sungaibersih2020

Sungaiku Bersih Sungaiku Jernih

Gambaran Umum

leave a comment »

GAMBARAN UMUM DAS CILIWUNG BAGIAN HULU

Kondisi Fisik Wilayah Ciliwung Bagian Hulu

Penentuan batas Wilayah Ciliwung Bagian Hulu didasarkan pada bentang alam dan administrasi seperti dijelaskan pada uraian berikut:
Luas DAS Ciliwung Bagian Hulu
Luas DAS Ciliwung Bagian Hulu adalah 14.876 Ha terbagi kedalam 4 (empat) Sub DAS yaitu :
1. Sub DAS Ciesek seluas 2.452,78 Ha
2. Sub DAS Hulu Ciliwung seluas 4.593,03 Ha
3. Sub DAS Cibogo Cisarua seluas 4.110,34 Ha
4. Sub DAS Ciseuseupan Cisukabirus seluas 3.719,85 Ha

Lihat Peta (DAS Ciliwung Bagian Hulu)

Berdasarkan data tersebut, diketahui bahwa DAS Ciliwung Bagian Hulu mempunyai curah hujan rata-rata sebesar 2929 – 4956 mm/ tahun. Perbedaan bulan basah dan kering sangat menyolok yaitu 10,9 Bulan basah per tahun dan hanya 0,6 Bulan kering per tahun.
Tipe iklim DAS Ciliwung Bagian Hulu menurut sistem klasifikasi Smith dan Ferguson ( 1951) yang didasarkan pada besarnya curah hujan, yaitu Bulan Basah (> 200 mm ) dan Bulan Kering (< 100 mm ) adalah termasuk kedalam Type A.

Tanah dan Geologi

Jenis-jenis tanah yang ada di wilayah Sub DAS Ciliwung Bagian Hulu meliputi jenis komplek Aluvial Kelabu, Andosol Coklat dan Regosol Coklat, Andosol Coklat, Latosol Coklat, Latosol Coklat Kemerahan dan Latosol Coklat. Hal ini didasarkan atas Peta Tanah Tinjau untuk Kabupaten Bogor dan Kota Bogor skala 1 : 250.000 dari Pusat Penelitian Tanah Bogor. Dari jenis-jenis tanah diatas, jenis tanah yang tersebar luas di DAS Ciliwung Bagian Hulu adalah Latosol Coklat Kemerahan dan Latosol Coklat sebesar 32,89 % dari total luas areal DAS Ciliwung Bagian Hulu. Jenis tanah Latosol dan asosiasinya memiliki sifat tanah yang baik yaitu tekstur liat berdebu hingga lempung berliat, struktur granular dan remah, kedalaman efektif umumnya > 90 dan agak tahan terhadap erosi serta sifat kimia tanah pada dasarnya tergolong baik dengan PH tanah agak netral serta kandungan bahan organik biasanya rendah atau sedang.

DAS Ciliwung Bagian Hulu dibangun oleh formasi geologi vulkanik yaitu komplek utama Gunung Salak dan komplek Gunung Pangrango. Deskripsi Litologi Kawasan DAS Ciliwung Bagian Hulu adalah tufa glas lhitnik kristal, tufa fumice dan batu pasiran tufa, sedangkan kondisi fisiografi daerah kawasan DAS Ciliwung Bagian Hulu merupakan daerah pegunungan dan berbukit. Elevasi umumnya diatas 150 m dpl dan terdiri atas daerah lungur volkan tua dan muda. Bahan induk tanah yang terdapat di DAS Ciliwung Bagian Hulu adalah berupa tufa volkanik dan derivatifnya merupakan bahan dasar pembentuk tanah jenis tanah Latosol Coklat Kemerahan adalah jenis tanah yang dominan. Adanya pencampuran bahan vulkanik tua dan yang lebih muda memungkinkan terbentuknya jenis-jenis tanah lain yang berasosiasi dengan Latosol antara lain adalah tanah Andosol dan Regosol.

Geomorfologi

Berdasarkan keadaan geomorfologinya, DAS Ciliwung Bagian Hulu didominasi oleh dataran vulkanik tua dengan bentuk wilayah bergunung seluas 3767,76 Ha dan sebagian kecil merupakan alluvial sungai seluas 255,33 Ha.

Topografi dan Bentuk Wilayah

Berdasarkan bentuk topografinya, wilayah DAS Ciliwung Bagian Hulu bervariasi antara bentuk datar, landai, agak curam, curam sampai dengan sangat curam. Pembagian wilayah DAS Ciliwung Bagian Hulu berdasarkan topografi dan bentuk wilayah diklasifikasikan kedalam bentuk kelas lereng seperti dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Dengan melihat bahwa wilayah dengan kelerengan diatas 15 % dan 40 % (40,12%) sangat menyebar luas dan mendominasi wilayah DAS Ciliwung Bagian Hulu, maka kondisi tersebut mempunyai potensi erosi yang sangat besar sehingga dalam perlakuannya perlu memperhatikan kaidah-kaidah konservasi tanah, baik vegetatif maupn teknik sipil.

Penggunaan Lahan

Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dapat dijelaskan bahwa :
Penutupan lahan terbesar pada areal DAS Ciliwung Bagian Hulu adalah berupa hutan seluas 5.075,49 Ha atau sekitar 34,13 % dari keseluruhan luas wilayah DAS.
Bentuk penutupan lahan lainnya di wilayah DAS Ciliwung Bagian Hulu berdasarkan hasil penafsiran dan survai lapangan seperti pada tabel dibawah ini.

Pada wilayah hutan lindung, penyebaran vegetasinya tidak merata, sehingga terdapat daerah gundul yang perlu segera direhabilitasi. Sekitar 30 % kawasan Hutan di DAS Ciliwung Bagian Hulu merupakan Hutan Produksi yang didominasi oleh jenis Pinus. Yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat setempat. Selain hal tersebut dapat dijelaskan bahwa perubahan fungsi lahan yang terjadi terutama pada lahan budidaya pertanian dan budidaya non pertanian (berupa permukiman pedesaan) dengan hak kepemilikan perseorangan yang kemudian beralih fungsi menjadi lahan budidaya non pertanian berupa permukiman perkotaan atau lahan untuk pariwisata.

KEADAAN SOSIAL EKONOMI

Kependudukan

Kependudukan di wilayah DAS Ciliwung Bagian Hulu meliputi beberapa aspek penjabaran menyangkut jumlah, sex ratio, ukuran keluarga, kelas umur dan beban tanggungan kerja produktif, mata pencaharian.
Jumlah dan Perkembangan Penduduk

Secara keseluruhan jumlah penduduk di DAS Ciliwung Bagian Hulu adalah sebanyak 219.395 jiwa yang terdiri dari 110.688 jiwa laki-laki dan 108.702 jiwa perempuan dengan jumlah keluarga sebanyak 48.159 Kepala Keluarga. Berdasarkan kondisi jumlah laki-laki dan perempuan seperti itu, maka sex ratio yang terjadi adalah 1,02.

Berdasarkan kelas umur penduduk, jumlah penduduk terdiri atas kelas umur 0 – 15 tahun sebanyak 78.571 jiwa, kelas umur 16 – 55 tahun sebanyak 118.431 jiwa dan kelas umur Lansia (>56 tahun) adalah sebanyak 22.388 jiwa. Keadaan penduduk demikian menunjukkan bahwa jumlah penduduk tidak produktif lebih kecil sebanyak 100.959 jiwa dari penduduk produktif 118.431. Hal ini mengakibatkan beban tanggungan tenaga produktif yang cukup besar yaitu sebesar 85 %.

Keadaan Tenaga Kerja, Tekanan Penduduk & Laju Pertumbuhan Penduduk

Tingkat tenaga kerja di wilayah DAS Ciliwung Hulu adalah 1.369,06 jiwa/km2 untuk kepadatan geografis dan 43,54 jiwa/km2 untuk kepadatan agraris. Kepadatan tenaga kerja yang terbesar yaitu di Kota Bogor (Desa Katulampa, Sindangrasa, Sindangsari dan Tajur) yaitu sebesar 4.242,06 jiwa/km2 untuk kepadatan geografis dan 129,30 jiwa/km2 untuk kepadatan agraris. Luas kepemilikan lahan pertanian di wilayah DAS Ciliwung Bagian Hulu adalah seluas 5.039,221 ha dengan jumlah penduduk sekitar 219.395 jiwa.

Kondisi demikian telah mengakibatkan tekanan-tekanan penduduk terhadap kondisi alam sebesar 2,8. Pertumbuhan penduduk di wilayah DAS Ciliwung Bagian Hulu adalah sebesar 0,642.

Mata Pencaharian

Dengan jumlah penduduk 219.395 jiwa di seluruh wilayah DAS Ciliwung Bagian Hulu, berbagai macam mata pencaharian penduduk sangat beragam dan yang paling besar adalah mata pencaharian sebagai petani sejumlah 15.321 jiwa , buruh tani sejumlah 12.107 jiwa dan pedagang sejumlah 11.766 jiwa dan yang lainnya sebagai pedagang, Pegawai Negeri Sipil dan ABRI, Buruh Industri Kecil, sopir angkutan, peternak dan lain-lain. Hal tersebut menunjukkan bahwa ketergantungan penduduk akan sumber daya alam berupa tanah /lahan demikian besar dimana penghidupan penduduk didominasi oleh pemanfaatan sumber daya alam berupa pertanian. Agar dominasi mata pencaharian dibidang pertanian tidak mengganggu kelestarian alam dan agar produktifitas penduduk dan lahan tetap terjaga diperlukan adanya upaya-upaya rehabilitasi lahan dan konservasi tanah secara baik dan berkesinambungan.

Pendidikan

Pendidikan merupakan modal di dalam berkehidupan dan bermasyarakat. dengan pendidikan dan pengetahuan yang dimiliki oleh anggota masyarakat suatu daerah akan kelihatan tumbuh dan berkembang melalui pembangunan di berbagai sektor. Pendidikan dan pengetahuan dapat dimiliki baik secara formal dan non formal dan untuk itu diperlukan srana pendidikan.

Keadaan sarana pendidikan di wilayah DAS Ciliwung Bagian Hulu pada umumnya terdiri dari pendidikan TK/RA 20 buah, SD 91 buah, SMP/MTS 15 buah. SMA/Aliyah 5 buah , Pesantren 93 Buah dan Madrasah 60 buah dan Perguruan Tinggi 2 buah. Berdasarkan jumlah penduduk yang ada , jumlah penduduk dengan tingkat pendidikan formal 129.116 jiwa atau 58,85 % dari jumlah seluruh penduduk sedangkan non formal sebanyak 17.609 jiwa atau sebesar 8 %.

Peta Tata Guna Tanah

GAMBARAN UMUM DAS CILIWUNG BAGIAN TENGAH

Wilayah DAS Ciliwung Bagian Tengah meliputi :

Kota Depok

Sebagian Kota Bogor

Sebagian Kab. Bogor

Lihat Peta (DAS Ciliwung Bagian Tengah)

I. Kondisi Fisik Wilayah DAS Ciliwung Bagian TengahA. Klimatologi

Kabupaten Bogor bagian Utara dan Kota Depok yang berbatasan dengan DKI Jakarta berada pada zona yang mempunyai curah hujan < 2.500 mm/tahun.

Wilayah Bogor bagian Utara ini memiliki curah hujan rata-rata 197,3 mm/bulan, dengan curah hujan maksimum 449,0 pada bulan Nopember dan curah hujan minimum 32,0 pada aaabulan Juli . Selain hal tersebut juga dapat dijelaskan bahwa Kota Bogor merupakan dataran tinggi dengan suhu udara rata-rata setiap bulannya adalah 26 C dengan kelembaban udara + 70 % dan suhu udara terndah adalah 21 C serta suhu udara tertinggi 30 C. Banyaknya curah hujan setiap tahunnya rata-rata 3.500 mm sampai 4.000 mm dan curah hujan terbesar adalah pada bulan April.

Wilayah Depok termasuk daerah beriklim tropis yang dipengaruhi oleh iklim Munson. Musim kemarau berada antara bulan April s/d September dan musim hujan antara bulan Oktober s/d Maret. Kondisi iklim di daerah Depok relatif sama, yang ditandai oleh perbedaan curah hujan yang cukup kecil. Berdasarkan data pemeriksaan hujan tahun 1998 di Stasiun Depok, Pancoran Mas, banyaknya curah hujan antara 1 – 591 mm, dan banyaknya hari hujan antara 10 s/d 23 hari , yang terjadi pada bulan Oktober dan Desember . Curah hujan rata-rata sekitar 327 mm.

Berdasarkan data Klimatologi Kabupaten Bogor Stasiun Klimatologi Klas I Darmaga, Stasiun Pemeriksaan Pondok Betung , Tahun 1998, keadaan klimatologi Kota Depok diuraikan sebagai berikut :

Temperatur rata-rata : 24,3 C – 33 C

Kelembaban udara rata-rata : 82 %

Penguapan rata-rata : 3,9 mm/th.

Kecepatan angin rata-rata : 3,3 knot

Penyinaran matahari rata-rata : 49,8 %

Berdasarkan data dari Dinas Pertanian dan BPS Kab. Bogor curah hujan antara tahun 1991 s/d tahun 2000 diketahui rata-rata curah hujan selama setahun sebesar 3.201,8 mm dengan jumlah hari hujan 149,5 hari. Bulan basah terjadi pada bulan Januari sebesar 347,2 mm dan Nopember sebesar 367,15 mm lama hari hujan 15,85 hari, sedangkan bulan kering terjadi pada bulan Juni s/d September.

Arah mata angin banyak dipengaruhi oleh angin Muson Timur pada bulan Mei sampai bulan Oktober, sedangkan bulan Nopember sampai dengan April dipengaruhi oleh angin Muson Barat.

B. Topografi


Kemiringan lereng Kabupaten Bogor bagian Utara mulai dari dari 0 – 3 % dan merupakan dataran rendah dengan ketinggian dari permukaan laut antara 15 – 100 m, sedangkan untuk Kota Bogor merupakan wilayah yang bergelombang dengan perbedaan ketinggian cukup besar. Ketinggian kurang dari 200 m dari permukaan laut meliputi 2 % dari laus wilayah, ketinggian 200 – 260 m dari permukaan laut meliputi 72 % dari luas wilayah dan ketinggian 260 – 300 m dari permukaan laut meliputi 21 % serta ketinggian diatas 300 m meliputi 5 % dari luas wilayah Kota Bogor. Kemiringan lereng Kota Bogor antara 3– 5 %.

Untuk Kota Depok secara topografi dikatagorikan datar dan dengan ketinggian berkisar antara + 70 m – 90 m dari permukaan laut. Keadaan topografinya sangat menguntungkan bagi pembangunan kota karena adanya sungai-sungai yang mengalir ke arah Utara kota, sehingga Kota Depok dapat terhindar dari bahaya banjir. Kota Depok berada pada kemiringan lereng antara 0 – 15 %.

C. Geomorfologi

Secara umum sebagian besar wilayah Kabupaten Bogor dan Kota Bogor berada pada geomorfologi satuan daerah pedataran kipas alluvial. Satuan ini terutama dibentuk oleh lempung tufcan, pasir dan kerikil. Aliran sungainya berpola sejajar dengan lembah sungai utama. Sedangkan wilayah Kota Depok berada pada satuan pedataran alluvium sungai. Daerah ini merupakan ujung dan bagian tengah dari kipas alluvial Bogor yang terbentuk dari produk gunung api dengan relief permukaan sedang dan halus. Pola pengaliran sungai menunjukkan pola “meander”. Satuan ini terbentang dari barat ke timur dan terletak pada elevasi kurang dari 100 m di atas permukaan laut dan relatif datar, namun kemiringan lereng pada lembah sungai lebih terjal. Sungai-sungai yang mengalir “berpola dendrtik” dengan lembah sungai berbentuk huruf “U”. Batuan penyusunnya terdiri dari endapan sedimen berupa Tufa Greksi, lempung lanauan dan batu pasir tufcan.

D. Hidrogeologi

Berdasarkan Peta Hidrogeologi Indonesia Skala 1 : 250.000, oleh Direktorat.Geologi dan Tata Lingkungan 1986, wilayah Sungai Ciliwung Bagian Tengah berada pada Kelompok terdapatnya Air Tanah dan Produktivitas Akuifier. Menurut potongan melintang dapat diketahui bahwa :

Pada kedalaman 0 – 250 m, akuifer dengan aliran melalui antar butir, merupakan akuifer dengan produktivitassedang dan sebarannya luas. Debit air tanah < 5 ltr/detik.

Pada kedalaman > 250 m, akuifer ( bercelah atau bersarang ) produktif kecil, daerah air tanah langka dan merupakan akuifer dengan produktivitas kecil serta setempat. Debit air tanah < 1 Ltr/ detik.

E. Penggunaan Tanah

Jika dilihat dari sebaran penggunaan lahan yang ada di Kota Depok dapat dikenali kawasan perumahan terkonsentrasi di bagian Utara yang berdekatan dengan Jakarta yaitu Kecamatan Limo, Beji dan Sukmajaya.

Kemudian dibagian Tengah diapit oleh jalan Margonda Raya, Sungai Ciliwung dan Jalan Tole Iskandar. Untuk penggunaan pertanian tersebar di Kecamatan Sawangan, Pancoran Mas bagian Selatan dan sebagian Kecamatan Cimanggis.

Penggunaan lahan yang cenderung intensif seperti industri yang tersebar dijalan Raya Bogor (Kec. Cimanggis), perdagangan dan jasa, pendidikan dan perkantoran, yang tersebar di sepanjang jalan Raya Margonda dan jalan Akses UI. Berdasarkan sumber data dari Kantor Badan Pertanahan Nasional Kota Depok, penggunaan lahan di Kota Depok yang termasuk dalam DAS Ciliwung Bagian Tengah .

Peta Tata Guna Tanah

II. Kondisi Sosial Ekonomi

A. Kependudukan

Jumlah , Kepadatan dan Pertumbuhan Penduduk

Berdasarkan data dari Biro Pusat Statistik (BPS) , jumlah penduduk Kota Depok pada Tahun 1998 sebesar 903.934 jiwa . Jumlah ini meningkat cukup pesat bila dibandingkan dengan jumlah penduduk tahun 1994 sebesar 812.003 jiwa. Dengan demikian laju pertumbuhan penduduk Kota Depok sebesar 2,73 % pada rentang waktu 1994 hingga 1998. Laju pertumbuhan penduduk Kota Depok lebih tinggi daripada laju pertumbuhan penduduk Jawa Barat sebesar 1,99 %. Hal ini dipengaruhi oleh semakin banyaknya masyarakat yang bekerja di Jakarta dan memilih tinggal di Kota Depok akibat adanya pusat-pusat pendidikan seperti Universitas Indonesia dan Universitas Gunadarma

Sebaran Banjir dan Genangan

Dalam konteks hulu – hilir (upstream – down stream) wilayah Kota Depok termasuk pada katagori wilayah tengah (middle stream). Dalam kaitannya dengan banjir, wilayah tengah ini hanya menjadi wilayah yang dilewati sebelum air sampai di daerah hilir Jakarta dan sekitarnya). Namun demikian karena karakteristik fisik lahan maupun akibat penggunaan lahan di Kota Depok terdapat dibeberapa kawasan yang menjadi kawasan rawan genangan (banjir setempat). Penyebab lain banjir ini adalah karena tingginya curah hujan, kurangnya kemampuan saluran air untuk mengalirkan air, penyempitan saluran, lokasi genangan berelevasi rendah serta adanya hambatan pada badan sungai

Sumber: http://www.pu.go.id/ditjen_ruang/WebSite%20Ciliwung/Ciliwung_Hulu.htm

DAS CILIWUNG BAGIAN HILIR

350 Ribu Jiwa Tinggal di Pinggir Sungai Ciliwung

Didit Tri Kertapati – detikNews

Jakarta – Salah satu permasalahan banjir di Jakarta adalah banyaknya penduduk yang bermukim di pinggir sungai. Di tepi sungai Ciliwung, tepatnya antara Kalibata – Manggarai, saja ada 350 ribu jiwa yang tinggal di lokasi tersebut.

“Di kawasan sepanjang pinggiran sungai Kalibata – Manggarai, ada 350 jiwa tinggal di sungai,” kata Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane, Subandrio, di kantornya, Jl Inspeksi Saluran, Kalimalang, Jakarta Timur, Selasa (28/10/2008).

Menurutnya, penduduk Jakarta yang mayoritas miskin itu mulai bermukim di pinggiran Ciliwung sejak tahun 1980-an. Mereka membangun rumah-rumah bertingkat ke bawah, sehingga mendekati air sungai.

“Kalau seandainya mereka tidak tinggal di sana, dan kami tidak berbuat apa-apa, debit air bisa mencapai 40 persen. Seperti kondisi Jakarta tahun 1980-an, di mana sungai-sungai masih jernih,” pungkas Subandrio.(irw/rdf)

Sumber: http://www.detiknews.com/read/2008/10/28/132151/1027166/10/350-ribu-jiwa-tinggal-di-pinggir-sungai-ciliwung

Written by airsungaikelassatu2020

November 17, 2008 at 9:21 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: