebabkan oleh pencemar organik dan anorganik. Pencemar organik yang masuk ke dalam aliran sungai dapat meningkatkan konsentrasi BOD (Biological Oxygen Demand) dan menurunkan konsentrasi DO (Dissolved Oxygen) atau oksigen terlarut dalam aliran sungai. Untuk meperkirakan konsentrasi DO dan BOD pada aliran sungai dapat digunakan aplikasi QUAL2E. QUAL2E merupakan suatu perangkat lunak yang dapat mensimulasikan 15 parameter kualitas air, diantaranya DO dan BOD. Untuk mengetahui parameter-parameter yang mempengaruhi hasil simulasi dilakukan analisis sensitivitas dengan metode pertubrasi parameter. Kalibrasi juga dilakukan agar diperoleh hasil simulasi yang lebih mendekati nilai dari data observasi. Analisis perbedaan antara data observasi dengan data hasil simulasi dilakukan secara statistik melalui uji chi kuadrat. Hasil pemantauan terhadap kualitas air sungai dapat menjadi salah satu dasar dalam memperkirakan upaya pengendalian yang akan dilakukan terhadap sungai tersebut. Salah satu upaya pengendalian terhadap konsentrasi BOD dan DO adalah pengendalian pada sumbernya, yaitu dengan cara menurunkan besarnya konsentrasi BOD dalam limbah yang akan masuk ke aliran sungai. Penurunan konsentrasi BOD dapat dilakukan dengan membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk limbah industri, membangun tanki septik di kawasan pemukiman dan membangun IPAL terpadu untuk limbah domestik. Simulasi terhadap pembangunan IPAL dan tanki septik dilakukan untuk mengetahui penurunan konsentransi BOD setelah adanya upaya pengendalian tersebut. Penggunaan model QUAL2E di Sungai Ciliwung dapat membantu memperkirakan profil konsentrasi DO dan BOD yang terdapat pada aliran sungai tersebut, meskipun input data yang dilakukan hams terus disesuaikan dengan keadaan di lapangan. Pembangunan IPAL terpadu untuk mengolah limbah domestik penting untuk dipertimbangkan karena limbah domestik merupakan pencemar utama pada aliran sungai Ciliwung Jawa Barat.

Sumber:  http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptitbtl-gdl-s1-2003-aminah-82&q=Sungai

2004

Komunitas Makrozoobenthos Sebagai Indikator Biologi Perairan Sungai Ciliwung

Penulis: Dadan Ridwan
Jurusan: Manajemen Sumberdaya Perairan – Institut Pertanian Bogor
Jenis tugas akhir: Skripsi
Tahun pencetakan: 2004
Bidang penelitian:Kualitas air
Tanggal upload data: 11 Mei 2006
Tersedia di: Perpustakaan Fakultas Perikanan dan Kelautan IPB, Perpustakaan Pusat IPB

Abstrak:
Sungai Ciliwung mengalir melintasi wilayah Kabupaten Bogor, Kotamadya Bogor, dan DKI Jakarta. Sungai ini melintasi kawasan pertanian, perkebunan, pemukiman penduduk, perikanan, parwisata, dan berbagai macam industry. Hal ini sangat berpengaruh terhadap kondisi perairan Sungai Ciliwung dimana berbagai pemanfaatan tersebut dapat menimbulkan persoalan seperti penurunan kualitas air di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pencemaran yang terjadi pada Sungai Ciliwung dan gangguan ekoiogi pada komunitas makrozoobenthos seagai objek studinya, yang didukung dengan parameter fisika dan kimia perairannya. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2002 dan didukung oleh data fisika-kimia air bulan Juli dan Agustus 2002 yang dikaji oleh Tim Surveyor PusLit Limnologi LIPI Cibinong. Data yang digunakan sebagai dasar analisis penelitian ini adalah data parameter fisika-kimia dan data organisme makrozoobenthos.Parameter fisika-kimia yang digunakan adalah kecepatan arus, kekeruhan, suhu, pH, DO, BOD, total fosfat, nitrat dan ammonia. Data makrozoobenthos yang digunakan adalah yang yang ditemukan pada setiap stasiun pengamatan, dan analisis datanya meliputi jumlah taxa, indeks BMWP, dan komposisi dominansi. Hasil analisis data grafik Box & Whisker Plot dari nilai komposisi dominansi dapat dijelaskan bahwa dari mulai stasiun pengamatan Gunung Mas hingga Katulampa memiliki kualitas perairan yang tidak atau belum mengalami gangguan, kecuali untuk stasiun Bojong Gede hingga Manggarai yang perairannya sudah mengalami gangguan.

Sumber: http://www.telukjakarta.net/index.php?q=node/Daratan:SungaiDanDanau:KualitasAir/tugas_akhir/165

2006

Status Pencemaran Beberapa Anak Sungai Ciliwung Hulu Berdasarkan Indeks Kimia Kirchoff

Penulis: Tri Suryono
Tanggal upload data: 08 September 2006
Bidang penelitian: Pencemaran

Abstrak:
Penelitian mengenai Sungai Ciliwung saat ini banyak dilakukan pada bagian tengah dan hilir. Sungai Ciliwung memiliki fungsi dan peranan penting sebagai penunjang aktifitas masyarakat di sekitarnya, sehingga kualitas airnya perlu dipantau terus-menerus. Indeks Kimia Kirchoff merupakan salah satu metode perhitungan guna memperkirakan besarnya tingkat pencemaran yang terjadi berdasarkan hasil analisis beberapa parameter kimia dan fisika. Hasil perhitungan dengan indeks kimia kirchoff menunjukkan bahwa dari 31 stasiun pengambilan sampel, 22 stasiun (70,9%) belum tercemar, dan 9 stasiun (29,1%) sudah mengalami pencemaran ringan. Secara garis besar pada umumnya kualitas air anak Sungai Ciliwung hulu masih baik dan tidak melampaui batas kriteria mutu air yang tercantum dalam PP No 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.
Tersedia di: Pusat Penelitian Limnologi – LIPI

Keyword:  Status pencemaran,  Sungai Ciliwung,  Indeks Kimia Kirchoff

Sumber: http://www.telukjakarta.net/index.php?q=node/Daratan:SungaiDanDanau:KualitasAir/article/82

2008

KAJIAN APLIKASI ANALISIS  KUALITAS AIR (STUDI KASUS: SUNGAI CILIWUNG)

I. PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air antara lain menetapkan bahwa:

  1. Pemerintah, Pemerintah Propinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota sesuai dengan kewenangan masing-masing, dalam rangka pengendalian pencemaran air pada sumber air berwenang menetapkan daya tampung beban pencemaran
  2. Daya tampung beban pencemaran dipergunakan untuk :a. Pemberian ijin lokasi. b. Pengelolaan air dan sumber air. c. Penataan ruang. d. Pemberian ijin pembuangan air limbah.. e. Penetapan mutu air sasaran dan program kerja pengendalian pencemaran air. f. Penegakan hukum dalam rangka pengendalian pencemaran air.

Berdasarkan peraturan pemerintah tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam rangka pengendalian pencemaran dan pemulihan kualitas air, daya tampung beban pencemaran dapat dimanfaatkan untuk menyusun program kerja yang lebih terarah dengan target yang terukur.

Oleh karena itu maka Menteri Negara Lingkungan Hidup menerbitkan Keputusan Nomor 110 Tahun 2003 tentang Pedoman Penetapan Daya Tampung Beban Pencemaran Air pada Sumber Air. Dalam keputusan menteri tersebut disebutkan bahwa QUAL2E adalah salah satu model (software) yang dapat digunakan untuk menghitung daya tampung beban pencemaran.

Model QUAL2E dikembangkan pertama kali oleh US EPA dan dimanfaatkan di banyak negara seperti Korea, Jepang dan Malaysia. Model tersebut terus dikembangkan hingga versi ketiga yang diberi nama QUAL2Kw.

I.2. Tujuan dan Sasaran

Tujuan dari kajian ini untuk mengaplikasikan model pengelolaan kualitas air yang sederhana dan dapat diaplikasikan di Indonesia. Sasaran yang ingin dicapai adalah :

  1. Membantu pemerintah, pemerintah daerah propinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota dalam menetapkan daya tampung beban pencemaran pada sumber air.
  2. Memanfaatkan model pengelolaan kualitas air sebagai alat bantu (tools) untuk perencanaan dan penerapan program pengendalian pencemaran dan pemulihan kualitas air.

II. MODEL QUAL2K

II.1. Gambaran Umum

Pada umumnya model kualitas air merupakan pengembangan dari model Streeter-Phelps. Pada tahun 1960 Texas Water Development Board mengembangkan model Streeter-Phelps menjadi paket aplikasi (software) yang diberi nama DOSAG yang kemudian dikembangkan lagi menjadi QUAL I.

US EPA kemudian mengambil alih pengembangan QUAL I agar dapat digunakan pada sungai yang lebih kompleks dan mampu mensimulasikan interaksi lingkungan yang berhubungan dengan proses fotosintesa dan simulasi-simulasi lainnya. Hasil pengembangan QUAL I adalah QUAL II yang mempunyai kemampuan mensimulasi nutrient dan keterkaitannya dengan oksigen terlarut baik dalam aliran stabil maupun tidak. Pengembangan lanjutan dari QUAL II adalah QUAL2E dan versi terakhir adalah QUAL2Kw.

Seperti QUAL2E, QUAL2K juga membagi sungai menjadi bagian-bagian penghitungan. Setiap bagian yang disebut reach atau ruas dibagi lagi dalam sejumlah unsur perhitungan yang masing-masing mengandung kesetimbangan hidrologi, kesetimbangan panas dan suhu, dan kesetimbangan massa dalam konsentrasi.

Kesetimbangan massa memperhitungkan massa hilang atau bertambah melalui proses pembuangan air limbah atau pengambilan air (withdrawl) dari sungai serta proses internal seperti reaksi penguraian senyawa organik dan fotosintesa.

Model QUAL2K mempunyai kemampuan untuk mensimulasi atau memprediksi perubahan kualitas sungai jika aliran limbah dikurangi atau ditambah. Simulasi seperti inilah yang dapat dimanfaatkan untuk mengetahui daya tampung beban pencemaran suatu sungai sesuai dengan kriteria mutu air yang ditetapkan.

II.2. Kebutuhan Data

Untuk menjalankan simulasi secara lengkap, model QUAL2K memerlukan data sebagai berikut :

  1. Temperatur udara;
  2. Tutupan awan;
  3. Kecepatan angin;
  4. Elevasi dan koordinat setiap ujung ruas sungai (reach);
  5. Lebar sungai, kelerengan sungai dan tebing sungai (slope dan side slope);
  6. Koefisien hambatan aliran sungai
  7. Zona waktu (berkaitan denngan lamanya penyinaran matahari)
  8. Panjang dan debit aliran sungai utama;
  9. Lokasi pemantauan kualitas air sungai (kilometer);
  10. Rincian aliran sungai yang masuk dan keluar sungai utama beserta debit aliran dan lokasi (kilometer)
  11. Lokasi (kilometer) setiap sumber pencemaran beserta debit aliran dan kualitas limbahnya;
  12. Pemantauan kualitas air sungai dengan parameter : pH, temperatur, konduktifitas, padatan inorganik, organik nitrogen, NH4-N, NO3-N, BOD, COD, DO, organik phosphor, inorganik phosphor, phytoplankton, detritus, pathogen, dan alkalinitas. Selain itu dapat ditambahkan parameter lain yang spesifik di tiap sungai;
  13. Pemantauan kualitas air limbah dengan parameter yang sama dengan parameter kualitas air namun pada tahap input data disesuaikan dengan jenis sumber pencemarnya;
  14. Nilai parameter-parameter global seperti kebutuhan O2 untuk oksidasi karbon, kebutuhan O2 untuk nitrifikasi NH4, dan faktor koreksi temperatur.

II.3. Penetapan Ruas

Sebelum mengisikan data ke dalam model, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menentukan ruas-ruas sungai yang akan dihitung daya tampungnya. Perlu diketahui juga bahwa model ini menetapkan titik nol atau km 0 di ujung aliran paling hilir.

Sungai yang akan dihitung daya tampung beban pencemarannya harus merupakan sistem aliran yang utuh dari hulu (danau, bendungan, atau mata air yang kualitasnya masih alami) sampai dengan hilir (laut, rawa, atau danau).

Gambar 1. Contoh Sistem Aliran Sungai dari Hulu ke Hilir

Gambar 1. Contoh Sistem Aliran Sungai dari Hulu ke Hilir

Satu ruas sungai (reach) didefinisikan jika sungai utama bertemu dengan aliran sungai lain yang masuk ke sungai utama atau jika ada aliran sungai yang keluar dari sungai utama.

Gambar 1 menunjukkan bahwa Batang Kampar Kanan dan Batang Kampar dibagi menjadi 4 ruas, yaitu :

  1. Ruas 1, dari Bendung Koto Panjang sampai dengan muara Batang Kampar Kiri;
  2. Ruas 2, dari muara Batang Kampar sampai dengan muara Batang Nilo;
  3. Ruas 3, dari muara Batang Nilo sampai dengan muara Batang Krumutan
  4. Ruas 4, dari muara Batang Krumutan sampai dengan muara Batang Kampar

Satu ruas juga dapat ditetapkan jika sungai utama melalui suatu daerah perkotaan, daerah permukiman padat penduduk, daerah industri, areal perkebunan, areal persawahan, dan areal-areal lain yang mempengaruhi kualitas air sungai tersebut.

Gambar 2. Penetapan Ruas Sungai berdasarkan Area Sumber Pencemaran

Gambar 2. Penetapan Ruas Sungai berdasarkan Area Sumber Pencemaran

Untuk memudahkan pengisian data, disarankan agar penetapan ruas (reach) disertai dengan pembuatan sketsa sungai seperti pada Gambar 1 dan Gambar 2.

III. PANDUAN PENGGUNAAN MODEL QUAL2K

Versi terakhir dari model QUAL2K adalah QUAL2Kw yang dapat mensimulasikan kualitas air sungai beserta anak-anak sungai yang masuk ke aliran utama. Dijalankan dengan menggunakan MS – Excell (minimal MS – Excell 2000), model ini terdiri atas beberapa sheet utama yang harus diisi oleh pengguna, yaitu :

  1. QUAL2K
  2. Headwater
  3. Reach
  4. Air Temperature
  5. Dew Point Temperature
  6. Wind Speed
  7. Cloud Cover
  8. Shade
  9. Point Source (jika perlu)
  10. Diffuse Source (jika perlu)
  11. Hydraulics Data
  12. Temperature Data
  13. WQ Data

Fasilitas lain yang disediakan untuk menjalankan model ini adalah tombol Run yang ada di bagian atas pada 13 sheet tersebut. Tombol yang digunakan adalah [Run VBA] yang di klik setelah semua data pada 13 sheet tersebut diisi. Karena pengoperasian tombol [Run VBA] menggunakan Visual Basic, maka fasilitas macro dari MS – Excell harus diaktifkan terlebih dahulu sebelum tombol ini dapat digunakan.

III.1. Pengisian Data

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa setidaknya ada 13 sheet yang datanya harus diisi agar model ini dapat berjalan. Cara pengisian setiap sheet tersebut dijelaskan pada sub bagian di bawah ini.

A. QUAL2K

Dalam sheet ini kita harus mengisi nama sungai (River name), nama file yang akan disimpan (Saved file name), nama direktori tempat file akan disimpan (Directory where the input/output files are saved), tanggal, bulan, tahun (Day, Month, Year) dan wilayah waktu (Time zone).

Gambar 3. Pengisian Sheet QUAL2K

Gambar 3. Pengisian Sheet QUAL2K

B. Headwater

Pada sheet Headwater data yang harus diisi adalah debit sumber air (Headwater Flow), dan parameter-parameter kualitas air di sumber air. Jika pemantauan tidak dilakukan dalam periode per jam, maka nilai-nilai parameter cukup diisikan satu kali pada kolom C (12:00 AM). Baris 28 dan seterusnya tidak perlu diisi (optional)

Gambar 4. Pengisian Sheet Headwater

Gambar 4. Pengisian Sheet Headwater

Pemantauan sebaiknya dilakukan berulangkali sehingga dapat menggambarkan karakter sumber air yang sebenarnya dilihat dari kualitasnya. Jika hal ini dilakukan maka nilai yang dimasukkan ke dalam sheet Headwater adalah nilai rata-rata.

C. Reach

Setelah sebelumnya membuat sketsa sungai, titik-titik pembagian ruas, dan jarak setiap titik ruas dari hilir (km 0), langkah selanjutnya adalah mengisikan data tersebut ke sheet ini.

Gambar 5. Pengisian Sheet Reach

Gambar 5. Pengisian Sheet Reach

Langkah pertama adalah mengosongkan angka-angka yang ada di kolom D, E, dan F. Di mulai dengan baris Headwater, isikan :

  1. Jarak titik headwater dari titik paling hilir (km 0) pada kolom G.
  2. Elevasi titik headwater dari permukaan laut (kolom I)
  3. Koordinat (latitude dan longitude) titik headwater yang dinayatakan dengan derajat, menit dan detik
  4. Lebar dasar (bottom width) pada kolom X
  5. Kemiringan sisi kiri dan kanan di titik headwater masing-masing di kolom Y dan Z

Selanjutnya dengan bantuan sketsa sungai yang telah dibuat sebelumnya (Gambar 1) isikan :

  1. Nama ruas (Reach Label) pada kolom A,
  2. Nama lokasi hilir dari ruas bersangkutan (Downstream end of reach label) pada kolom B
  3. Nomor urut ruas (Number) pada kolom C
  4. Jarak titik hilir ruas bersangkutan (Downstream location) dari titik paling hilir sungai (km 0) pada kolom G
  5. Elevasi titik hulu dan titik hilir dari ruas yang bersangkutan masing-masing di kolom H dan I
  6. Koordinat (latitude dan longitude) titik hilir dari ruas yang bersangkutan yang dinyatakan dalam derajat, menit dan detik (kolom J sampai dengan kolom O)
  7. Rata-rata lebar dasar sungai pada ruas bersangkutan (kolom X)
  8. Rata-rata kemiringan sisi kiri dan kanan sungai pada ruas bersangkutan (kolom Y dan Z)

D. Air Temperature

Pada sheet Air Temperature diisikan data suhu udara pada masing-masing ruas. Dengan bantuan sheet Reach, isikan :

  1. Nama titik hulu dari ruas bersangkutan (Upstream Label) pada kolom A
  2. Nama ruas bersangkutan (Reach label) pada kolom B
  3. Nama titik hilir dari ruas bersangkutan (Downstream label) pada kolom C
  4. Nomor urut ruas (Reach Number) pada kolom D
  5. Jarak titik hulu ruas bersangkutan (Upstream Distance) dari titik paling hilir sungai (km 0) pada kolom E
  6. Jarak titik hilir ruas bersangkutan (Downstream Distance) dari titik paling hilir sungai (km 0) pada kolom F
  7. Suhu udara (Hourly air temperature for each reach) pada setiap kolom jam. Jika hanya mempunyai 1 (satu) data maka data suhu udara cukup diisikan pada kolom 12:00 AM dan sisanya dikosongkan.

E. Dew Point Temperature

Cara pengisian sheet ini sama dengan sheet Temperature

F. Wind Speed

Cara pengisian sheet ini sama dengan sheet Temperature G. Cloud Cover Cara pengisian sheet ini sama dengan sheet Temperature H. Shade Cara pengisian sheet ini sama dengan sheet Temperature

I. Point Sources

Sheet ini digunakan untuk mengisikan data sumber-sumber pencemar yang saluran pembuangan limbahnya dapat diidentifikasi sebagai titik (koordinat atau jarak dari titik paling hilir sungai). Termasuk yang harus dimasukkan dalam sheet ini adalah aliran-aliran sungai yang masuk ke atau keluar dari sungai utama yang menjadi obyek studi. Selanjutnya isikan pada sheet ini :

  1. Nama sumber pencemar (Name) pada kolom A
  2. Lokasi setiap sumber pencemar (Location), yaitu jarak setiap sumber pencemar dari titik paling hilir sungai obyek studi (kolom B)
  3. Debit air limbah yang dibuang (Point Inflow) oleh setiap sumber pencemar (kolom D). Jika untuk setiap sumber pencemar dilakukan beberapa kali pengukuran debit, maka nilai yang diinput adalah nilai rata-rata
  4. Nilai parameter-parameter setiap sumber pencemar. Jika untuk setiap sumber pencemar dilakukan beberapa kali pemantauan, maka nilai yang diinput adalah nilai rata-rata.
Gambar 6. Pengisian Sheet Point Sources

Gambar 6. Pengisian Sheet Point Sources

J. Diffuse Source

Diffuse source adalah sumber pencemar non-point atau biasa dikenal dengan non-point source. Cara pengisian hampir sama dengan sheet Point Sources, hanya lokasi atau jarak yang diinput berupa rentang.

Gambar 7. Pengisian Sheet Diffuse Source

Gambar 7. Pengisian Sheet Diffuse Source

K. Hydraulics Data

Sheet ini digunakan untuk mengisi data debit sungai yang menjadi obyek penelitian. Dimulai dengan mengisikan jarak titik pengamatan debit terjauh dari titik paling hilir sungai (km 0) berurutan sampai dengan titik pengamatan debit terdekat dengan titik paling hilir sungai. Selanjutnya isikan data debit pada kolom B untuk setiap titik pengamatan. Jika pengamatan dilakukan berulang-ulang maka nilai yang diinput adalah nilai rata-rata

 Gambar 8. Pengisian Sheet Hydraulics Data

Gambar 8. Pengisian Sheet Hydraulics Data

L. Temperature Data

Pada sheet ini diisikan suhu air sungai pada setiap lokasi pemantauan selain headwater. Dimulai dengan mengisikan jarak titik pantau terjauh dari titik paling hilir sungai (km 0) berurutan sampai dengan titik pantau yang terdekat dengan titik paling hilir sungai (km 0). Selanjutnya isikan data temperatur setiap titik pantau pada kolom B. Jika pemantauan dilakukan berkali-kali maka nilai yang diinput adalah nilai rata-rata (kolom B), nilai minimum (kolom C), dan nilai maksimum (kolom D)

Gambar 9. Pengisian Sheet Temperature Data

Gambar 9. Pengisian Sheet Temperature Data

M. WQ Data

Pada sheet ini diisikan nilai parameter-parameter kualitas air pada setiap lokasi pemantauan selain headwater. Prinsip pengisian sama dengan yang dilakukan pada sheet Temperature Data. Perbedaannya adalah jika pemantauan dilakukan berulang-ulang maka nilai minimum dan maksimum masing-masing diisikan pada sheet WQ Data Min dan WQ Data Max.


Gambar 10. Pengisian Sheet WQ Data

Gambar 10. Pengisian Sheet WQ Data


III.2. Menjalankan Program

Setelah 13 sheet tersebut diisi, program QUAL2K dapat dieksekusi dengan menekan tombol [Run VBA]. Apabila tidak ada kesalahan dalam pengisian data maka akan muncul “jendela” (window) yang menyatakan eksekusi program telah selesai (lihat Gambar 10).

Gambar 11. Tampilan Setelah Eksekusi Program QUAL2K

Gambar 11. Tampilan Setelah Eksekusi Program QUAL2K

Selanjutnya tekan (klik) tombol [OK] dan pindahkan sheet ke CBOD slow atau sheet parameter lain yang diinginkan untuk melihat grafik hasil eksekusi.

Gambar 12. Tampilan Grafik Hasil Eksekusi Program QUAL2K

Gambar 12. Tampilan Grafik Hasil Eksekusi Program QUAL2K

Jika grafik hasil eksekusi program (garis berwarna merah) belum sesuai dengan grafik hasil pemantauan (kotak berwarna hitam), maka lakukan penyesuaian dengan menambah atau mengurangi beban pencemaran dari sheet Point Sources dan atau Diffuse Sources, kemudian program dieksekusi ulang. Penambahan atau pengurangan beban dilakukan dengan menambah atau mengurangi debit limbah atau nilai (konsentrasi) parameter-parameternya.

Setelah garis merah mendekati kotak hitam, buka file excell yang baru untuk menghitung total beban pencemaran. Salin (copy) berkas di sheet Point Source dan Diffuse Source ke satu sheet dalam file excell yang baru. Kemudian di dalam sheet baru tersebut hitunglah beban pencemaran dari masing-masing sumber untuk setiap parameter. Hasil penjumlahan beban pencemaran dari masing-masing sumber menunjukkan perkiraan total beban pencemaran yang masuk ke sungai untuk setiap parameter berdasarkan data pemantauan yang telah kita input sebelumnya di sheet WQ Data.


Written by airsungaikelassatu2020

November 17, 2008 at 10:20 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: