sungaibersih2020

Sungaiku Bersih Sungaiku Jernih

Artikel tentang Ciliwung

leave a comment »

JANUARI 2007

Hidup di Bantaran Sungai (1): Warga Terpaksa Memakai Air Sungai

26 Januari 2007,  Oleh M Puteri Rosalina dan Elok Dyah Messwati

“Warga di sini terpaksa mencuci baju dan piring di sungai karena  air ledeng tidak mengalir. Ini juga terpaksa karena kalau beli air  terus-terusan ongkosnya besar. Kami beli air untuk minum saja,” kata
Ny Idoh (50), warga Manggarai Utara II, RT 12 RW 04, Kelurahan  Manggarai, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan.

Ketika sebagian warga Jakarta telah mengecap berbagai kemewahan  kehidupan sebagai warga metropolitan, ternyata masih ada warga yang  untuk mengakses air bersih pun mengalami banyak kesulitan. Salah  satunya adalah mereka yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung di  Manggarai Utara II, Jakarta Selatan, yang masih mencuci peralatan  dapur dan peralatan makan di sungai tersebut.

Mencuci baju di sungai sebenarnya telah menjadi hal yang umum di  negeri ini, terutama di pedesaan. Akan tetapi, meski di banyak tempat  air sungai sudah tercemar, atau ketika hujan deras air yang mengalir
sebagian bercampur lumpur akibat erosi di bagian hulu, situasinya  akan jadi lain ketika kasusnya terjadi di aliran sungai di Ibu Kota.  Untuk mencuci peralatan dapur dan peralatan makan (gelas, piring,  sendok-garpu) di sungai tentu faktor higienitas harus dipertimbangkan.

Pasalnya, Sungai Ciliwung yang menjadi “pantat” ribuan rumah  tangga di Jakarta ini justru dijadikan tempat untuk buang air besar  dan mandi. Jadi, bisa dibayangkan betapa berbahaya mencuci peralatan
dapur dan peralatan makan di sungai yang sudah terkontaminasi ini.

Kenyataan ini bukan tidak disadari oleh warga yang tinggal di  bantaran Sungai Ciliwung. Namun, bagi warga miskin perkotaan,  tindakan tadi terpaksa dilakukan karena mahalnya harga air bersih.

Kenyataan sungai yang kotor, hitam, dangkal, dan penuh sampah  memang memprihatinkan. Pemerintah pun memang berupaya untuk  mengeruknya, namun tetap saja berton-ton sampah menyumbat aliran
sungai. Dari jembatan di Jalan Tambak (dari arah Terminal Manggarai),  misalnya, bisa dengan gampang dilihat sampah-sampah yang menyumbat  pintu air.

Bahkan, di pinggir sungai di belakang rumah-rumah warga Manggarai  Utara II, sampah pun mengotori sungai. Bukan pemandangan asing bila  melintas di sama kita semelihat warga yang melempar kantong plastik  penuh sampah ke sungai. Artinya, upaya menumbuhkan kesadaran pada  warga menjaga kebersihan sungai masih harus terus dibangun.

Kondisi permukiman warga di Manggarai Utara II sangat jauh dari  ideal. Mereka hidup di rumah-rumah petak sempit (adayang membeli, ada  yang mengontrak rumah). Untuk masuk ke areal itu, kita harus melalui  gang-gang kecil yang pengap.

Ny Idoh telah tinggal di kawasan ini sejak umur 3 tahun. Menurut  Ny Idoh, karena rumah-rumah di Manggarai Utara II umumnya berdiri di  atas lahan terbatas, maka mereka tidak memiliki kakus (WC) sendiri, sebab tak ada lahan untuk membangun septi tank.

Untuk buang air, warga memanfaatkan kakus atau jamban umum dari  kayu yang “nangkring” di bantaran sungai. Bahkan, untuk mandi pun  masih ada saja warga yang ke sungai.

“Tapi kalau minum kami membeli air karena air ledeng di rumah  sering tidak mengalir,” kata Ny Idoh.

Di luar negeri, sungai bisa dijadikan bagian dari wisata, dengan  kapal-kapal kecil membawa puluhan turis asing berkeliling kota,  seperti di Roma, Paris, dan Amsterdam. Di Jakarta? Sungai justru  dijadikan jamban raksasa oleh jutaan penduduknya. Tidak hanya urusan  kakus, bermacam kotoran rumah tangga pun dibuang ke sungai.

Mampet dan bau

Jika Sungai Ciliwung masih bisa digunakan untuk cuci baju dan peralatan dapur, Kali Sindang dan Kali Lagoa Kanal di Kelurahan Koja,  Kecamatan Koja, Jakarta Utara, justru sudah tidak bisa digunakan  untuk keperluan serupa. Aliran sungainya mampet, airnya hitam, kotor,  dan berbau.

“Sungainya dangkal, airnya hitam. Sampah di mana-mana, soalnya  warga masih ada yang membuang sampah di sungai,” keluh Ny Maria,  warga Jalan Deli Lorong 26, RT 04, RW 08, Kelurahan Koja. Rumah Maria  sangat dekat dengan Kali Lagoa Kanal, sehingga keluarga Mariapun mau  tidak mau menghirup bau busuk yang dikirim dari sungai yang mampat  tersebut.

Lebih memprihatinkan, Kali Lagoa Kanal yang lebar sekitar 25  meter kini tinggal 8-10 meter. Belum lagi di kiri-kanan dan tengah sungai terbangun “pulau-pulau” sampah.

“Ukuran sungai jadi kecil karena warga terus menguruk sungai  dengan tanah dan dibangun rumah-rumah petak,” jelas Ny Mariam, Ketua  RT 08, RW 08, Kelurahan Koja, yang tinggal di Jalan Deli, Lorong 28.

Fakta lainnya, banyak juga rumah tangga yang tidak mempunyai  jamban. Ada kakus umum, namun warga harus membayar jika mau  memanfaatkannya. Tetapi, ternyata ada juga kakus umum di pinggir Kali  Lagoa Kanal, yang pembuangannya “dilarikan” ke sungai.

“Ya, memang ada MCK umum yang pembuangannya langsung ke sungai,”  kata Darsita, Ketua RT 12 RW 08 Kelurahan Koja. Darsita pun  bercerita, ketika Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso datang melihat  kondisi Lagoa Kanal, memang ada upaya pembersihan sampah di sungai.  Tapi, setelah kedatangan Sutiyoso, sungai pun kembali dipenuhi  sampah.

Kalau sudah begini, bahaya banjir akan mengancam dan tidak  terelakkan, kecuali harus cepat dibenahi. Apalagi tahun 2007 sudah  memasuki masa lima tahunan banjir kiriman, terutama di kawasan  Manggarai, Kampung Melayu, dan sekitarnya harus diwaspadai.

Perbuatan manusia

Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar pada seminar “Perempuan di Bantaran Sungai Ciliwung” medio Desember 2006  menyatakan, masalah pokok lingkungan hidup pada dasarnya adalah
masalah yang dihadapi manusia sendiri. Timbulnya kerusakan lingkungan  hidup merupakan akibat perbuatan manusia. Tanpa perubahan sikap dan  perilaku, maka lingkungan hidup akan semakin rusak dan akan mengancam  kelangsungan hidup manusia.

Perubahan sikap dan perilaku bersumber dari perubahan cara  berpikir manusia terhadap lingkungan hidup. Perubahan sikap dan perilaku tersebut hanya dapat dilakukan apabila diterapkan pada  kebiasaan sehari-hari. Hal tersebut dapat dimulai dari hal-hal yang  tidak terlalu rumit, mudah dilakukan dan bersifat aksi nyata.

Oleh karena itu, perempuan sebagai kelompok yang paling dirugikan  karena kotornya air sungai (karena perempuanlah yang sehari-hari  banyak beraktivitas di sungai, seperti mencuci baju dan piring) harus
ditoleh. Untuk itu, perlu ada semacam upaya pendamping terhadap kelompok perempuan ini.

“Kelompok perempuan sebetulnya merupakan sumber dayamanusia yang  memiliki kemampuan dan sangat efektif bagi pengembangan upaya  pelestarian lingkungan hidup,” papar Rachmat Witoelar.

Kini, para ibu di kawasan Koja, Manggarai, Bendungan Hilir, dan  Petamburan di Jakarta Pusat telah mulai bergerak untuk menjaga  kebersihan sungai dan lingkungan mereka. Terlebih ancaman banjir yang  kian dekat, membuat mereka makin serius mengatasi persoalan sungai,  tempat mereka hidup di bantarannya….

Hidup di Bantaran Sungai (2): Perempuan-Perempuan Itu Penggerak Perubahan

26 Januari 26 2007; Oleh M Puteri Rosalina dan Elok Dyah Messwati

Bisakah Anda bayangkan ada orang mencuci piring dan gelas dengan  menggunakan air sungai yang begitu kotor? Tak usah heran bila kejadian itu telah menjadi semacam rutinitas yang dilakoni warga yang
tinggal di salah satu sudut Ibu Kota. Mau melihat sendiri? Sesekali  turun ke bantaran Sungai Ciliwung yang membelah kota Jakarta.

Untuk menyiasati pekatnya air sungai, seorang ibu yang tinggal di  kawasan Jatinegara, Jakarta Timur, bahkan mencoba mencampurkan cairan kimia pemutih baju ke air sungai yang ditimbanya untuk mencuci
piring. Sang ibu, tentu saja tidak sadar akan bahaya lain yang  mengancam. Sebab, mencampur air sungai yang kotor dengan cairan kimia pemutih baju jelas tindakan yang membahayakan kesehatan.

Lalu, mengapa tidak menggunakan air bersih? Justru di sana pokok  masalahnya. Bagi warga yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung, pertanyaan semacam ini boleh jadi justru terdengar naif. Air bersih  harus dibeli. Selain berarti menambah pengeluaran sehari-hari dari pendapatan yang begitu terbatas, bagi mereka, air bersih sudah seperti identik dengan kemewahan. Kalau setiap kali mencuci piring  dan peralatan dapur harus membeli air bersih, jelas mereka tak mampu.

Oleh karena itu, memberi pengetahuan dan pemahaman kepada  perempuan di bantaran sungai sangat penting untuk dilakukan. Bagaimanapun, perempuan dan anak-anaklah yang menjadi korban utama
akibat kotornya sungai-sungai kita. Setiap hari merekalah yang sangat  dekat dengan kehidupan sungai. Kaum perempuan itu pula yang lebih banyak bersentuhan dengan sungai kotor itu, lewat aktivitas sehari-
hari, seperti mencuci baju dan atau peralatan dapur/makan.

Pada seminar “Perempuan di Bantaran Sungai Ciliwung” medio  Desember 2006, salah seorang peserta, Ny Pini-warga Pasar Pintu Air, RT 05 RW 11, Kelurahan Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta
Pusat-mengeluhkan sampah pasar yang menumpuk di depan rumahnya. Letak sampah yang berada di pinggir sungai sangat rawan jatuh ke sungai. Belum lagi penumpang kereta yang kerap melempar sampah keluar jendela dan jatuh ke sungai.

“Kami minta dibuatkan bak sampah yang besar karena sampah tidak  setiap hari diangkut,” kata Ny Pini. Jika sampah menumpuk, bau tidak sedap pun akan segera tercium. “Untung saja sampah ikan tidak
dibuang di depan rumah saya. Kalau ikut dibuang di situ, wah pasti  banyak lalat,” tambahnya.

Situasi sama juga dirasakan Ny Mariam, yang tinggal di dekat Kali  Lagoa Kanal dan Kali Sindang di Kelurahan Koja, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Karena sampah dari Pasar Sindang menumpuk, tidak
jarang belatung pun ada di mana-mana.

Hal semacam ini tentu tidak nyaman dan mengganggu kesehatan  warga, terutama kesehatan anak-anak. Belum lagi bau busuk “pulau-pulau” sampah yang membuat Kali Lagoa Kanal mampet.

Ketidakadilan jender

Hasil temuan program lingkungan berperspektif jender kerja sama Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Quadrant Utama dengan Pusat Studi Kajian Wanita, Universitas Indonesia, menyebutkan bahwa masalah
pencemaran sungai diperparah oleh terjadinya ketidakadilan jender  dalam masyarakat. Di satu sisi perempuan memiliki potensi positif terhadap pemeliharaan lingkungan dan sungai, tetapi di sisi lain
kehidupan mereka masih dinomorduakan oleh masyarakat.

Kemampuan perempuan sering diabaikan oleh masyarakat, padahal  perempuan memiliki kualitas sumber daya manusia yang sebetulnya efektif bagi pengembangan kehidupan masyarakat dan lingkungan.
Bukankah kelompok perempuan yang hidup di areal bantaran sungai  merupakan kelompok masyarakat yang paling dekat dengan sungai, lantaran rutinitasnya di dalam menjalankan dan mempertahankan
kehidupan rumah tangga?

Kualitas kehidupan para perempuan-yang tinggal bantaran sungai- yang rendah, menempatkan mereka secara mayoritas pada kehidupan marjinal. Ketidakadilan jender itu tidak hanya mengancam keselamatan
kelompok perempuan yang hidup di bantaran sungai, tetapi juga  engancam keselamatan lingkungan dan sungai.

Beban kehidupan kelompok perempuan di bantaran sungai yang begitu  berat, baik secara sosial ekonomis maupun psikologis, justru membangkitkan kekuatan para perempuan ini dalam menghadapi persoalan
mereka secara realistis. Perempuan diyakini mampu bertindakstrategis  secara ekonomis, mampu menjalankan peran yang bertumpuk-baik domestik/reproduktif, maupun produktif- meskipun dengan peran bertumpuk itu sangat berisiko bagi keselamatan dan kesehatan mereka.

Sudah enam bulan ini Quadrant Utama mendampingi perempuan di  bantaran sungai di wilayah Jakarta. Mereka mengadvokasi, melakukan pendampingan, dan memberi penyuluhan mengenai bagaimana menjaga kebersihan sungai. Sejak didampingi, kini sudah tidak ada lagi ibu-ibu yang mencuci piring dengan air sungai yang dicampur dengan cairan kimia pemutih baju. Setidaknya mereka kian sadar akan bahayanya.

“Getok tular”

Menurut Ny Mariam, Ketua RT 08 RW 08, Kelurahan Koja, Kecamatan  Koja, Jakarta Utara, dari 300 perempuan yang ada di dua RW di sana terbentuklah kelompok inti yang terdiri atas 100 perempuan. 100
perempuan di wilayah Koja inilah yang secara intensif mendapatkan  pendidikan, pengetahuan, dan makin luas pemahamannya tentang pentingnya fungsi sungai.

Karena tidak semua perempuan teradvokasi, para perempuan di  kelompok inti melakukan upaya penyebaran informasi kepada rekan dan tetangga-tetangganya dengan cara “getok tular”. Mereka, misalnya, memberi masukan kepada ibu-ibu lain agar sebaiknya tidak membuang  sampah dan buang air besar di sungai supaya sungai tidak mampet dan bau busuk.

“Tapi ada saja tetangga yang berkomentar negatif saat diberi  saran. Seperti mengucapkan kata-kata ‘belagu loe’…. Begitulah, mereka belum sepenuhnya sadar,” kata Ny Mariam.

Mereka pun diajak untuk membersihkan lingkungan masing-masing,  membuang sampah di tempat sampah yang mereka buat bersama, mengajak anak-anak untuk tidak sembarangan membuang sampah.

Hal yang sama juga dilakukan di Kebon Melati, Pintu Air, di   Kelurahan Petamburan, di Manggarai, Jatinegara, dan Kampung Melayu. Bahkan, di Pasar Pintu Air, Kelurahan Petamburan, Kecamatan Tanah
Abang, meskipun rumah-rumah yang ada adalah rumah-rumah petak, kini  mereka telah memiliki kaleng bak sampah di depan pintu rumah masing-masing.

“Anak-anak di sini pun kami larang untuk berenang di sungai  karena berbahaya,” kata Ny Pini tentang meningkatnya kesadaran para perempuan di bantaran sungai di sana.

Apalagi menjelang banjir tahunan, mereka harus lebih waspada dan  tidak lagi membuang sampah seenaknya. “Kami juga melakukan lomba kebersihan di sini,” tutur Ny Pini. Mereka yang tinggal di bantaran sungai tak mau mengulang duka saat kebanjiran, saat perabot rumah  tangga mereka-seperti kursi, kasur, televisi, dan piring-terendam air dan rusak.

“Kalau sudah begitu, mau tidak mau kami terpaksa mengungsi di  pelataran rumah susun sampai air surut kembali. Jadi, kami tidak mau kebanjiran lagi,” papar Ny Pini, dan diamini para perempuan tetangganya.

Kesadaran perempuan dan upaya memberdayakan perempuan yang hidup  di bantaran sungai harus terus-menerus dibangun agar suatu saat kita bisa benar-benar mendapatkan sungai yang bersih.

Dimuat di Kompas, 17 Januari 2007

Hidup di Bantaran Sungai (3) – Jakarta Tak Lagi Pedulikan Ekosistem

Kompas – 18 Januari 2007

Ketika langit sore berselaput awan tipis, Arif (22) tergugah ingin kembali pada hobi lamanya yang sempat tertahan beberapa bulan, yakni memancing ikan. Tetapi, alangkah terkejut dia saat berada di lokasi kesukaannya yang baru saja selesai terkena proyek banjir kanal barat Ciliwung. Ikan-ikan di sana menghilang.

Di sini ada saluran air dari permukiman yang masuk ke sungai. Biasanya banyak ikan, tetapi kok sekarang tak ada sama sekali,” kata Arif pada satu senja di pengujung 2006.

Lokasi yang dipilih Arif adalah kolong jembatan Menteng Tenggulun, tak jauh dari Pasar Rumput, Manggarai, Jakarta Selatan. Di bawah jembatan itu tampak air mengalir dari sebuah saluran menuju permukaan air banjir kanal. Tidak hanya dia, beberapa warga lainnya ternyata juga menyukai tempat itu untuk memancing di sore hari. Menurut Arif, biasanya gemercik air disukai ikan-ikan. Tanpa disadarinya, pembetonan pinggir banjir kanal mengubah keadaan. Ikan tak lagi ada.

Arif boleh sempat tertegun. Akan tetapi, bagi Muhammad Fakhrudin—ahli ekohidrologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)—kenyataan yang ditemukan Arif adalah sebuah keniscayaan. Pembetonan pinggir banjir kanal barat Ciliwung dengan semen memang akan mengubah sebuah habitat alami. Ikan-ikan membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri, atau sama sekali tidak bisa bertahan di situ lagi. “Pembetonan pinggir banjir kanal juga membuat berjuta-juta mikroorganisme pinggir sungai mati,” kata Fakhrudin.

Hilangnya ikan-ikan yang biasa “berkeliaran” di sana merupakan dampak langsung dari pembetonan pinggir banjir kanal barat Ciliwung di antara Karet-Manggarai, yang selesai sebagian pada akhir 2006. “Pembetonan seperti itu memang tidak ramah lingkungan,” ujar Fakhrudin.

Seandainya bertujuan mengurangi pengikisan, akan lebih baik jika digunakan batu-batu alam yang disusun tanpa semen dan mengikuti alur pinggir kali. Tetapi, masalahnya, justru itu jarang dilakukan.

Keberadaan banjir kanal di Jakarta kini tengah diupayakan penambahannya ke arah timur, yang disebut sebagai banjir kanal timur. Jalurnya bermula dari Manggarai menuju Jatinegara dan akan bermuara di Marunda, Jakarta Utara. Keberadaannya untuk mengendalikan banjir di Jakarta. Ketika musim hujan dengan curah hujan dan intensitas tinggi, debit air yang melimpah dari 13 sungai yang ada di Jakarta dapat dialirkan ke banjir kanal. Limpasan air kemudian dapat dibuang langsung ke laut.

Selagi proyek banjir kanal belum tuntas, Jakarta pun terus terteror banjir setiap menjelang musim hujan setiap tahun. Boleh jadi, akibat teror yang terus menghantui itulah membuat pemerintah tak lagi memedulikan kelangsungan sebuah ekosistem.

The Houw Liong, dosen geofisika dan meteorologi pada Departemen Fisika, Institut Teknologi Bandung (ITB), menyebutkan bahwa banjir kanal di Jakarta hanya bertujuan jangka pendek, bukan secara jangka panjang menjamin kelangsungan hidup di Jakarta. Hal itu dikatakannya dalam sebuah diskusi mengenai prediksi banjir di daerah aliran Sungai Ciliwung dan sekitarnya, Rabu (17/1), di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

“Dengan adanya banjir kanal, permukaan tanah Jakarta makin turun. Ketersediaan air tawar di musim kemarau juga akan kian menyusut,” kata Houw Liong.

Permukaan tanah Jakarta makin turun dipengaruhi eksploitasi massa air tanah ke permukaan, sedangkan ketersediaan air tawar berkurang karena pada saat turun hujan, air yang tawar itu tidak bisa tertahan selama mungkin di daratan. Teror banjir air sungai mungkin tidak lagi. Akan tetapi, tambah The Houw Liong, rob atau genangan laut pasang dan krisis air tawar akan menjadi teror baru di Jakarta kemudian hari.

Tidak peduli

Pemerintah kini tidak lagi peduli terhadap kelangsungan sebuah ekosistem sungai. Bagaimana pula dengan warganya? Pengalaman mengamati perilaku warga di sekitar kolong jembatan Tanjung Barat, Jakarta Selatan, justru menambah keprihatinan. Sungguh!

Hampir tiap lima menit, meluncur “bom” plastik berisi sampah dari atas jembatan Sungai Ciliwung itu. Entah oleh pejalan kaki, pengendara mobil atau sepeda motor, sampah itu dilemparkan dan menghujam ke permukaan Sungai Ciliwung. Ketika terbentur dengan permukaan air, suaranya cukup mengejutkan. Kemudian sampah itu hanyut mengikuti arus sungai.

Kenyataan itu menunjukkan perlakuan terhadap Ciliwung tidak lagi ramah. Ciliwung dijadikan tempat sampah. Seolah Ciliwung mampu menelan dan melenyapkan sampah.

Tak cuma di situ. Ketika Kompas menyusuri Ciliwung dengan perahu karet bermesin hingga ke pintu air Manggarai, lagi-lagi sampah yang menjadi perkara. Terhitung rata-rata lima menit sekali, baling-baling mesin harus dihentikan dan diangkat dari kedalaman air. Baling-baling itu tak bisa bergerak karena terlilit sampah plastik. Dan itu berulang di sepanjang perjalanan.

Tidak cuma di air, di bantaran Ciliwung pun “gunung-gunung” sampah menumpuk. Setiap waktu lereng-lereng sampah itu mudah longsor dan sampah masuk sungai, kemudian terseret arus.

Di Ciliwung, kelestarian ikan juga terancam. Penangkapan ikan berjalan masif, tetapi jarang diiringi penebaran benih. Kini, kawasan sungai penuh sampah itu kebanyakan hanya terdapat ikan sapu-sapu. Boleh jadi karena ikan sapu-sapulah yang dikenal sebagai ikan paling adaptif dengan kondisi polutan tinggi, dan menjadi ikan tangkapan paling dominan saat ini. Padahal, di tempat lain, ikan sapu-sapu yang tertangkap justru kerap dibuang kembali ke sungai lantaran bernilai ekonomi rendah.

Pemanfaatan sempadan sungai untuk permukiman, hingga setengah perjalanan dari Tanjung Barat ke Manggarai memang masih tergolong jarang. Vegetasi tanaman pun tergolong banyak. Bahkan, satwa seperti biawak masih dapat dijumpai di pinggir sungai.

Permukiman ilegal dengan memanfaatkan sempadan Ciliwung makin kentara ketika meninggalkan kawasan Condet. Permukiman di pinggir Ciliwung kian bermunculan terutama mulai di wilayah Bale Kambang, Kalibata, Cawang, Kampung Melayu, dan Manggarai.

Peruntukan rumah itu sebagian besar untuk hunian. Akan tetapi, ada pula yang digunakan untuk kegiatan industri skala rumah tangga, seperti pabrik tahu atau furnitur, dan bengkel. Namun, tetap saja, sebagian besar adalah untuk rumah tinggal, meski kebanyakan dalam kondisi sangat tidak layak huni.

Di sempadan Sungai Ciliwung banyak pula ditemukan bangunan-bangunan ala kadarnya yang digunakan untuk kandang unggas, seperti ayam dan merpati. Dengan adanya fenomena flu burung sekarang, keberadaan unggas yang dipelihara di pinggir Ciliwung tentu saja sangat mengkhawatirkan.

Keteraturan diabaikan

Ciliwung menjadi urat nadi kehidupan di Jakarta. Sebelum tahun 1985, sumber airnya pernah dijadikan bahan baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Jakarta. Tetapi, kian hari keteraturan kian diabaikan.

Pembuangan limbah serta sampah yang menimbulkan pencemaran sungai tak mudah lagi dibendung. Setiap aparat pemerintah, baik pusat maupun di tingkat DKI Jakarta, tidak mampu secara tegas menegakkan peraturan yang ada.

Seperti ketika menyusuri Jalan Inspeksi Banjir Kanal Barat Ciliwung dari Pejompongan menuju Pluit, banyak ditemui warga dengan seenaknya membuang sampah ke sungai. Di pinggir banjir kanal barat yang sudah dibeton pun tak jarang menampakkan tumpukan sampah. Bahkan, setiap hari ada pemulung yang memungut sampah-sampah terbuang yang dianggap masih bernilai ekonomis, taruhlah seperti kaleng, kertas, maupun botol-botol plastik.

Jalan “inspeksi” tentu saja diperuntukan sebagai jalur untuk menginspeksi kondisi banjir kanal. Akan tetapi, ketika badan jalan dipenuhi tumpukan sampah, fungsinya tentu tidak berjalan sebagaimana mestinya. Andaikan jalan “inspeksi” itu benar-benar difungsikan untuk menginspeksi keadaan yang ada di sekitarnya, seharusnya tumpukan sampah itu tidak akan pernah ada di badan sungai atau di banjir kanal tersebut.

Petaka akibat sampah dibuang di sungai terjadi di muara, yaitu di Teluk Jakarta. Sampah pun akhirnya tersebar ke laut, meski gelombang laut pun mengembalikan sebagian sampah ke pantai.

“Seperti Pantai Ancol, setiap memasuki musim hujan selalu penuh dengan sampah,” kata Dirut PT Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya Sumadi.

Budi memiliki pengalaman menarik ketika suatu saat menerima tamu, seorang gubernur dari Tokyo, Jepang. Ia sempat bertanya kepada sang tamu, bagaimana cara membersihkan sungai dan pantai di Jakarta dari sampah-sampah. Jawaban yang ia peroleh dari sang gubernur, “Kalian harus kaya terlebih dahulu, baru sungai dan pantai bisa terbebas dari sampah.”

Sepertinya tidak ada hubungannya, tetapi boleh jadi justru jawaban itu ada benarnya. Bahwa, kesejahteraan akan meningkatkan kesadaran warga terhadap kelestarian lingkungan…. Nawa Tunggal

Sumber;http://digilib.ampl.or.id/detail/detail.php?row=6&tp=artikel&ktg=airminum&kd_link=&kode=1542

Maret 2007

Ciliwung, Dulu Paling Bersih di Dunia

Oleh: Djulianto Susantio; Kamis, 29 Maret 2007

Setiap kali banjir melanda Jakarta, orang selalu menghubungkannya dengan Sungai Ciliwung dan anak-anak sungainya. Sungai-sungai di Jakarta memang sudah dianggap merupakan tempat pembuangan sampah yang paling murah. Tanpa peduli dampaknya, pembuangan sampah terus saja terjadi, meskipun dari tahun ke tahun banjir yang melanda Jakarta makin menghebat.
Namun berbeda dengan keadaan pada masa kini, pada masa lampau Ciliwung merupakan sumber kehidupan utama masyarakat karena berbagai aktivitas dilakukan di sini, mulai dari keperluan rumah tangga sehari-hari hingga jalur perdagangan internasional. Ciliwung mulai berperan sejak zaman purba, ketika manusia prasejarah menghuni Jakarta.
Puncaknya, pada abad ke-15 dan ke-16 pelabuhan Sunda Kelapa di muara Ciliwung telah dikenal luas oleh pedagang-pedagang seantero Nusantara dan internasional. Orang-orang Belanda yang datang paling awal antara lain menulis, “Kota ini dibangun seperti kebanyakan kota-kota di Pulau Jawa. Sebuah sungai indah, berair jernih dan bersih, mengalir di tengah kota” (Hikayat Jakarta, 1988). Itulah Ciliwung pada awalnya.
Pelabuhan Sunda Kelapa dikatakan ramai didatangi pedagang, meskipun terbujur sepanjang satu atau dua kilometer di atas potongan-potongan tanah sempit. Namun setelah dibersihkan, Ciliwung menjadi lebar. Hal ini memungkinkan sepuluh buah kapal dagang dengan kapasitas sampai 100 ton, masuk dan berlabuh dengan aman di Sunda Kelapa.
Menurut arsip sejarah lain, air Ciliwung waktu itu mengalir bebas, tidak berlumpur, dan tenang. Meskipun gempa-gempa besar sempat mengacaukan aliran pembuangan air, Ciliwung tidak seberapa tercemar. Karena itu, banyak kapten kapal masih singgah untuk mengambil air segar yang cukup baik untuk diisikan ke dalam botol-botol dan guci-guci mereka.
Sejak kedatangan bangsa Belanda, Batavia (nama pengganti Sunda Kelapa) dibangun seperti tata letak kota-kota di Belanda, yakni berupa tembok kota, parit, dan berderet-deret rumah. Dengan demikian, menurut Jean-Baptiste Tavernier sebagaimana dikutip van Gorkom, Ciliwung memiliki air yang paling bersih dan paling baik di dunia (Persekutuan Aneh, 1988).

Bencana dan Saling Tuding
Tidak berlebihan kalau ketika itu Batavia mendapat julukan “Ratu dari Timur”. Banyak pendatang asing menyanjung tinggi, bahkan menyamakannya dengan kota di negara-negara di Eropa.
Pada saat dibangun Belanda, kota itu berbentuk bujur sangkar dengan panjang kira-kira 2.250 meter dan lebar 1.500 meter. Ciliwung membelah kota ini dengan hampir sama besar pada kedua sisinya.
Masing-masing bagian dipotong lagi oleh parit-parit yang saling sejajar dan saling melintang. Jaringan jalan juga dibangun sehingga penampang kota berpola kisi-kisi. Pola seperti inilah yang dipandang mampu melawan amukan air di kala laut pasang dan banjir di dalam kota karena air akan menjalar terkendali melalui parit ke segala penjuru. Itulah kota tua Jakarta yang biss kita lihat seputar Stasiun Kota..
Pada 1699 Gunung Salak di Jawa Barat meletus. Dampaknya sangat buruk. Iklim di Batavia menjadi kelam, kabut menggelantung rendah dan beracun, parit-parit tercemar, dan penyakit-penyakit aneh bermunculan. Batavia pun berganti julukan menjadi “Kuburan dari Timur”, bukan lagi “Ratu dari Timur”. Sejak itu, Ciliwung mulai kotor.
Seperti halnya pemerintahan zaman sekarang, dulu pun banyak pihak saling tuding Mereka bukannya memasalahkan kebijakan pemerintahan VOC sendiri, tetapi menuding pendahulu-pendahulunya. Mereka menilai bahwa kota salah dibangun karena meniru mentah-mentah kota di Belanda.
“Batavia adalah kota bercorak tropis. Berbeda jauh dengan Belanda yang memiliki empat musim,” begitu kira-kira kata para penentang. Sebagian lagi menduga, bencana ekologi itu disebabkan oleh kepadatan penduduk. Batavia memang semula dirancang sebagai kota dagang. Karenanya, banyak pendatang kemudian menetap secara permanen di sini.
Sebagai kota dagang, tentu Batavia mempunyai magnet kuat. Segera, lingkungan alam Batavia mengalami perubahan fundamental setelah berbagai daerah di sekitarnya dibersihkan dari hutan-hutannya untuk membudidayakan tanaman tebu. Ternyata, budi daya itu juga mencemari air dan menanduskan tanah, apalagi berbagai pabrik gula sangat membutuhkan kayu bakar yang demikian banyak jumlahnya. Karena terletak di dekat sungai, pabrik-pabrik gula itu ikut menyokong pencemaran air bersih di Batavia, sekaligus mengurangi daerah resapan air.

Hutan Ditebangi
Dalam penelitian tahun 1701 terungkap bahwa daerah hulu Ciliwung sampai hilir di tanah perkebunan gula telah bersih ditebangi. Sebagai daerah yang terletak di tepi laut, tentu saja Batavia sering kali kena getahnya. Kalau sekarang Jakarta hampir selalu mendapat “banjir kiriman” dari Bogor, dulu “lumpur kiriman” dari Cirebon bertimbun di parit-parit kota Batavia setiap tahunnya.
Pada awal abad ke-19, Batavia tidak lagi merupakan benteng kuat dan kota berdinding tembok. Karenanya, pada awal abad ke-20 Batavia sudah menjadi kota yang berkembang dengan penduduk berjumlah 100.000 orang. Dalam beberapa tahun saja, penduduk kota sudah meningkat menjadi 500.000 orang.
Adanya nama-nama tempat yang berawalan hutan, kebon, dan rawa setidaknya menunjukkan dulu Jakarta merupakan kawasan terbuka. Sayang, kini sudah berubah menjadi kawasan tertutup (tempat hunian).
Begitu pula adanya wilayah yang berawalan kampung. Dulu istilah kampung mengacu pada sederetan daerah permukiman orang-orang pribumi yang terletak jauh di luar jalan-jalan aspal. Sanitasi di kampung tidak bagus karena banyak warga membuang hajat dan sampah sembarangan di parit atau got.
Dalam musim hujan banyak kampung kebanjiran, meskipun air banjir itu tidak dalam dan kotor. Baru kemudian ketika jumlah penduduk semakin meningkat, air kali sekaligus air banjir menjadi sangat kotor.
Banjir besar mulai melanda Jakarta pada 1932. Banjir itu merupakan siklus 25 tahunan, penyebabnya waktu itu adalah turun hujan sepanjang malam pada 9 Januari. Hampir seluruh kota tergenang.
Di Jalan Sabang, sebagai daerah yang nomor satu paling parah, ketinggian air mencapai lutut orang dewasa. Banyak warga tidak bisa keluar rumah, kecuali mereka yang beruntung memiliki perahu (Jakarta Tempo Doeloe, 1989).
Siklus 25 tahunan terulang kembali pada awal Februari 2007 lalu. Semakin banyaknya pendatang tentu semakin banyak tumbuh permukiman warga. Bertambah pula buangan sampah mereka ke kali. Semakin tertutupnya daerah resapan air oleh pemukiman, membuat banjir semakin meninggi. Begitu pula semakin buruknya sanitasi, semakin merebak sumber penyakit.

Penulis adalah seorang arkeolog, tinggal di Jakarta.  Copyright © Sinar Harapan 2003

Sumber: http://64.203.71.11/kompas-cetak/0308/02/metro/468046.htm

Written by airsungaikelassatu2020

November 21, 2008 at 1:09 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: